[비즈한국] Saat membahas ekosistem startup di Eropa, selalu ada satu acara startup yang tidak pernah absen. Itulah Web Summit yang diadakan di Lisbon, Portugal. Lisbon, ibu kota Eropa yang paling jauh dari Seoul, memang dikenal sebagai kota wisata dan pusat kue tart telur, namun di dunia startup Eropa, kota ini tersohor sebagai pusat ekosistem startup yang luar biasa dan destinasi bagi para nomaden digital.

Dari Dublin ke Lisbon, Sejarah Web Summit
Setiap bulan November, Web Summit digelar di Lisbon. Dengan acara ini sebagai pusatnya, Lisbon kini menjadi panggung utama bagi "desa global teknologi" di mana para pengusaha, investor, dan perusahaan teknologi dari seluruh dunia berkumpul. Web Summit bermula pada tahun 2010 di Dublin, Irlandia, sebagai sebuah acara teknologi dan startup kecil yang diinisiasi oleh pendiri asal Irlandia, Paddy Cosgrave, David Kelly, dan Daire Hickey.
Tujuan awalnya sangat sederhana. Gagasan utamanya adalah "Mengumpulkan para pengusaha, insinyur, dan investor Eropa di satu tempat." Kala itu, Eropa kekurangan konferensi teknologi berskala besar seperti yang ada di Silicon Valley, dan Web Summit mengisi celah tersebut dengan tepat. Acara pertama di Dublin pada tahun 2010 dihadiri sekitar 400 orang. Tahun berikutnya meningkat menjadi lebih dari 1.500 orang, dan sejak 2012, acara ini menjadi ajang panas yang dihadiri sekitar 4.000 peserta serta perusahaan global seperti Facebook, Google, dan Amazon. Setelah itu, acara ini tumbuh pesat menjadi ajang internasional yang menarik puluhan ribu orang di seluruh Dublin. Memasuki tahun keempat, Web Summit telah menjadi konferensi teknologi "terbesar di Eropa".
Jejaring yang terjalin di berbagai sudut kota Dublin membangun "model acara berbasis kota" yang unik, di mana startup tahap awal dapat bertemu dengan investor skala besar. Sejak acara pertama, tiga pendiri Web Summit mengundang tokoh-tokoh besar dunia teknologi yang berusia di bawah 40 tahun. Di antaranya adalah salah satu pendiri YouTube Chad Hurley, salah satu pendiri Twitter Jack Dorsey, dan salah satu pendiri Skype Niklas Zennström. Kecuali Niklas Zennström yang saat itu berusia 44 tahun—yang tergolong "senior"—acara ini merupakan ajang berorientasi masa depan yang dibangun oleh para anak muda.
Namun, seiring dengan pertumbuhan pesat Web Summit, muncul kritik bahwa infrastruktur akomodasi dan transportasi Dublin tidak sanggup lagi menampungnya. Pada tahun 2016, Web Summit mengambil keputusan besar: memindahkan seluruh rangkaian acara ke Lisbon, Portugal.

Keputusan ini memberikan kejutan segar bagi ekosistem teknologi Eropa. Sekaligus menjadi momentum penting yang menjadikan Lisbon sebagai pusat startup yang sedang naik daun di Eropa. Pemerintah Portugal dan kota Lisbon juga menyusun strategi untuk menjadikan Lisbon sebagai pusat teknologi Eropa melalui penyelenggaraan Web Summit dan menyiapkan berbagai langkah dukungan.
Lisbon memiliki bandara internasional yang dekat dengan pusat kota, serta infrastruktur hotel dan transportasi yang sangat baik layaknya kota wisata. Lokasinya di Eropa namun memiliki aksesibilitas yang hebat ke Amerika Serikat dan Amerika Latin juga turut berkontribusi. Keterbukaan dan keamanan khas Eropa Selatan dinilai sangat positif, ditambah penggunaan bahasa Inggris yang luas serta budaya yang ramah terhadap orang asing menjadi salah satu alasan yang krusial.
Setelah pindah ke Lisbon, Web Summit tumbuh secara eksplosif. Rata-rata 50.000 hingga 70.000 orang berpartisipasi setiap tahunnya, dan tokoh-tokoh kelas dunia seperti Elon Musk dan Stephen Hawking pernah hadir sebagai pembicara.
Hal yang sama terjadi pada Web Summit 2025. Dengan 70.000 peserta dari 157 negara, lokasi acara tahun ini terasa lebih hidup dari sebelumnya dan mengukuhkan posisinya sebagai ruang yang paling nyata dalam menampilkan arus global di mana teknologi, kebijakan, industri, dan budaya saling terjalin.
Startup Korea yang Terbang ke Ibu Kota Eropa Terjauh dari Seoul
Di panggung raksasa ini, ada satu kelompok yang menarik perhatian tahun ini, yaitu delegasi 8 startup Korea yang dipilih dan diikutsertakan oleh Seoul Startup Hub (SBA). Stan mereka tercatat sebagai salah satu yang paling ramai selama acara berlangsung, dan mereka mendapatkan minat yang tinggi dari mitra global, baik dalam sesi yang dijadwalkan maupun pertemuan mendadak.

Delegasi tersebut mencakup berbagai bidang seperti manufaktur, logistik, konten, kesehatan, kolaborasi pengembangan, analisis video, data konsumen, dan EdTech. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem teknologi Korea tidak hanya terpaku pada satu sektor saja, melainkan tumbuh secara seimbang dalam inovasi berbasis teknologi secara keseluruhan.
Pertama, Gadget Korea yang sudah dikenal di Korea dengan merek 'USIMSA', menarik perhatian banyak peserta dengan layanan koneksi eSIM internasional yang dapat langsung digunakan saat bepergian ke luar negeri tanpa perlu membeli SIM lokal. Perusahaan ini dinilai memiliki potensi kolaborasi yang tinggi dengan ekosistem perjalanan digital Eropa karena menyediakan sistem afiliasi yang dapat bermitra dengan platform perjalanan, perusahaan kartu, dan perusahaan fintech.
LYWAY, yang memamerkan teknologi berbasis data konsumen, menyajikan solusi pendidikan berbasis AI suara alih-alih analisis yang berpusat pada perdagangan tradisional, sehingga menawarkan peluang pasar baru. Solusi ini menggabungkan AI suara ke dalam pembelajaran bahasa Inggris/bahasa asing dan menarik perhatian perusahaan pendidikan dan SDM di Eropa.
Naeil Saenggak, yang menyediakan sistem operasional menu dan toko digital, mendapatkan pertanyaan nyata terkait implementasi dari berbagai pelanggan seperti restoran dan destinasi wisata di Eropa berkat platform menu digital berbasis cloud dan fitur penerjemahan AI multibahasa. Pembeli yang mengecek demo secara langsung di lokasi menilai solusi ini sangat cocok dengan Lisbon sebagai kota wisata global.
Perusahaan pendidikan berbasis teknologi AI, Codepresso, memperkenalkan solusi sertifikasi keterampilan, pemantauan kompetensi karyawan, dan pembuatan laporan keterampilan berbasis wawancara AI, dengan struktur yang ramah Eropa karena memiliki entitas di Inggris dan Luksemburg. Berkat kombinasi HR Tech dan EdTech, mereka mendapatkan fokus perhatian dari institusi pendidikan dan tim SDM perusahaan di lokasi.
Di bidang teknologi infrastruktur AI, CLIKA memamerkan kehadirannya. CLIKA menunjukkan solusi optimalisasi untuk kompresi model AI, keringanan model, serta optimalisasi di seluruh Edge dan Cloud, serta platform yang dapat langsung diterapkan pada berbagai backend perangkat keras. VC global menilainya sebagai "teknologi inti infrastruktur AI yang mengatasi keterbatasan perangkat keras".
Perusahaan SaaS logistik, Coconut Silo, mengedepankan platform logistik terintegrasi yang menyediakan platform terpusat data kargo, pemantauan rute perjalanan waktu nyata, optimalisasi pengiriman berbasis AI, dan fitur multibahasa. Perusahaan logistik dan manajemen armada Eropa yang tertarik pada kasus sukses perusahaan di Asia Tenggara terus mendatangi stan mereka.
OpticMix menunjukkan perbedaan teknis yang paling menonjol dengan menampilkan teknologi modul layar optik berbasis hologram. Solusi ini dinilai memiliki potensi besar di bidang 3D, layar augmented, dan modul generasi berikutnya. Penanggung jawab proyek kota pintar dan instansi publik Eropa mengajukan banyak pertemuan PoC (Proof of Concept).
Terakhir, Airet memperkenalkan teknologi digitalisasi proses manajemen dan penyewaan sepatu di toko, instansi, atau fasilitas olahraga, dengan fokus pada sistem manajemen sepatu pintar. Fitur otomatisasi pelacakan dan manajemen penggunaan berbasis AI dinilai sangat praktis bagi sektor ritel dan fasilitas olahraga di Eropa.
Web Summit kali ini sangat berarti karena startup Korea berhasil menciptakan "peluang global yang dapat ditindaklanjuti" di Eropa, melampaui sekadar pameran, menuju koneksi langsung ke kemitraan nyata, investasi, dan PoC.
Web Summit Sudah Ketinggalan Zaman? Sama Sekali Tidak!
Web Summit sering disebut sebagai "3 Besar Acara Teknologi Eropa" bersama dengan VivaTech (Prancis) dan Slush (Finlandia). Di tengah banjirnya acara, terkadang terdengar kabar bahwa Web Summit tidak sehebat dulu dibandingkan dengan VivaTech atau Slush.
Pada tahun 2023, setelah CEO Web Summit mengunggah tulisan di media sosial yang mengkritik pengeboman Gaza oleh Israel, perusahaan global seperti Google, Meta, Amazon, dan Intel membatalkan keikutsertaan mereka. Alasannya adalah netralitas dan keberagaman acara dianggap terganggu. Meski sempat terlihat melambat setelah itu, antusiasme Web Summit 2025 membuktikan bahwa pesonanya tidak pudar.
Jika VivaTech dan Slush adalah acara yang sangat berpusat pada Eropa, Web Summit memiliki rasio startup dan investor dari Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Afrika yang sangat tinggi. Dibandingkan acara lainnya, Web Summit unik karena merupakan acara global yang diadakan di Eropa.
Selain itu, jika Slush dicirikan oleh "pertemuan mendalam berbasis perjodohan sebelumnya" dan VivaTech dicirikan oleh "inovasi terbuka yang berpusat pada perusahaan besar Eropa" seperti LVMH dan L'Oreal, maka Web Summit jauh lebih dinamis dan terbuka. Seluruh Lisbon bergerak seperti lokasi acara. Karena sebagian besar pelancong selama periode Web Summit adalah peserta acara, "pertemuan mendadak" sering terjadi di mana saja, mulai dari lounge hotel, trem, jalanan, hingga kafe.

Area pameran juga tidak disusun untuk menampilkan pajangan besar atau produk, melainkan dengan konsep "ruang pameran tanpa barang pameran" di mana stan-stan kecil yang bisa digunakan untuk berdiskusi tertata rapat. Tidak perlu menjaga stan setiap hari. Anda bisa menyewa stan hanya untuk satu hari, dan di hari lain membuat janji pertemuan di stan lain atau di lounge pertemuan investor. Ini adalah prinsip yang mengutamakan komunikasi dan pertemuan.
Mempertimbangkan lingkungan, panitia melarang penggunaan selebaran kertas di lokasi acara. Startup menjelaskan solusinya hanya dengan laptop atau tablet. Kebijakan ini justru membuat orang lebih fokus pada percakapan antarmuka. Inilah cara unik Web Summit yang membuat orang yang ingin tahu lebih banyak mendatangi stan setelah membaca perkenalan singkat yang tertulis di sana.
Jika Anda ingin memamerkan ide Anda di panggung global, atau ingin bertemu sebanyak mungkin orang dari kancah teknologi dunia untuk membangun jejaring, maka Web Summit adalah pilihan terbaik. Meskipun ini adalah ibu kota Eropa yang paling jauh dari Seoul, ini bisa menjadi titik awal yang baik jika Anda juga mempertimbangkan ekspansi ke benua Amerika di luar Eropa.
Penulis Lee Eun-seo menempuh pendidikan hukum di Korea dan mempelajari teater di Berlin. Ia menetap di Berlin, kota seni dan pusat startup Eropa, dan memimpin 123factory yang menjembatani ekosistem startup Korea dan Jerman sambil tumbuh bersama kotanya.