[비즈한국] 'Kau yang Membunuhnya' (Your Fault) berhasil menempati peringkat pertama global di Netflix. Setelah dirilis pada 7 November lalu, posisinya terus merangkak naik hingga pada tanggal 11, serial ini menduduki puncak di 21 negara (berdasarkan situs pemantau peringkat OTT, FlixPatrol). Bukan hal baru bagi serial orisinal Netflix asal Korea untuk mendapatkan sambutan baik di kancah dunia. Namun, menarik untuk ditelisik mengapa karya ini memikat perhatian global. 'Kau yang Membunuhnya' adalah thriller kriminal yang mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta solidaritas antarperempuan. Di tahun 2025, rasanya aneh masih membahas KDRT, tetapi nyatanya tema ini tetap relevan.
Ada seorang anak perempuan yang tumbuh dengan melihat ayahnya melakukan kekerasan terus-menerus terhadap ibunya. Setiap kali kekerasan terjadi, si anak kecil ini akan menggandeng tangan adiknya yang lebih muda untuk bersembunyi di dalam lemari. Bahkan setelah ia dewasa, ibunya masih hidup dalam kekerasan, namun sang anak tidak mampu mengambil tindakan tegas karena sudah lama terbelenggu oleh rasa bersalah dan ketidakberdayaan. Jo Eun-soo (Jeon So-nee), seorang karyawan VIP di butik barang mewah, telah menjalani hidup seperti itu. Ia mempelajari jiu-jitsu untuk melawan kekerasan orang lain, namun belum pernah mempraktikkannya.

Jo Hee-soo (Lee Yoo-mi) adalah teman yang selalu mendampingi Eun-soo saat ia menderita akibat trauma KDRT di masa sekolah. Saat Eun-soo membuat keributan di sekolah setelah melihat bayangan ibunya yang mencoba bunuh diri di dekat jendela yang tirainya berkibar, Hee-soo adalah orang yang memeluknya dengan hangat. Hee-soo tumbuh menjadi penulis buku anak-anak dan menikah dengan No Jin-pyo (Jang Seung-jo), seorang suami kompeten yang menjabat sebagai wakil kepala di perusahaan sekuritas, lalu ia menjadi ibu rumah tangga. Ibu mertuanya adalah Go Jeong-sook (Kim Mi-sook), seorang pakar sosiologi terkenal, dan adik iparnya, No Jin-young (Lee Ho-jung), adalah polisi menjanjikan yang dijadwalkan untuk bertugas di Kantor Kepresidenan (Blue House). Namun, Hee-soo tidak bahagia. Setiap malam, ia hidup dalam siksaan fisik yang mengerikan oleh suaminya.

Mengapa Hee-soo tetap bertahan meski disiksa? Hee-soo dulunya adalah penulis buku anak-anak yang menjanjikan hingga karyanya sempat dibawa ke Pameran Buku Anak Bologna. Bukankah dunia saat ini memungkinkan seseorang untuk bertahan hidup meski hanya dengan bekerja paruh waktu di toserba, sekalipun bukan sebagai penulis? Namun, realitas Hee-soo tidak semudah itu. Ketika ia memutuskan untuk kabur ke luar negeri, suaminya, Jin-pyo, menemukan ibunya yang disembunyikan di panti jompo, lalu melakukan kekerasan kejam dan memaksanya untuk kembali. Dengan sang ibu yang dijadikan sandera, apa yang bisa ia lakukan? Ia sempat mencoba melapor ke polisi, namun adik iparnya, Jin-young, secara tidak sengaja bertemu dengannya dan mengancam dengan halus, "Jika salah melapor KDRT, kamu bisa dituntut balik atas tuduhan palsu." Akhirnya, bagi Hee-soo, yang terpenting hanyalah tidak dipukul malam ini, atau setidaknya dikurangi rasa sakitnya. Ini adalah gaslighting yang sempurna.

Eun-soo yang mengetahui situasi Hee-soo pun turun tangan. Eun-soo sendiri sudah penuh dengan rasa bersalah karena telah mengabaikan klien VIP butiknya yang bunuh diri akibat KDRT. Berkat ucapan Jin So-baek (Lee Moo-saeng), perwakilan Jin-gang Trading yang ia kenal secara kebetulan, ia pun membulatkan tekad: memutuskan untuk membunuh suami Hee-soo bersama-sama. Entah kebetulan atau takdir, di kantor Jin So-baek, mereka bertemu dengan Jang-gang (Jang Seung-jo, peran ganda), seorang imigran ilegal yang memiliki wajah sangat mirip dengan No Jin-pyo. Mereka menyusun rencana untuk membujuknya agar berpura-pura menjadi No Jin-pyo dan keluar negeri ke China, lalu melenyapkan No Jin-pyo tanpa diketahui siapa pun.

Drama ini dengan menegangkan menunjukkan bagaimana rencana Eun-soo dan Hee-soo, yang tampak sempurna namun sebenarnya sangat ceroboh, mengalami kegagalan dan perubahan. Namun, jika menilai 'Kau yang Membunuhnya' sebagai sebuah thriller, sulit untuk memberikan skor yang tinggi. Rencananya terlalu dangkal, probabilitasnya rendah, dan hubungan antar karakternya pun dipertanyakan. Terutama sosok Jo Eun-soo yang rela melakukan pembunuhan demi temannya tetapi justru mengabaikan ibunya sendiri, serta hubungan antara Jo Eun-soo dan Jin So-baek yang sulit dimengerti.

Namun, bagian yang menarik dari drama ini adalah karakter keluarga mertua Jo Hee-soo, yaitu ibu mertua Go Jeong-sook dan adik ipar No Jin-young. Adik iparnya, No Jin-young, adalah karakter yang tidak hanya mengabaikan fakta bahwa kakak iparnya disiksa, tetapi juga berusaha menutupinya secara aktif agar masalah rumah tangga kakaknya tidak mencoreng kariernya. Bagi Jin-young, yang menargetkan posisi Kepala Kepolisian setelah lulus dari Akademi Kepolisian, hal terpenting saat ini adalah masuk ke posisi sekretaris di Kantor Kepresidenan. Ia adalah sosok yang tidak peduli meskipun kakaknya mati asalkan ia bisa masuk ke kantor tersebut. Perilakunya yang mengancam Hee-soo dengan tenang di awal drama justru membuat merinding karena terasa nyata bahwa ada banyak orang yang mungkin benar-benar melontarkan kata-kata seperti itu.

Go Jeong-sook lebih mengerikan dengan cara yang berbeda. Sebagai sosok populer secara sosial yang telah mengadakan lebih dari 1.000 seminar, Go Jeong-sook dalam ceramahnya selalu berpesan agar perempuan korban KDRT memberanikan diri. Namun, setiap kali melihat menantunya yang penuh memar, ia justru berpura-pura tidak tahu dan bertanya apakah ia "jatuh lagi". Bahkan sikapnya yang seolah menyiratkan bahwa korban KDRT turut bertanggung jawab atas kekerasan yang dialaminya adalah bentuk tipikal 'pria kehormatan' (misogini yang diinternalisasi). Saat ia tampak senang melihat Hee-soo muncul dengan plester di dahi karena mengira anaknya sudah kembali, terasa bahwa tidak ada iblis yang lebih nyata darinya.

Rasanya aneh membahas KDRT di tahun 2025, tetapi jika dipikirkan kembali, realitas kita masih sangat kelam. Lihatlah berita tentang perempuan yang disiksa dan dibunuh akibat kekerasan dalam hubungan yang sering disebut 'kekerasan kencan'. Jumlah laporan kekerasan kencan dan penguntitan terus meningkat setiap tahunnya. Meski berani melapor, proses hingga pelaku dihukum sangatlah melelahkan, dan di sela-sela itu, korban sering mengalami viktimisasi sekunder akibat pertanyaan masyarakat tentang apakah mereka adalah 'korban yang sesungguhnya'. Jika kekerasan saat belum menikah saja tidak bisa ditangani, apalagi setelah terikat atas nama keluarga. Seperti kata No Jin-young dalam drama, betapa banyak dorongan diam-diam yang mengatakan 'masalah rumah tangga harus diselesaikan di dalam rumah'. Berdasarkan 'Penelitian Situasi KDRT' oleh Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga pada tahun 2022, bahkan 19,6% responden menjawab 'cenderung setuju' atau 'sangat setuju' pada pernyataan bahwa 'KDRT juga merupakan tanggung jawab korban'.
'Kau yang Membunuhnya' diadaptasi dari novel karya Okuda Hideo berjudul 'Naomi to Kanako'. Karya aslinya yang diterbitkan pada tahun 2015 sangat menonjolkan humor sinis khas Okuda Hideo. Sedih rasanya melihat kenyataan bahwa meskipun 10 tahun telah berlalu, realitas yang digambarkan dalam drama ini masih tetap relevan. Layak untuk direnungkan, apakah masyarakat tidak memiliki tanggung jawab atas pembunuhan yang dilakukan Eun-soo dan Hee-soo, dan apakah kita tidak memiliki tanggung jawab atas sikap acuh tak acuh kita terhadap KDRT yang terjadi di dunia nyata saat ini? Mungkin kesadaran kolektif kitalah yang membuat drama ini menempati peringkat pertama secara global.
Rating ★★☆
Pesan dalam judul sangat tajam, namun keseruan sebagai drama thriller menghilang.
Siapa penulis Jeong Su-jin?
Telah meliput dan menulis tentang film, perjalanan, dan budaya populer melalui berbagai majalah. Tidak ingin tertinggal tren, namun ia telah menjadi orang "jadul" yang hanya bisa menebak klise yang jelas di adegan berikutnya saat menonton drama terbaru. Sedang berusaha mendapatkan kembali kepekaan yang hilang dengan melayang di dunia OTT yang luas, dan keinginan saat ini adalah adanya paket langganan OTT terpadu.