주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Laporan K-Culture
'Karya Kreatif AI' yang Membanjir, Harus Ada Batas Minimal yang Dijaga

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Kini, kasus di mana kecerdasan buatan (AI) menciptakan karya seni atau konten budaya sudah menjadi hal yang lumrah, dan respons terkejut terhadap hal tersebut pun mulai jarang terjadi. Hal yang perlu kita perhatikan adalah bahwa meskipun karya atau kontennya sama, minat dan preferensi terhadap karya tersebut akan berbeda tergantung pada siapa yang membuat atau menciptakannya.

AI를 활용해 책 수천 권을 뚝딱 만들어도 이를 밝힐 법적 의무가 없다. 그러나 최소한 저자가 사람인지 아닌지는 독자에게 알려줘야 한다. 사진=pixabay/생성형 AI
Meskipun ribuan buku dapat dibuat dengan cepat menggunakan AI, tidak ada kewajiban hukum untuk mengungkapkannya. Namun, setidaknya pembaca harus diberi tahu apakah penulisnya adalah manusia atau bukan. Foto=pixabay/AI Generatif

Tim peneliti dari Departemen Linguistik Universitas Charles, Ceko, melakukan survei terhadap 126 penutur asli bahasa Ceko dengan menyandingkan puisi yang ditulis manusia dan puisi yang ditulis AI, lalu menanyakan puisi mana yang terasa seperti ditulis oleh manusia; tingkat keberhasilan jawabannya hanya 45,8%. Angka ini lebih rendah dari 50% yang merupakan hasil jika menebak secara acak. Untuk puisi modern, tingkat keberhasilannya bahkan lebih rendah, yaitu 40,2%. Ini berarti AI bisa menulis puisi modern dengan lebih meyakinkan daripada manusia. Dalam tes buta, puisi yang ditulis AI mendapat skor rata-rata 2,0 poin, sedangkan puisi karya manusia hanya 1,4 poin. Ini juga menunjukkan bahwa puisi karya AI justru memiliki peluang lebih besar untuk disukai orang daripada karya manusia. Singkatnya, lebih mudah diterima. Namun, ketika identitas penulis diungkap, skornya berubah. 'Karya manusia' mendapat 2,3 poin, sementara 'karya AI' hanya 1,0 poin. Dalam kategori 'imajinasi', selisihnya melebar, di mana karya manusia mendapat 2,5 poin dan karya AI 1,6 poin.

Hasil serupa juga ditemukan dalam survei terkait musik. Menurut survei yang dilakukan Deezer, layanan streaming musik asal Prancis, terhadap 9.000 orang di 8 negara, masyarakat tidak bisa membedakan antara musik AI dan musik yang diciptakan manusia. Sebanyak 97% responden tidak dapat membedakannya dan hanya 3% yang berhasil. Namun, tingkat kepercayaannya sangat rendah. Hanya 19% yang memercayai musik AI. Lebih jauh lagi, 51% menilai musik tersebut klise atau berkualitas rendah.

Namun, ketika nantinya mereka mengetahui bahwa itu adalah musik AI, 52% responden merasa tidak nyaman, dan 80% berpendapat bahwa fakta pembuatan oleh AI harus diumumkan. Dapat dilihat bahwa orang-orang lebih menyukai musik atau lagu yang diciptakan manusia, dan berpendapat bahwa jika musik tersebut dibuat oleh AI, fakta tersebut harus diungkapkan.

Baru-baru ini, lagu baru Deux yang berjudul 'Rise' dirilis dan diumumkan bahwa lagu tersebut menggunakan bantuan AI. Karena anggota Deux, Kim Sung-jae, telah meninggal dunia, hal ini mau tidak mau harus diungkapkan.

AI를 활용​해 만든 듀스의 신곡 ‘라이즈(Rise)’. 사진=VIBE
Lagu baru Deux 'Rise' yang dibuat dengan memanfaatkan AI. Foto=VIBE

Hal serupa terjadi pada webtoon. Pada Mei 2023, webtoon 'The Knight King Who Returned with a God' yang tayang di Naver035420 mendapat serangan rating (star bombing). Hal itu terjadi setelah diketahui bahwa penulis menggunakan AI untuk membuat webtoon tersebut. Novel web yang tayang di Kakao035720 Page juga mendapat protes karena desain sampulnya. Hal itu dikarenakan desain sampulnya dibuat menggunakan AI generatif. Dalam kasus webtoon atau desain sampul, para penulis secara langsung menyuarakan protes mereka. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan besar bahwa karya-karya penulis yang kurang dikenal digunakan sebagai data pembelajaran AI.

Di dunia penerbitan pun muncul kontroversi seputar penulis AI. Sebuah penerbit menerbitkan ribuan buku yang semuanya diduga ditulis oleh AI. Namun, tidak ada kewajiban untuk mengungkapkannya. Bahkan, tidak ada keharusan untuk memberitahukan apakah naskah tersebut ditulis menggunakan AI atau tidak. Karena kebebasan pers dijamin oleh konstitusi, hal ini tidak dapat dipaksakan. Namun, meskipun sistem identitas asli AI diterapkan, perlu dirinci sejauh mana kontribusinya. Perlu ada pembedaan antara apakah AI sekadar digunakan sebagai alat atau jika naskah tersebut sepenuhnya bergantung pada AI.

Hal yang terpenting adalah hak pembaca untuk mengetahui harus dijamin. Setidaknya, pembaca perlu tahu apakah penulisnya adalah manusia atau bukan. Ini karena tingkat kepercayaan terhadap AI masih rendah. Jika pembaca baru mengetahui setelahnya bahwa sebuah buku ditulis oleh AI, mereka mungkin merasa tidak nyaman seperti tertipu.

Ada juga hal yang perlu dipertimbangkan di sektor publik. Pertama, mari kita lihat sistem deposit wajib. Deposit wajib adalah sistem di mana publikasi baru harus diserahkan kepada Perpustakaan Nasional Korea dan Perpustakaan Majelis Nasional, yang diatur dalam Undang-Undang Perpustakaan. Namun, muncul opini untuk mengecualikan karya AI dari kewajiban ini. Jika fakta penggunaan AI tidak diungkapkan atau ditulis secara palsu, sedang dipertimbangkan pula metode seperti menolak pemberian ISBN (International Standard Book Number) atau membatalkannya setelah terbit.

국가보훈부가 AI로 만든 ‘마이 히어로 북’. 사진=국가보훈부 페이스북
'My Hero Book' yang dibuat oleh Kementerian Patriot dan Veteran dengan AI. Foto=Facebook Kementerian Patriot dan Veteran

Penerbitan buku melalui penulis AI juga perlu ditinjau kembali. Baru-baru ini, Kementerian Patriot dan Veteran membuat 50 seri buku bergambar 'My Hero Book' yang menampilkan tentara dan petugas pemadam kebakaran sebagai sosok ibu dan ayah menggunakan AI. Meskipun penggunaan AI dapat menghemat waktu dan anggaran, nilai publik yang lebih besar mungkin terabaikan. Dari sisi pengembangan penulis masa depan, ada hal yang perlu dipikirkan dari sudut pandang kreator daripada sekadar efisiensi ekonomi. Terlebih lagi, karena preferensi publik terhadap konten buatan AI masih rendah, kebijakan harus dirumuskan dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan hal tersebut.

Penulis Kim Heon-sik sejak usia 20-an telah menelusuri atau menembus rimba fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana AI dan komputer kuantum berperan aktif, ia masih menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김헌식 대중문화평론가

필자 김헌식은 20대부터 문화 속에 세상을 좀 더 낫게 만드는 길이 있다는 기대감으로 특히 대중문화 현상의 숲을 거닐거나 헤쳐왔다. 인공지능과 양자 컴퓨터가 활약하는 21세기에도 여전히 같은 믿음으로 한길을 가고 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지