[비즈한국] Di setiap sesap kopi yang kita teguk setiap pagi, terdapat kehidupan banyak orang yang saling bertaut. Kebanyakan konsumen mengetahui fakta tersebut, namun mereka memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Kita menganggap tindakan meminum kopi sebagai wujud preferensi pribadi, padahal kenyataannya, hal itu lebih dekat pada tindakan menerima hasil yang merupakan akumulasi dari kehidupan dan kerja keras orang lain yang tak terhitung jumlahnya.
Perjalanan panjang dan rumit itu terus berlanjut di luar jangkauan pandangan kita. Mulai dari tangan yang memetik buah kopi di perkebunan jauh, bahu yang memanggul karung penuh biji kopi mentah, tatapan mata yang mengontrol suhu di depan mesin sangrai kota, hingga gerakan tangan halus barista saat menyerahkan secangkir kopi terakhir. Kopi hadir di hadapan kita dengan membawa jejak dari seluruh waktu dan orang-orang tersebut. Dan kita, tanpa menyadari jejak itu, hanya mengingatnya sebagai 'cita rasa favorit'.
Buku wawancara berjudul 'Gongjeonmirae' (Masa Depan Berevolusi Bersama), yang diterbitkan oleh Coffee Libre sebagai perintis pasar kopi spesialti di Korea, dengan tenang menyoroti jejak-jejak tersebut. Buku ini tidak hanya memuat mereka yang berada di 'pusat industri kopi' seperti petani, penyangrai, dan barista, tetapi juga orang-orang yang berada di orbit sekitar kopi seperti kurir pengantar barang yang telah lama menjalin hubungan dengan Coffee Libre, pertanian yang mempraktikkan sirkulasi dengan menerima limbah kopi, hingga toko-toko kecil yang berorientasi pada gaya hidup minim sampah (zero waste).

Coffee Libre telah lama memikirkan keberlanjutan kopi. Berdagang secara etis dan memproduksi dengan cara yang berkelanjutan adalah prinsip utama mereka. Mereka mengabadikan wajah para petani kopi, mendidik produsen agar mandiri, dan menyekolahkan anak-anak petani. Berkat upaya tersebut, mereka diakui dan menerima sertifikasi B Corp, sebuah standar internasional untuk sistem penilaian keberlanjutan.
Kita semua berevolusi dalam orbit masing-masing. Sebagaimana planet-planet yang berevolusi saling memengaruhi gravitasi satu sama lain dan membentuk tatanan, berbagai orbit kopi dan kehidupan pun saling memengaruhi dan menciptakan masa depan yang baru. Gongjeonmirae adalah kisah tentang alam semesta polifonik di mana orbit-orbit tersebut terkadang bersinggungan, berguncang, dan kemudian melangkah maju kembali. Semoga buku ini menjadi inspirasi kecil bagi semua orang yang mencintai kopi dan bagi mereka yang memimpikan masa depan yang lebih baik. -Hal. 5.
Pohon kopi menghasilkan buah merah berbentuk ceri. Setelah buah ini dipetik, daging buah dan lendirnya dibuang, maka tersisalah bijinya. Biji ini disebut 'biji kopi mentah' (green bean). Saat disangrai, biji kopi mentah menjadi biji kopi matang (roasted bean), dan dalam proses ini, lapisan tipis yang disebut 'chaff' akan terlepas. Di luar negeri, chaff sering dimanfaatkan sebagai pupuk, namun di dalam negeri, limbah ini sering terbuang begitu saja. Coffee Libre mengirimkan chaff tersebut ke peternakan ayam kampung di Paju, Provinsi Gyeonggi. Ketika jejak kaki dan kotoran ayam menumpuk di atas chaff yang menutupi lantai kandang, tanah tersebut kemudian digunakan kembali sebagai pupuk kompos untuk kebun buah. Ini adalah momen di mana kulit kopi berlanjut menjadi kehidupan yang lain.
Meskipun ada banyak pekerja perempuan di perkebunan kopi, sulit bagi mereka untuk menjadi pemimpin atau pemegang keputusan dalam industri kopi. Mereka pun memiliki keterbatasan dalam memiliki tanah atau mendapatkan pinjaman. Ansha Yasin, Wakil Ketua Asosiasi Kopi Perempuan Ethiopia, mendidik perempuan di industri kopi dan membantu mereka tumbuh menjadi pemimpin. Ia juga mempelajari dan mengajarkan metode pertanian ramah lingkungan demi keberlanjutan kopi Ethiopia.
Melly, yang hidup berpindah antara Peru dan Inggris, memulai hari dengan kopi pertama yang ia minum setelah mengganti popok anaknya. Setelah mengantar anak-anaknya ke tempat penitipan, ia meminum kopi kedua di kantornya. Harapan Melly, yang mengelola perkebunan kopi dan perusahaan di Peru, adalah membesarkan anak-anaknya dengan baik. Ia menemukan kebahagiaan dalam makan sederhana bersama keluarga dan berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan memiliki kedalaman jiwa. Untuk membagikan kebahagiaan ini secara berkelanjutan, ia membangun kafe di berbagai penjuru Peru guna menciptakan basis ekonomi bagi komunitas lokal.
Seperti itulah buku ini, meskipun menempatkan kopi sebagai pusat, pada akhirnya menyatu menjadi kisah tentang manusia. Iklim di perkebunan, keseharian di kota, struktur komunitas lokal, dan harapan sebuah keluarga tampak ada secara terpisah tanpa hubungan satu sama lain, namun mereka sebenarnya saling memengaruhi melalui gravitasi yang bernama kopi dan menjaga jarak tertentu. Saat kita membalik halaman demi halaman dan mengikuti kisah hidup mereka, kita akan menyadari kembali bahwa tindakan sehari-hari yang kita lakukan sebenarnya berada di atas keterhubungan yang sangat luas.