주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Mil-Talk
"Kenapa Harus Pakai Tank yang Dibuang Marinir AS?" Keputusan Korps Marinir Korea Selatan Mengadopsi 'K2 Black Panther' Adalah Langkah Tepat

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Korps Marinir Korea Selatan akhirnya akan segera memiliki 'Tank K2 Black Panther'. Dengan dimasukkannya dana awal sebesar 1 miliar won untuk pengadaan tank K2 bagi Marinir dalam rancangan anggaran pertahanan 2026 yang sedang diperiksa oleh Majelis Nasional, proyek penggantian tank lama Marinir dengan total biaya sekitar 420 miliar won telah resmi dimulai. Tank K2 dikenal sebagai tank tempur utama Angkatan Darat Korea dan telah membuktikan kinerjanya melalui ekspor ke Polandia, serta dianggap sebagai salah satu tank terbaik di dunia, yang baru-baru ini juga menjadi topik utama dalam kerja sama pertahanan dengan Peru. Keputusan ini, yang dibuat sekitar 10 tahun setelah pengerahan K2 di Angkatan Darat pada tahun 2014, memiliki makna besar sebagai penyelesaian tugas yang sudah lama dinantikan oleh Korps Marinir.

Korps Marinir Korea Selatan masih harus menjalankan misi berbasis mekanis berat seperti pendaratan serbu dan pertahanan sisi barat pulau serta wilayah ibu kota. Tank K2 seberat 55 ton adalah platform yang paling cocok untuk dimuat di kapal pendarat dan bermanuver di medan sulit. Foto=Disediakan oleh Kim Min-seok
Korps Marinir Korea Selatan masih harus menjalankan misi berbasis mekanis berat seperti pendaratan serbu dan pertahanan sisi barat pulau serta wilayah ibu kota. Tank K2 seberat 55 ton adalah platform yang paling cocok untuk dimuat di kapal pendarat dan bermanuver di medan sulit. Foto=Disediakan oleh Kim Min-seok

Sebagai Pasukan Manuver Strategis (Strategic Mobile Force), Korps Marinir diklasifikasikan sebagai kekuatan elit di berbagai negara seperti AS, Inggris, dan Thailand. Namun, terlepas dari statusnya yang tinggi, prioritas pasokan peralatannya selalu berada di urutan kedua setelah Angkatan Darat. Korps Marinir mengoperasikan tank M47 peninggalan pasca-Perang Korea untuk waktu yang lama, dan tank utama saat ini, yaitu K1, juga sudah berusia lebih dari 30 tahun sehingga kondisinya sudah sangat usang.

Akan tetapi, beberapa pihak mengkritik pengadaan tank K2 ini dengan mempertanyakan, "Mengapa harus mengadopsi tank yang bahkan sudah ditinggalkan oleh Marinir AS?" Memang benar, berdasarkan rencana 'Force Design 2030', Korps Marinir AS telah mempensiunkan seluruh tank M1A1 Abrams sejak tahun 2020 dan sedang bertransformasi menjadi unit yang lebih ringan dengan fokus pada drone dan rudal.

Namun, argumen ini mengabaikan perbedaan lingkungan medan perang. Reformasi Marinir AS dioptimalkan untuk 'Expeditionary Advanced Base Operations' (Operasi Pangkalan Maju Ekspedisi) dengan asumsi konflik dengan Tiongkok, yang menitikberatkan pada mobilitas untuk keluar-masuk pulau-pulau kecil di Pasifik. Sebaliknya, misi utama Korps Marinir Korea tetaplah 'Pendaratan Serbu (Amphibious Assault)' untuk menerobos pertahanan musuh yang kokoh guna mengamankan pijakan, serta mempertahankan sisi ibu kota.

Khususnya, wilayah pulau barat laut serta Gimpo dan Ganghwa adalah garis depan yang berhadapan langsung dengan pasukan mekanis Korea Utara. Di saat Korea Utara baru-baru ini meluncurkan tank baru 'M2020' untuk memperkuat kekuatan lapis bajanya, merespons dengan tank tua yang usang dapat menciptakan celah fatal bagi pertahanan ibu kota. Mengingat nilai strategis satu divisi Marinir yang dapat memancing dan memecah pasukan utama musuh ke arah belakang melalui operasi pendaratan dalam keadaan darurat, tank K2 dengan daya hantam yang kuat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan.

Memang benar bahwa dengan kondisi perang modern dan peningkatan persenjataan Korea Utara yang berkelanjutan, tantangan bagi Marinir Korea untuk melakukan operasi pendaratan tingkat divisi di belakang garis musuh dalam masa perang sangatlah besar. Terutama karena Korea Utara mengancam kita dengan rudal anti-kapal jarak jauh, rudal tipe Spike NLOS versi Korea Utara, dan drone bunuh diri terbaru yang menyasar tank K2.

Namun, jika kita menyerah pada misi hanya karena ancaman meningkat, kekuatan invasi Korea Utara di bawah konsep operasi saat ini bisa menjadi lebih kuat dari sebelumnya, sehingga Seoul, ibu kota yang dekat dengan garis gencatan senjata, berisiko tinggi jatuh lebih cepat ke tangan kekuatan besar musuh. Oleh karena itu, kita tidak bisa meninggalkan operasi pendaratan serbu tanpa alternatif. Sekecil apa pun keunggulan konsep perang masa depan, jika tidak berpijak pada realitas, maka konsep itu tidak ada nilainya dibandingkan taktik masa lalu yang usang.

Selain itu, dari segi performa, tank K2 sangat optimal untuk Marinir Korea. Tank M1A1 milik AS memiliki berat hampir 70 ton, yang membuatnya sulit untuk dimuat di kapal pendarat dan dibatasi saat bermanuver di medan lumpur Korea. Sebaliknya, tank K2 seberat 55 ton lebih mudah dimuat di kapal pendarat masa depan Angkatan Laut kita (LST-II), dan memiliki kemampuan menembus medan sulit yang unggul berkat sistem suspensi hidro-pneumatik. Ini memberikan daya tembak dan perlindungan yang melampaui tank ringan ZTD-05 milik Korps Marinir Tiongkok maupun tank baru Korea Utara.

Namun, pengadaan ini tidak boleh berhenti sekadar pada 'penggantian alat'. Sebagaimana terbukti dalam Perang Ukraina dan konflik Timur Tengah baru-baru ini, langkah pencegahan terhadap drone dan rudal anti-tank yang mengancam kelangsungan hidup tank sangatlah penting. Oleh karena itu, tank K2 untuk Marinir juga harus dilengkapi dengan RCWS dan APS (Active Protection System) tipe *hard-kill*, mirip dengan varian ekspor Polandia (K2PL), agar dapat melindungi diri dari serangan drone musuh.

Lebih lanjut, penulis mengusulkan pengadaan peluru kendali 'Vulcano 120mm' dari Leonardo, Italia, atau pengembangan peluru kendali dalam negeri yang setara. Teknologi ini, yang secara drastis meningkatkan jarak tembak meriam tank (dari sekitar 3 km) hingga mampu menghantam target secara presisi dari jarak 30 km, akan menjadi 'pengubah permainan' (game changer) bagi Marinir dalam melumpuhkan artileri pantai atau pangkalan rudal musuh dari jarak jauh. Hal ini tidak hanya meningkatkan peluang hidup tank Marinir, tetapi juga dapat menghilangkan elemen ancaman terhadap pasukan pendarat dengan lebih cepat dan presisi dibandingkan dukungan meriam kapal atau bantuan udara.

Memang jelas bahwa status tank dalam perang modern telah berubah dibandingkan masa lalu. Namun, dalam lingkungan keamanan Korea, Korps Marinir tanpa tank hanyalah 'macan ompong'. Diharapkan pengadaan tank K2 bagi Marinir ini menjadi tonggak baru menuju 'Unit Mekanis Marinir tipe Korea' yang melampaui sekadar penguatan kekuatan. Semoga kita bisa segera melihat para Marinir yang menunggangi Black Panther, perisai paling kokoh yang menghalangi provokasi Korea Utara dan melindungi rakyat.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민석 한국국방안보포럼 연구위원

김민석은 미국 워싱턴에 본사를 둔 에비에이션 위크(Aviation Week)의 한국 특파원이자 한국국방안보포럼(KODEF) 연구위원. 국방일보 등 여러 매체에서 방위산업·국방 전문기자로 활동하고 있다. ‘달란트 투자’, ‘신사임당’, ‘경제한방’, ‘증시각도기’, ‘와이스트릿’ 등 경제·시사 유튜브 채널과 KFN TV ‘리얼웨폰 K’, ‘디펜스 프라임’에 출연해 국제정치와 방위산업 현안을 진단해왔다. 저서로 방위산업 투자 안내서 ‘K-방산에 투자하라’가 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지