[비즈한국] Di era yang dibanjiri konten video, bagi mereka yang masih percaya pada kekuatan teks, berikut adalah perkenalan buku-buku baru yang baru saja dirilis.

Hana ga Geonneun Sesang (Dunia yang Dijalani Hana)
Ditulis oleh Yoo Young, Ilustrasi oleh Kim Da-eun, Musik oleh Twelve Sounds Project
Kkoma Nun-saram / 60 halaman, 18.000 won
Buku bergambar yang mengisahkan cerita 'Hana', seorang gadis Palestina yang hidup di tengah perang. 'Hana' dalam bahasa Arab berarti 'kegembiraan'.
Hana pernah hidup bahagia bersama orang tuanya di sebuah rumah dengan pohon lemon. Namun, setelah perang orang dewasa meletus di dalam dan di luar tembok pembatas, ayah dan ibunya meminta Hana untuk bersembunyi jauh di dalam rumah demi menghindari pengeboman. Suatu hari, ketika pengeboman berakhir dan Hana keluar, ia tidak lagi melihat ayah dan ibunya.
Hana yang hidup dengan melakukan 'perburuan harta karun' sendirian demi mencari roti untuk dimakan dan air untuk diminum, bertemu dengan boneka kain robek yang menangis di antara puing-puing. Hana merawat boneka itu dengan sepenuh hati, namun ia jatuh tersungkur saat pengeboman kembali dimulai. Akankah Hana bisa kembali meraih kegembiraan bersama bonekanya?
Buku ini dapat dinikmati bersama musik yang selaras dengan lukisan pensil warna yang hangat. Sebagian dari hasil penjualan buku akan didonasikan ke World Central Kitchen untuk berpartisipasi dalam pembagian makanan bagi anak-anak di Jalur Gaza, Palestina.

Sangcheoui Sseulmo (Kegunaan Luka)
Ditulis oleh Yoo Soo-kyung
Chaekgwa-ieum / 240 halaman, 16.800 won
Penulis, yang merupakan seorang guru sekolah luar biasa, menghabiskan masa kecil yang kelam akibat kekerasan ayahnya. Luka tersebut muncul saat ia dewasa dalam bentuk gangguan bipolar, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Ia bahkan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari dan melakukan percobaan bunuh diri berulang kali. Namun, setelah hamil, ia bertekad untuk berubah demi anaknya.
Di tengah proses penyembuhan melalui perawatan psikiatri, ia memutuskan untuk 'mengaku' kisahnya sendiri dan menulis buku ini. Ia berharap buku ini bisa menjadi secercah penghiburan dan harapan, serta semangat kecil untuk bertahan hidup bagi seseorang yang mirip dengannya.
Sebagaimana ditunjukkan oleh drama yang baru-baru ini ramai dibicarakan, 'Dangsin-i Jugyeotda' (Kau yang Membunuh), kekerasan dalam rumah tangga masih merajalela. Kisah sang penulis sebagai penyintas yang berhasil bangkit dari trauma kekerasan rumah tangga memberikan ruang untuk merenungkan martabat manusia dan kegunaan dari luka, yang mampu menemukan harapan untuk hari esok bahkan di tengah terowongan penderitaan yang penuh duri.

Insaeng Chongryangui Beopchik 100mun 100dap (100 Tanya Jawab tentang Hukum Jumlah Total Kehidupan)
Ditulis oleh Lee Chae-yoon
Changhae / 528 halaman, 25.000 won
Apakah kehidupan kita yang tampak tak terduga sebenarnya memiliki hukum yang tetap?
Penulis mengatakan bahwa kesuksesan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan, semuanya bersirkulasi membentuk harmoni jumlah total yang utuh. Seperti Kim Cheom-ji dalam novel 'Unsu Joeun Nal' (Hari yang Beruntung), yang pada hari ia merasa sangat beruntung justru mendapati istrinya meninggal dunia.
Hal ini dijelaskan bukan sebagai metafora sederhana, melainkan sebagai prinsip yang secara umum ditunjukkan oleh kearifan kuno umat manusia dan sains modern. Buku ini menghadirkan referensi mulai dari naskah drama 'King Lear' karya Shakespeare, 'Meditations' karya Aurelius, 'Analects' karya Konfusius, hingga 'Dhammapada' dan 'Bardo Thodol' (Buku Kematian Tibet) dalam Buddhisme.
Buku ini menguraikan bagaimana elemen kehidupan seperti uang, studi, cinta, kesuksesan, kesehatan, hiburan, alkohol, dan keluarga menyeimbangkan jumlah totalnya melalui 100 pertanyaan dan jawaban. Melaluinya, buku ini mengajarkan 'cara agar tidak terguncang di atas gelombang kehidupan'.
Luka hari ini adalah ketahanan hari esok, dan air mata hari ini adalah bahasa hari esok; penulis berpesan agar kita tidak takut pada penderitaan. Sebab penderitaan tidak datang untuk menghancurkan kita, melainkan untuk membangun kita kembali.