[비즈한국] Ada sebuah perusahaan bernama 'Anduril Industries' yang dikenal sebagai bintang baru di industri pertahanan AS, sekaligus perusahaan saudara dari 'Palantir', perusahaan data besar yang familiar bagi investor domestik yang disebut 'Seohak-gaemi' (investor individu yang berinvestasi di saham luar negeri).
Jika Palantir adalah 'penglihatan jauh yang menembus dunia' seperti dalam novel The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien, maka Anduril adalah 'pedang yang diayunkan oleh sang raja'. Kedua perusahaan ini, yang investasi awalnya dipelopori oleh Peter Thiel, tumbuh dengan membagi bidang perangkat lunak dan perangkat keras sesuai dengan nama mereka. Khususnya, Anduril telah memantapkan posisinya sebagai simbol 'unicorn industri pertahanan' dengan pengakuan nilai perusahaan yang mencapai triliunan won meskipun masih merupakan perusahaan tertutup.

Namun, belakangan ini lampu peringatan menyala di sekeliling Anduril. Pendiri yang jenius dan eksentrik, Palmer Luckey—yang sering muncul di acara resmi dengan kemeja Hawaii dan sandal sambil menikmati anime Jepang—sedang terlibat perselisihan sengit dengan media asing utama seperti Wall Street Journal (WSJ). Melalui media sosial, ia melontarkan kritik pedas kepada media dan analis, dengan mengatakan, "Mereka mengabaikan penundaan pengiriman kronis dan pembengkakan biaya dari perusahaan pertahanan besar yang sudah mapan, tetapi hanya membesar-besarkan beberapa kesalahan kecil yang terjadi selama proses pengembangan startup."
Di balik reaksi keras ini terdapat keraguan yang terus bermunculan mengenai keandalan sistem persenjataan Anduril. Inti dari kontroversi ini adalah cacat teknis yang terungkap di medan perang Ukraina dan selama proses pengujian militer AS.
Menurut laporan, drone kecil 'Altius 600' dan drone pengintai 'Ghost-X' yang dipasok oleh Anduril ke militer Ukraina menunjukkan kerentanan terhadap serangan peperangan elektronik (EW) dan gangguan GPS yang kuat dari militer Rusia. Akibatnya, militer Ukraina dilaporkan telah menghentikan atau membatasi pengoperasian Altius di beberapa garis depan sejak tahun 2024.
Hasil pengujian di daratan Amerika Serikat juga menimbulkan kekhawatiran. Selama latihan yang dilakukan Angkatan Laut AS di perairan California pada Mei 2025, terjadi insiden di mana 12 kapal permukaan tak berawak (USV) buatan Anduril kehilangan kendali. Situasi menegangkan sempat terjadi saat kapal-kapal tersebut hanyut dan nyaris bertabrakan dengan kapal lain. Lebih buruk lagi, pesawat tempur tak berawak (CCA) calon armada Angkatan Udara AS, YFQ-44 'Fury', mengalami kerusakan mekanis akibat masuknya benda asing selama tes mesin di darat, sementara drone pencegat 'Anvil' jatuh di tempat pengujian Oregon dan menyebabkan kebakaran yang menghanguskan sekitar 22 ekar (sekitar 89.000㎡) lahan.
Serangkaian insiden ini berakar pada metode pengembangan 'Agile' yang khas dari Anduril. Berbeda dengan metode tradisional yang masuk ke tahap produksi setelah desain sempurna selesai, Anduril bersikeras pada metodologi ala Silicon Valley, yakni 'membuat dengan cepat, mengumpulkan data melalui kegagalan, dan melakukan perbaikan segera'. Palmer Luckey berdalih bahwa kegagalan tersebut adalah "bagian dari proses pengembangan yang disengaja dan biaya pembelajaran yang penting", namun kritik muncul bahwa perang kecepatan yang tidak menjamin 'keselamatan' dan 'keandalan' dalam sistem persenjataan yang berhubungan langsung dengan nyawa manusia adalah hal yang berbahaya.
Masalahnya, isu yang menimpa Anduril bukanlah urusan orang lain. Hal ini karena perusahaan-perusahaan utama dalam industri pertahanan Korea Selatan saat ini terhubung erat dengan Anduril. HD Hyundai Heavy Industries329180 sedang mendorong pengembangan kapal permukaan tak berawak modular kecil bekerja sama dengan Anduril, dan juga mendiskusikan kerja sama teknis dalam proyek kapal permukaan tak berawak besar, 'Modular Attack Surface Craft (MASC)'. Korean Air003490 juga sedang menjajaki penerapan teknologi perangkat lunak AI Anduril pada pesawat tempur tak berawak murah dan rudal jelajah 'Ground-Launched Barracuda (SLB-500)'.
Kabar baiknya adalah Anduril sedang memperkuat kemitraan dengan negara-negara Asia yang memiliki kemampuan manufaktur mumpuni untuk menepis kontroversi keandalan ini. Menyusul militer Taiwan yang memulai pelatihan drone Altius bulan lalu, Palmer Luckey memperluas langkahnya dengan mengunjungi Jepang pada 4 Desember untuk bertemu dengan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi.
Hal ini memberikan implikasi besar bagi industri pertahanan Korea. Kerja sama antara Anduril dan perusahaan Korea diperkirakan akan melampaui sekadar tahap nota kesepahaman (MOU) dan memasuki tahap pengembangan bersama (Joint-Development) mulai tahun depan. Kekhawatiran akan keandalan yang diangkat di AS justru bisa menjadi peluang bagi perusahaan Korea. Jika perusahaan pertahanan Korea menyediakan 'keandalan manufaktur' dan 'kemampuan produksi massal' tingkat dunia, dan sebaliknya menyerap 'teknologi penerbangan otonom AI' serta kemampuan 'pembuatan prototipe cepat' yang unik milik Anduril, maka kedua belah pihak dapat menjadi mitra strategis yang saling melengkapi kekurangan satu sama lain.
Palmer Luckey menegaskan, "Memperlambat kecepatan adalah apa yang diinginkan oleh pesaing, dan itu adalah cara untuk merusak senjata yang hemat biaya." Filosofinya inovatif, namun kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa di medan perang, cacat kecil bisa menjadi senjata mematikan yang mengancam pasukan sendiri. Jika Anduril bergandengan tangan dengan pengetahuan manufaktur yang kuat dari industri pertahanan Korea, mereka akan mampu memasang sayap 'kepercayaan yang tak tergoyahkan' pada 'kecepatan luar biasa' yang mereka kejar.