주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

"Cari Kode HS dengan Tarif Pajak Rendah": 'Klasifikasi Barang' Menjadi Medan Tempur Baru dalam Perang Tarif

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Dalam perang tarif yang dipicu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, klasifikasi barang kini menjadi medan tempur baru yang mendapat perhatian. Hal ini dikarenakan tarif bea masuk bergantung pada klasifikasi kategori produk ekspor dan impor tersebut. Berbagai negara di dunia kini terlibat dalam persaingan ketat terkait kode klasifikasi barang produk-produk mereka.

Pada tanggal 14, Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Kim Jeong-gwan sedang memberikan pengarahan terkait lembar fakta negosiasi tarif Korea-AS dan Nota Kesepahaman (MOU) di ruang pengarahan gabungan kompleks pemerintah Seoul. Foto = Reporter Lim Jun-seon
Pada tanggal 14, Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Kim Jeong-gwan sedang memberikan pengarahan terkait lembar fakta negosiasi tarif Korea-AS dan Nota Kesepahaman (MOU) di ruang pengarahan gabungan kompleks pemerintah Seoul. Foto = Reporter Lim Jun-seon

Tarif Bea Masuk dan Negara Asal Berdampak Langsung pada Biaya

Belakangan ini, situs web Layanan Bea Cukai dipenuhi dengan data tabel tautan nomor barang untuk tarif yang diberlakukan oleh AS. 'Tabel Tautan Nomor Barang Korea-AS' disusun untuk merespons kebijakan tarif AS dengan mengklasifikasikan produk mana yang dikenai tarif oleh otoritas AS dalam sistem klasifikasi barang Korea. Ini adalah langkah dukungan dari Layanan Bea Cukai agar perusahaan ekspor-impor Korea ke AS dapat merespons perubahan kebijakan AS dengan cepat.

Nomor barang yang digunakan dalam klasifikasi ini disebut 'Kode HS'. Kode HS (Harmonized System code) adalah kode klasifikasi barang standar internasional yang ditetapkan oleh World Customs Organization (WCO). Hingga 6 digit pertama menggunakan unit standar internasional. Nomor 6 digit tersebut diberikan berdasarkan klasifikasi besar, jenis, serta penggunaan dan fungsinya. Angka setelahnya dirinci melalui sistem klasifikasi yang berbeda-beda di setiap negara untuk memberikan kode HS akhir. Korea menggunakan 'Kode HSK', yaitu nomor klasifikasi barang yang terdiri hingga 10 digit.

Sebagai contoh, kopi biji masuk dalam Bab 09 yang mencakup kopi, teh, mate, dan rempah-rempah pada 2 digit pertama, diikuti oleh pos 01 untuk kopi, sehingga diberikan nomor barang empat digit 0901. Setelah itu, kopi yang belum disangrai diklasifikasikan sebagai 1, dan kopi sangrai sebagai 2.

Alasan mengapa kode HS sangat penting adalah karena nomor ini menentukan △tarif bea masuk, △penetapan negara asal, dan △status preferensi Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA). Meskipun produknya sama, daya saing perusahaan dan biaya yang harus ditanggung akan berbeda tergantung pada klasifikasi kode di masing-masing negara. Dalam kasus jam tangan pintar (smartwatch), jika diklasifikasikan sebagai perangkat komunikasi HS 8517 di dalam negeri, maka berlaku tarif bebas bea, namun jika diklasifikasikan sebagai jam tangan HS 9102, maka berlaku tarif dasar sebesar 8%. Faktanya, jam tangan pintar 'Galaxy Gear' milik Samsung Electronics005930 sempat dikenakan tarif 4-10% oleh negara seperti India, Turki, dan Thailand karena diklasifikasikan sebagai jam tangan, namun sejak tahun 2015, WCO mengklasifikasikannya sebagai perangkat komunikasi sehingga terhindar dari pengenaan tarif.

Sengketa Dagang Terjadi Karena Perbedaan Penerapan Kode

Sengketa perdagangan juga terjadi akibat kode HS. Jika suatu negara mencoba menerapkan kode dengan tarif tinggi demi mendapatkan penerimaan pajak, negara pengekspor akan menuntut penerapan kode dengan tarif yang lebih rendah. Karena otoritas bea cukai masing-masing negara adalah pihak yang menentukan kode HS, sengketa dapat muncul jika kedua negara (pengekspor dan pengimpor) memiliki pandangan berbeda mengenai kode HS suatu produk.

Seorang pejabat dari Divisi Penilaian Sumber Pajak Layanan Bea Cukai menyatakan, "Biasanya sengketa terkait kode HS diselesaikan melalui diplomasi bilateral, namun terkadang juga diadukan ke WCO."

Jika kesepakatan mengenai kode HS tidak tercapai melalui negosiasi, masalah tersebut dapat dibawa ke Komite Klasifikasi Barang WCO (Komite HS) untuk mendapatkan penilaian. Meskipun keputusan WCO tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, keputusannya sangat signifikan karena merupakan konsensus masyarakat internasional mengenai klasifikasi barang.

Baru-baru ini, terdapat konflik antara Korea dan India terkait unit radio (RU) untuk stasiun pangkalan yang diekspor ke India. India menganggapnya sebagai 'perangkat komunikasi' yang dikenakan tarif 20% dengan kode HS 8517.62, sementara pemerintah Korea dan Samsung Electronics berargumen bahwa barang tersebut harus dianggap sebagai 'suku cadang' yang bebas tarif.

Akhirnya, pemerintah Korea membawa masalah ini ke WCO. Komite HS memutuskan untuk memenangkan pihak Korea pada tanggal 18 September (waktu Korea). Hasil ini diperkirakan akan menyelamatkan pemerintah dan pihak Samsung Electronics dari kerugian yang mencapai 800 miliar won, termasuk tarif dan denda.

Pada tahun 2023 lalu, terdapat sengketa terkait modul layar LED luar ruangan. Mengenai modul layar LED untuk iklan luar ruangan yang diekspor dari Korea, Amerika Serikat, Uni Eropa (UE), dan Swiss berargumen bahwa produk tersebut harus diklasifikasikan sebagai 'monitor lainnya'. Sebelumnya, modul layar LED untuk iklan luar ruangan dianggap sebagai komponen barang setengah jadi sehingga sebagian besar tidak dikenakan tarif, namun AS dan UE mengklasifikasikannya sebagai monitor lainnya yang dikenakan tarif demi mengamankan penerimaan pajak dan melindungi industri manufaktur dalam negeri mereka.

Melawan hal tersebut, pemerintah Korea berargumen bahwa modul layar LED untuk iklan luar ruangan adalah barang setengah jadi yang tidak memiliki fungsi konversi sinyal video. Akhirnya, Komite HS memutuskan untuk mengklasifikasikannya sebagai 'modul layar datar' (flat panel display module). Perusahaan Korea pun dapat terhindar dari beban tarif sebesar puluhan miliar won.

Industri Mencari 'Celah' Klasifikasi Ulang, Akankah Diterima oleh AS?

Setelah lembar fakta bersama negosiasi tarif Korea-AS ditandatangani pada tanggal 14, kalangan industri menunjukkan pergerakan untuk meringankan beban tarif semaksimal mungkin melalui klasifikasi barang. Industri logam non-ferro, yang dikenakan tarif tinggi sebesar 50%, juga mulai mencari celah tarif melalui klasifikasi ulang barang.

Lee Seung-hoon, Kepala Divisi Perencanaan Asosiasi Logam Non-ferro Korea, mengatakan, "Kami sedang memikirkan cara untuk mengklasifikasikan ulang produk menjadi otomotif, yang dikenakan tarif 15%, dengan berfokus pada fakta bahwa foil logam aluminium digunakan untuk baterai sekunder kendaraan."

Namun, belum dipastikan apakah klasifikasi ulang dalam bentuk ini akan diterima oleh Amerika Serikat. Kemungkinan besar AS tidak akan mengubah kode HS jika dianggap sebagai klasifikasi ulang yang bertujuan untuk menghindari tarif. Setelah penandatanganan lembar fakta tersebut, penetapan kode HS diprediksi akan menjadi medan tempur baru dalam perang tarif.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민호 기자

중화학공업·에너지 분야를 담당하고 있습니다. 지속가능한 사회와 삶에 관심이 많습니다.

goldmino@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지