[비즈한국] Bagi masyarakat modern, hampir setiap orang pasti menanggung beban nyeri kronis di suatu bagian tubuhnya. Pergi ke rumah sakit untuk berobat pun tidak membuahkan hasil. Setiap rumah sakit memberikan diagnosis dan resep yang berbeda-beda. Meski sudah mencoba berbagai pengobatan dan obat-obatan, kondisi terasa membaik sesaat namun kambuh lagi tak lama kemudian. Informasi mengenai nyeri berlimpah di TV, YouTube, dan buku. Namun, mengapa solusi untuk membebaskan diri dari rasa nyeri begitu sulit ditemukan?

‘Pembebasan Nyeri Melalui Latihan Irama karya Hong Jeong-gi’ adalah solusi nyeri kronis yang disampaikan oleh pakar kedokteran olahraga. Penulis, Dr. Hong Jeong-gi, adalah pakar rehabilitasi dan pengkondisian yang telah menangani atlet papan atas kelas dunia seperti Kim Min-jae, Ki Sung-yueng, dan Yun Sung-bin. Ia meraih gelar doktor dalam bidang ilmu olahraga di Oregon State University, AS, dan diangkat sebagai satu-satunya profesor Korea di Willamette University, AS, di mana ia menerima penghargaan ‘Professor of the Year’. Latar belakangnya menjadi pelatih rehabilitasi berawal dari seringnya ia mengalami cedera saat menjadi atlet angkat besi nasional remaja. Ia memiliki pengalaman luas di bidang klinis, akademik, dan lapangan, serta telah menetapkan paradigma baru yang disebut ‘pemulihan gerak’ dalam bidang kedokteran olahraga di Korea.
Solusi yang ditawarkan penulis untuk nyeri kronis adalah ‘latihan irama’. Intinya adalah kita harus menggerakkan tubuh kembali mengikuti aliran alami tubuh yang berputar, terhubung, dan rileks, yaitu ‘irama’. Nyeri kronis sulit ditemukan penyebabnya, dan ada kalanya nyeri tidak hilang meski tidak ada kelainan khusus pada tubuh. Ketika ingatan tentang rasa sakit saat melakukan gerakan tertentu menumpuk, muncul fobia gerak (kinesiofobia), dan rasa takut itu membuat tubuh menegang secara berlebihan, sehingga otot-otot yang seharusnya tidak digunakan pun ikut bekerja paksa. Akibatnya, irama gerak terganggu dan ‘sirkuit nyeri’ menetap di otak. Penulis mengatakan bahwa nyeri kronis adalah sirkuit nyeri yang tertanam di otak, sehingga olahraga berat yang menstimulasinya justru akan berdampak buruk. Ia menyarankan untuk mengurai sirkuit nyeri tersebut dengan gerakan kecil yang diizinkan oleh otak dan latihan irama di mana berbagai bagian tubuh bergerak bersamaan.
Oleh karena itu, latihan irama dimulai dengan gerakan kecil yang menenangkan otak. Tidak boleh memaksakan diri atau membuat otot sakit. Kuncinya adalah bergerak secara ritmis dalam batas yang tidak menimbulkan rasa sakit agar otak dapat menerimanya tanpa penolakan. Begitu otak mulai merasa tenang karena tidak ada rasa sakit, cakupan gerakan pun diperluas.
Latihan irama memiliki 4 prinsip. Pertama, tidak boleh ada rasa sakit saat berolahraga. Jika tubuh terasa sakit saat berolahraga, berarti caranya salah. Pemulihan dimulai dengan mengatur ulang ingatan nyeri di otak. Kedua, harus tetap merasa nyaman setelah berolahraga. Karena latihan irama adalah ‘pembelajaran ulang’, bukan ‘stimulasi’. Ketiga, harus bergerak dengan melemaskan otot. Anda perlu bergerak dengan lembut dan perlahan agar tubuh tidak menolak, sehingga ketegangan pun hilang. Keempat, harus memicu koordinasi tubuh melalui gerakan yang terhubung. Nyeri bahu terjadi karena koordinasi antara leher dan belikat menurun. Bukan hanya menggerakkan satu bagian saja, tetapi pastikan seluruh bagian yang terhubung bergerak secara harmonis untuk menemukan kembali irama.
Buku ini memandu metode latihan irama secara rinci dengan membaginya menjadi leher/bahu, punggung bawah, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki/telapak kaki. Buku ini juga mengajarkan latihan untuk mencegah kekambuhan setelah nyeri hilang.