주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Kolom Desk
Saya Meminta Maaf kepada Coupang

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Saya harus mulai dengan meminta maaf kepada Coupang. Saya menulis kolom yang tidak perlu (artikel terkait [Kolom Desk] Insiden kebocoran informasi pribadi 33,7 juta pengguna Coupang “bukan masalah besar”). Saya menulis bahwa itu “bukan masalah besar” dan “pada akhirnya akan berlalu dengan tenang.” Tulisan tersebut mungkin secara tidak sengaja telah menenangkan Coupang. Ada kemungkinan hal itu memperkuat penilaian mereka bahwa ini adalah insiden yang dapat dikelola dan hanya perlu bertahan sebentar saja. Saya tidak tahu di bagian mana di dalam Coupang artikel itu dibagikan, namun jika seseorang yang memiliki otoritas berpikir demikian, sulit bagi saya untuk menghindari tanggung jawab atas kolom tersebut.

Ada pepatah yang mengatakan “Sesuatu yang bisa dicegah dengan cangkul kecil, akhirnya harus dicegah dengan sekop besar.” Saat ini, Coupang menghadapi situasi yang sulit diatasi bahkan dengan ekskavator. Banyak pihak menunjuk arogansi Ketua Kim Bom-suk sebagai penyebab masalah ini membesar. Foto=AI Generatif
Ada pepatah yang mengatakan “Sesuatu yang bisa dicegah dengan cangkul kecil, akhirnya harus dicegah dengan sekop besar.” Saat ini, Coupang menghadapi situasi yang sulit diatasi bahkan dengan ekskavator. Banyak pihak menunjuk arogansi Ketua Kim Bom-suk sebagai penyebab masalah ini membesar. Foto=AI Generatif

Tentu saja, satu kolom tidak bisa menentukan strategi respons krisis perusahaan besar seperti Coupang. Namun, saya salah mengira bahwa saya sudah sangat akrab dengan cara masyarakat Korea mengonsumsi berita tentang insiden kebocoran data pribadi. Insidennya besar, responsnya biasa saja, dan opini publik cepat mereda. Selalu seperti itu. Jadi, saya pikir kali ini pun akan sama.

Kebocoran informasi pribadi itu sendiri memang masih bukan masalah besar. Meskipun angka 33,7 juta itu besar, angka yang besar tidak selalu berarti masalahnya akan menjadi besar. Masalahnya bukan terletak pada insiden itu sendiri, melainkan pada cara penanganannya. Kini, di benak publik dan konsumen, insiden kebocoran data pribadi sudah memudar. Sebaliknya, posisi itu diisi oleh ‘arogansi’ Kim Bom-suk, CEO yang menyebut dirinya sebagai pemimpin perusahaan global.

Sesuai dengan panduan manajemen krisis standar, Ketua Kim seharusnya hadir di Majelis Nasional untuk menundukkan kepala dan meminta maaf. Terlepas dari ketulusannya, menundukkan kepala dan berulang kali mengatakan maaf adalah “adegan tipikal” dari perusahaan besar yang memberikan alasan bagi konsumen untuk memaafkan. Majelis Nasional bukanlah pengadilan yang menjatuhkan vonis. Itu adalah tempat di mana pandangan masyarakat yang ingin melihat wajah seseorang yang bertanggung jawab berada. Ada alasan mengapa pemilik perusahaan besar yang jauh lebih raksasa dari Coupang tetap memilih untuk menundukkan kepala.

Ketua Kim Bom-suk, yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, menganggap remeh masyarakat Korea. Sejak saat inilah sifat masalah ini berubah 180 derajat. Sekarang, perasaan yang tersisa bagi konsumen Korea bukanlah ‘kecemasan’ akibat kebocoran data, melainkan ‘ketidaksukaan’ terhadap perusahaan bernama Coupang. Tepatnya, ketidaksukaan atas betapa Coupang menganggap remeh kekuasaan politik dan sistem negara Korea, serta lebih jauh lagi, menganggap remeh konsumen Korea.

Ketua Kim menolak hadir di Majelis Nasional dengan alasan tugas global. Namun, 90% pendapatan Coupang berasal dari Korea. Pusat logistik, pekerja, dan konsumen yang menjadi korban semuanya berada di Korea. Perusahaan yang keberlangsungan hidupnya mustahil tanpa pasar Korea ini tiba-tiba mengenakan topeng “perusahaan global” hanya saat diminta bertanggung jawab. Apa yang disebut “globalisme selektif”—menjadi perusahaan Korea saat mencari uang, namun menjadi perusahaan global saat harus bertanggung jawab—hanya terlihat sebagai penipuan di mata orang Korea. Bahkan, langkah menggunakan manajer asing yang tidak fasih berbahasa Korea sebagai pengganti adalah keputusan terburuk.

Majelis Nasional adalah ruang yang menganggap penghindaran terencana seperti ini sebagai penghinaan terbesar. Serangan bertubi-tubi yang terjadi saat ini lebih merupakan reaksi terhadap perasaan diremehkan oleh satu perusahaan, daripada sekadar kemarahan atas kebocoran data pribadi. Respons berlebihan yang bahkan menyebutkan soal larangan masuk negara adalah kelanjutan dari pembalasan emosional ini.

Dari mana datangnya kepercayaan diri Ketua Kim Bom-suk? Itu adalah posisi monopoli Coupang di pasar Korea. Konsumen merasa tidak tenang saat menggunakan Coupang. Karena tidak ada alternatif lain yang memiliki pengiriman pagi hari sekaligus daya saing harga, konsumen tahu betul bahwa meskipun mereka tidak puas, mereka akhirnya harus membuka aplikasi Coupang lagi. Keyakinan inilah yang membuat Ketua Kim melakukan kesalahan penilaian dengan berpikir, “Meskipun saya tidak muncul dan tidak memberikan penjelasan, konsumen tidak akan pergi.”

Monopoli selalu berakhir dengan cara yang sama. Jika pengawasan pasar tidak berjalan, akhirnya politiklah yang akan turun tangan. Inilah alasan mengapa politisi dari partai berkuasa maupun oposisi di Majelis Nasional kini bersuara bulat. Ada “ketakutan terhadap platform” yang tersebar, di mana platform bernama Coupang telah menjadi terlalu besar dan tak tergantikan. Begitu konsensus politik yang mengatakan “sekarang harus ditindak” terbentuk, kemungkinan besar Coupang akan membayar harga yang lebih mahal dari sebelumnya.

Yang terpenting, Coupang dan Ketua Kim Bom-suk telah mengabaikan kesopanan minimal yang dituntut oleh masyarakat Korea. Sudah tak terhitung kasus di mana perusahaan yang dulunya dianggap tak tersentuh di pasar akhirnya diadili oleh keputusan politik dan publik. Ini adalah peringatan keras bukan hanya bagi Coupang, tetapi bagi semua platform monopoli. Harga dari meremehkan Korea sambil mencari uang di Korea selalu jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
봉성창 기자

기업이 말하는 성장의 언어와 그 뒤에 놓인 현실의 간극을 집요하게 들여다보고 있습니다. 산업 현장의 변화는 숫자만으로 설명되지 않습니다. 투자와 고용, 기술과 규제, 혁신과 책임이 충돌하는 지점에서 비로소 기업의 진짜 얼굴이 드러납니다. 그 균열을 놓치지 않고, 복잡한 산업 이슈를 독자가 납득할 수 있는 맥락으로 풀어내는 일을 해왔습니다. 빠르게 흘러가는 시장의 소음 속에서도 끝까지 물어야 할 질문을 붙들고, 비즈한국 산업팀만의 날카롭고 균형 잡힌 시선으로 산업의 현재와 다음을 기록하겠습니다.

bong@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지