[비즈한국] Proyek Dukungan Seni Korea, yang dimulai sebagai inisiatif untuk mendukung para seniman sepenuhnya, telah berjalan selama 10 tahun. Dengan tetap menjaga semangat awal, kami telah mendukung sekitar 230 seniman. Ini adalah upaya satu-satunya yang belum pernah dicoba oleh media, organisasi budaya, atau lembaga negara mana pun di Korea. Kami bangga bahwa keteguhan selama 10 tahun itu kini telah terukir sebagai sebuah nilai dalam kancah seni Korea abad ke-21. Oleh karena itu, muncul penilaian bahwa 'sejarah 10 tahun Proyek Dukungan Seni Korea telah menjadi salah satu titik pandang untuk mengamati aliran seni kontemporer Korea'. Kini, di Musim ke-11, kami akan merintis jalan lain bagi seni Korea.

Akhir tahun 1990-an adalah pertama kalinya saya pergi ke Paris. Saat itu dingin dan sinar matahari terasa pelit. Pukul 7 pagi, jalanan masih diselimuti kegelapan. Saya membuka pintu toko roti yang menggoda indra penciuman dengan aroma roti yang gurih. Saya berpikir, karena sudah di Paris, saya harus mencoba baguette yang baru dipanggang.
Di sana, saya bertemu dengan sosok Parisian yang hanya pernah saya lihat di buku. Usianya tampak mendekati tujuh puluh tahun. Rambut peraknya yang disisir rapi tampak serasi dengan topi fedora berwarna sepia, dan kacamata berbingkai logam tipis berwarna emas membuat usianya tampak tidak relevan. Kumisnya yang lebat terlihat sangat terawat dan rapi. Ia mengenakan kemeja putih bersih dengan dasi berwarna ungu kebiruan, syal merah terang yang mencolok, dan setelan jas berwarna biru tua. Sepatu cokelat tuanya pun tampak mengkilap seperti baru saja disemir. Selera busananya yang terencana dengan baik terasa sesegar udara pagi musim dingin di Paris. Ia ditemani seekor anjing peliharaan yang berbulu keemasan, dan ia baru saja membeli baguette hangat.
Saat mata kami bertemu, ia memberikan senyuman lembut. Bersama dengan wangi parfum yang samar, sosok punggungnya meninggalkan kesan yang mendalam. Membuat penampilan saya yang acak-acakan setelah baru bangun dari tempat tidur hotel terasa begitu memalukan.
Seorang warga Paris yang mempersiapkan diri dengan sempurna bahkan untuk sekadar keluar rumah demi membeli roti sarapan. Bukankah pikiran yang memberi makna pada hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari dan menjalaninya dengan penuh tata krama inilah yang menjadikan Paris sebagai kota seni?


Jika ditelisik, kehidupan yang kita jalani hanyalah rangkaian dari hal-hal kecil. Orang biasa tinggal di apartemen yang hampir serupa dan menyambut pagi dengan pemandangan yang umum. Kita bertemu dengan orang yang sama dengan yang kita temui kemarin dan membicarakan hal-hal yang tidak terlalu istimewa. Pemandangan yang ditemui saat berjalan-jalan pun kemungkinan tidak jauh berbeda.
Jika kita memberikan nilai pada hal-hal kecil dan tampak tak berarti itu, kehidupan akan memiliki makna yang berharga. Seni agung yang mengubah sejarah pun bermula dari pola pikir seperti ini.
Seorang seniman dapat menemukan seni sejati juga bermula dari cara pandang terhadap kehidupan sehari-harinya sendiri. Hal ini hanya mungkin dilakukan jika kita melepaskan pemikiran sia-sia bahwa seni baru bernilai jika memuat pemikiran berat atau pergulatan zaman.

Sikap berkarya Park Sun-yeon juga bermula dari perasaan ini. Ia tinggal di daerah yang dekat dengan laut. Laut yang telah ia lihat sejak lama. Itulah materi dan subjek dari karya senimannya.
“Saya melihat laut setiap hari. Laut terlihat berbeda tergantung pada kondisi hati saya. Bisa dibilang, ekspresi laut yang mengambil porsi terbesar dalam keseharian saya adalah pusat dari karya saya. Lukisan saya adalah upaya untuk mengekspresikan berbagai ekspresi laut ini dengan cara saya sendiri.”
Lukisan Park Sun-yeon adalah karya yang memuat perasaan menghargai kehidupan sehari-harinya, keinginan untuk memberi makna di sana, dan membuatnya tampak berbeda.