주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Buku Minggu Ini
'Ujumunji' Berbagi Ilmu Pengetahuan Menarik: 'Kita Semua Terlahir sebagai Astronom'

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Pada tahun 2007, 1 juta gambar galaksi dirilis di sebuah situs web. Kevin Schawinski, seorang mahasiswa program doktoral astronomi di Universitas Oxford, mengunggah data hasil pengamatan dari SDSS (Sloan Digital Sky Survey) agar siapa pun dapat melihat gambar galaksi tersebut dan mengklasifikasikan bentuknya, apakah itu galaksi spiral atau galaksi elips.

Proyek yang disebut ‘Galaxy Zoo’ ini dianggap sebagai contoh luar biasa dari sains warga (citizen science). Ini adalah pertama kalinya data pengamatan yang hanya dilihat oleh para astronom dibuka untuk umum. Siapa yang akan tertarik pada pekerjaan yang membosankan dan tidak berguna seperti ini? Para astronom skeptis, namun hasil sebenarnya sangat mengejutkan. Dalam 175 hari, lebih dari 100.000 orang dari seluruh dunia datang dan mengklasifikasikan bentuk lebih dari 40 juta galaksi.

Ditulis oleh Ji Woong-bae (Ujumunji), Oasis
328 halaman, 21.000 won
Ditulis oleh Ji Woong-bae (Ujumunji), Oasis 328 halaman, 21.000 won

Ini adalah kisah yang dimuat dalam buku baru karya Ji Woong-bae, seorang astronom dan YouTuber yang dikenal luas dengan nama 'Ujumunji' (Debu Alam Semesta), berjudul 'Kita Semua Terlahir sebagai Astronom'.

Meskipun tidak memahami fisika yang sulit dan rumit, ada lebih banyak orang yang mengagumi alam semesta daripada yang kita kira. Mungkin bukan hanya saya (penulis) yang merasa terpanggil secara samar-samar saat menatap bintang di langit malam dan bertanya-tanya apa yang ada di balik sana. Mungkinkah manusia semuanya adalah 'astronom' bawaan? Jika melihat betapa banyaknya novel dan film fiksi ilmiah yang dibuat, serta tekad umat manusia yang terus melangkah ke luar angkasa meski berulang kali gagal.

Penulis Ji Woong-bae sebenarnya 'mengaku' bahwa astronomi adalah ilmu yang kurang berguna. Ia mempertanyakan apa gunanya bagi kehidupan sehari-hari kita jika harus memperdebatkan bongkahan batu yang bertabrakan di ujung tata surya atau rasio materi gelap di galaksi yang berjarak ratusan juta tahun cahaya. Namun, tepat pada poin itulah ia menekankan bahwa astronomi justru adalah ilmu yang paling 'manusiawi'. Jika dipikirkan, manusia tidak hanya melakukan hal-hal yang berguna. Faktanya, bukankah lebih menyenangkan melakukan hal-hal yang tidak berguna? Penulis mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk indah yang mampu melakukan tindakan melihat bintang di alam semesta ini dan mampu merasakan kesenangan darinya.

'Kita Semua Terlahir sebagai Astronom' menceritakan kisah banyak orang yang membuat umat manusia bisa terus menengadah ke bintang-bintang, selain proyek Galaxy Zoo yang disebutkan sebelumnya. Buku ini dimulai dengan kisah romantis bahwa mungkin 'pengusaha penghitung bintang' di buku 'The Little Prince' sebenarnya adalah seorang astronom, berlanjut ke kisah 100 tahun lalu saat kamera digital belum ada di mana cahaya bintang yang ditangkap pada pelat kaca terlihat seperti jamur, hingga kisah bahwa di Observatorium Universitas Harvard, para wanita muda dipekerjakan dengan upah murah untuk menganalisis data pengamatan yang melimpah dan mereka disebut sebagai 'Komputer', yang berarti 'orang yang menghitung'. Kini, astronomi telah berkembang pesat hingga mampu melatih kecerdasan buatan (AI) untuk menemukan galaksi kerdil, melacak pergerakan asteroid, dan melindungi Bumi.

Foto tempat kelahiran bintang, Pismis 24, yang terletak sekitar 5.500 tahun cahaya ke arah rasi bintang Scorpio, dilihat melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb. Foto=NASA, ESA, CSA, dan STScI, A. Pagan(STScI)
Foto tempat kelahiran bintang, Pismis 24, yang terletak sekitar 5.500 tahun cahaya ke arah rasi bintang Scorpio, dilihat melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb. Foto=NASA, ESA, CSA, dan STScI, A. Pagan(STScI)

'Kita Semua Terlahir sebagai Astronom' juga memuat rahasia alam semesta yang belum terungkap dan keterbatasan astronomi. Materi gelap yang mencakup sebagian besar alam semesta telah membentuk wujud alam semesta saat ini, namun identitasnya belum terungkap sama sekali. Untuk mengejar 'hantu' yang disebut materi gelap yang tidak memancarkan cahaya, menyerap cahaya, maupun terlihat, para astronom tidak hanya mencari di langit tetapi bahkan di dalam perut bumi. Namun, kita bahkan belum tahu apakah materi gelap itu benar-benar materi atau sekadar gravitasi. Umat manusia hanyalah makhluk sekejap jika dibandingkan dengan waktu alam semesta, dan wujud alam semesta yang kita ketahui pun mungkin bukanlah kebenaran. Namun, penulis mengatakan bahwa hati yang mengakui ketidaktahuan, bukan sok tahu, adalah hati seorang astronom, dan astronomi adalah ilmu yang membuat manusia rendah hati.

Penulis Ji Woong-bae adalah salah satu kreator sains paling aktif yang melintasi dunia akademik. Sembari mengajar astronomi di Universitas Sejong, ia menjalankan saluran YouTube 'Ujumunji-ui Hyeonja Times' dengan 260.000 pelanggan dan total 40 juta penayangan, berupaya menyebarkan pengetahuan tentang alam semesta kepada masyarakat luas. Ia dicintai oleh para penggemar astronomi karena mampu menjelaskan kisah-kisah astronomi yang sulit dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Setelah menutup buku ini, pandangan kita akan secara alami tertuju pada langit malam. Meskipun yang terlihat mungkin bukanlah bintang, melainkan satelit buatan yang mengorbit Bumi, mata batin kita pasti sudah melihat seseorang di ujung alam semesta sana.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김남희 기자

문화예술 분야와 콘텐츠 관리를 담당합니다.

namhee@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지