[비즈한국] Pada tanggal 30 Oktober, CEO NVIDIA Jensen Huang mengunjungi Korea dan menjalin 'aliansi ganjil' (Kkanbu Alliance) dengan Samsung dan Hyundai Motor 005380. Setelah pertemuan makan ayam dan bir bersama Ketua Grup Samsung Lee Jae-yong dan Ketua Grup Hyundai Motor Euisun Chung, CEO Jensen Huang menekankan aliansi AI dan berjanji untuk memprioritaskan pasokan 260.000 unit GPU (Graphics Processing Unit) NVIDIA ke Korea hingga tahun 2030.

GPU adalah infrastruktur inti di era AI. Jika CPU (Central Processing Unit) berperan memproses satu perintah rumit dengan cepat, GPU memproses ribuan perintah sederhana secara bersamaan. Karena AI harus memproses miliaran informasi sekaligus, GPU menjadi sangat penting. Oleh karena itu, jumlah GPU bahkan dievaluasi sebagai tolak ukur daya saing industri suatu negara.
Selama ini, penelitian dan pengembangan AI di Korea sebagian besar bergantung pada perusahaan cloud luar negeri, namun dengan pasokan ini, muncul penilaian bahwa Korea kini memiliki landasan untuk melatih model bahasa berskala besar atau AI industri secara mandiri. Ada pandangan bahwa ini dapat mempercepat laju 'kemandirian AI' di seluruh sektor industri.
Character (Tokoh)
CEO Jensen Huang, yang memberikan hadiah 'GPU' kepada Korea, adalah orang Amerika keturunan Taiwan. Ia lahir di Taipei, Taiwan pada 17 Februari 1963, dan pindah ke Amerika Serikat pada usia 9 tahun. Ia menghabiskan masa kecilnya di sebuah sekolah asrama di Kentucky, di mana ia dikabarkan sering dirundung sebagai anak keturunan Asia yang belum lancar berbahasa Inggris. Ia mengenang bahwa setiap kali menyeberangi jembatan di atas arus deras, teman-temannya akan mengguncang tali jembatan, namun dengan melintasi jembatan itu setiap hari, ia melatih keseimbangan dan kegigihannya. Pengalaman ini berlanjut pada ketegasannya sebagai 'CEO yang tak tergoyahkan'.
Setelah lulus lebih awal dari SMA Aloha di Oregon, ia memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro dari Oregon State University dan gelar Magister Teknik Elektro dari Stanford University. Setelah lulus, ia berpartisipasi dalam perancangan mikroprosesor dan chip grafis di perusahaan semikonduktor seperti AMD dan LSI Logic.
Setelah menikah dengan Lori Huang pada tahun 1985, mereka dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Career (Karier)
CEO Jensen Huang pernah bekerja paruh waktu di sebuah restoran bernama Denny's saat kecil, dan diketahui bahwa di restoran inilah ia merancang rencana bisnisnya. Berbekal pengalaman sebagai insinyur, ia mendirikan NVIDIA pada tahun 1993 bersama rekan-rekannya, Chris Malachowsky dan Curtis Priem.
Terdapat anekdot bahwa saat mendirikan NVIDIA, istri Jensen Huang sedang mengandung anak kedua, dan tabungan mereka hanya cukup untuk biaya hidup selama 6 bulan.
NVIDIA adalah perusahaan perancang dan manufaktur semikonduktor sistem, dan Jensen Huang telah menjabat sebagai CEO sejak pendirian NVIDIA hingga saat ini. NVIDIA kini telah memantapkan posisinya sebagai perusahaan pemimpin pasar semikonduktor AI dengan nilai kapitalisasi pasar melampaui 5 triliun dolar.
Capability (Kapabilitas)
Meskipun berasal dari latar belakang insinyur, CEO Huang dinilai sebagai sosok yang memiliki naluri bisnis yang luar biasa. NVIDIA pernah berada di ambang kebangkrutan karena kegagalan produk pertama mereka, chip grafis 'NV1', namun 'RIVA 128' yang diluncurkan pada tahun 1997 menciptakan pembalikan keadaan. Produk ini mendapatkan reaksi eksplosif dari pasar karena merupakan GPU inovatif yang mengintegrasikan fungsi grafis 2D dan 3D, sehingga NVIDIA mencatatkan keuntungan untuk pertama kalinya.
Pada masa ini, Jensen Huang menjalin aliansi dengan TSMC untuk mengatasi permintaan chip yang melonjak. Struktur di mana NVIDIA fokus pada desain dan TSMC fokus pada manufaktur kemudian menjadi standar industri semikonduktor di seluruh dunia.
Tentu saja, jalan aliansi tersebut tidak mulus. Pada awal 1998, TSMC salah menerapkan proses kimia sehingga puluhan ribu chip terbuang, membuat NVIDIA kembali menghadapi krisis kebangkrutan. Jensen Huang berhasil menyelamatkan perusahaan dengan menyerahkan ekuitas kepada perusahaan investasi. Kabarnya, ia menyadarkan karyawannya akan keputusasaan saat itu dengan berkata, "Perusahaan kita akan bangkrut dalam sebulan."
Pada tahun 2006, Jensen Huang tidak membiarkan GPU tetap menjadi chip khusus grafis, melainkan meluncurkan platform 'CUDA' yang memungkinkan komputasi umum. Hal ini menjadi titik balik pendefinisian ulang GPU bukan sebagai perangkat pemrosesan video biasa, melainkan sebagai mesin inti AI. Sejak saat itu, saat teknologi deep learning melonjak pada awal 2010-an, GPU memantapkan posisinya sebagai infrastruktur standar industri AI.
Saat ini, NVIDIA menguasai lebih dari 80% pangsa pasar GPU eksternal dan chip komputasi AI. Tidak hanya GPU, perusahaan ini juga membangun ekosistem perangkat lunak secara langsung, seperti platform simulasi 'Omniverse' untuk pembelajaran otonom dan robot. Memasuki tahun 2020-an, NVIDIA naik menjadi perusahaan semikonduktor nomor satu di dunia berdasarkan pendapatan, dan pada tahun 2025, ia menjadi perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di dunia. NVIDIA adalah perusahaan pertama yang melampaui 4 triliun dolar dalam nilai kapitalisasi pasar. Kepemimpinan CEO Huang dinilai telah mengubah arus teknologi dan modal hingga disebut sebagai 'Sindrom Jensen Huang'.
Critical (Kritik)
Tentu saja ada kritik. Cara pengelolaan aset pribadi CEO Huang menjadi subjek kontroversi. Menurut media asing seperti New York Times, ia menyusun rencana pengalihan properti yang secara legal dapat mengurangi pajak warisan dan hibah senilai sekitar 8 miliar dolar dengan memanfaatkan struktur perwalian.
Ada juga kritik bahwa ketergantungan pasar terlalu berfokus pada GPU. Masalah antimonopoli juga muncul. Tiongkok sedang menyelidiki NVIDIA dengan tuduhan melanggar syarat persetujuan saat akuisisi Mellanox. Pesaingnya, perusahaan manufaktur semikonduktor AS, AMD, mengkritik bahwa NVIDIA secara efektif memonopoli pasar GPU untuk pusat data. Ada juga poin yang menyatakan bahwa kebijakan NVIDIA yang membatasi keterbukaan driver dan data teknis menghambat ekosistem pengembang.
Challenges (Tantangan)
Target NVIDIA berikutnya adalah 'Physical AI'. Jensen Huang mengusulkan hal ini sebagai tujuan NVIDIA dalam pidato utama CES 2025. Physical AI adalah implementasi kecerdasan buatan yang memahami dan bergerak di dunia nyata. Ini merujuk pada sistem yang mampu berpikir dan bereaksi sendiri di lingkungan fisik seperti robot, mobil, dan jalur manufaktur, melampaui AI yang selama ini hanya terbatas pada bahasa dan pengenalan gambar. Ia mengatakan, "Token yang dulunya hanya diterapkan pada teks atau gambar, ke depannya akan menjadi standar bagi robot untuk bergerak dan memahami dunia fisik."
Hal ini juga berlanjut pada 'Aliansi Kkanbu'. CEO Jensen Huang bekerja sama dengan Samsung Electronics 005930, Hyundai Motor, dan lainnya untuk melakukan kerja sama luas yang mencakup pasokan GPU, pembangunan infrastruktur AI, dan pengembangan bakat. Ia menjadikan Korea sebagai test bed (wadah uji coba) untuk Physical AI. Namun, situasi politik dan geopolitik, termasuk kebijakan pemerintahan Trump di AS, memiliki ruang untuk mengancam Aliansi Kkanbu tersebut.