[비즈한국] Belakangan ini, banyak pihak yang menyoroti betapa sulitnya kondisi industri film Korea. Sudah lama tenaga produksi film beralih ke pembuatan drama. Satu-satunya hal yang masih bertahan adalah sistem bioskop multipleks seperti sebelum pandemi Covid-19. Jika dilihat lebih teliti, sebenarnya industri pemutaran film di bioskoplah yang sedang dalam kesulitan besar. Dibandingkan dengan tahun 2019, jumlah penonton bioskop hanya tinggal setengahnya. Berdasarkan data dari Dewan Film Korea (KOFIC), jumlah penonton bioskop tahun lalu mencapai 123,13 juta orang, turun 1,6% dibandingkan tahun 2023. Angka ini di luar dugaan karena banyak yang mengira jumlah penonton akan kembali meningkat setelah era endemi. Angka tersebut hanya mencapai 55,7% dari rata-rata tahun 2017-2019 sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Pendapatan bioskop tahun 2024 juga mencapai 1,1945 triliun won, turun 5,3% dibandingkan tahun 2023. Jika dibandingkan dengan pendapatan sebelum pandemi, jumlahnya hanya 65%. Namun, di tengah situasi seperti ini, karya-karya yang bermakna tetap muncul.

Tahun ini, 'Zombie Daughter' ditonton oleh 5,39 juta orang, dan 'Boss' berhasil melampaui titik impas (break-even point) sebanyak 1,7 juta penonton hanya dalam waktu 7 hari, dan kini telah menembus angka 2,4 juta penonton. Titik impas untuk 'Zombie Daughter' adalah 2,2 juta penonton, yang berhasil dilampaui dalam 7 hari penayangan. Film karya sutradara Park Chan-wook, 'Cannot Help It', berhasil menembus 1 juta penonton dalam 5 hari dan melampaui 2 juta penonton dalam 13 hari. Semua film ini mengusung genre komedi. Awal tahun ini, film 'Hitman 2' memang membutuhkan waktu 4 minggu untuk melampaui titik impas 2,3 juta penonton (dengan biaya produksi bersih 8,5 miliar won), namun film ini juga sukses besar berkat unsur komedinya. Karena biaya produksinya yang lebih besar dibandingkan film-film sebelumnya, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas pun lebih lama.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan genre komedi meraih hasil positif di bioskop. Pertama, ada interpretasi klasik bahwa di masa resesi ekonomi, konten yang menghibur cenderung lebih banyak dikonsumsi. Di sisi lain, 'Zombie Daughter' dan 'Boss' memiliki kesamaan sebagai film berkonsep tinggi (high-concept). Film berkonsep tinggi adalah film yang mampu menarik minat penonton hanya dengan mendengar sinopsis singkatnya. Film 'Zombie Daughter' berbeda karena keluar dari pola dikotomis terinfeksi virus zombie atau tidak, dan menawarkan sudut pandang bahwa gejala zombie bisa diatasi. Meski begitu, nilai kerja sama dan persatuan dengan keluarga serta kenalan tetap menonjolkan semangat komunitas. Di dalamnya, rasa haru dan solidaritas yang hangat berpadu dengan tawa.

Film 'Boss' berbeda dari film genre gangster biasa yang biasanya fokus pada persaingan menjadi bos. Meskipun sama-sama bertema gangster, kode komedi yang berbeda terbukti efektif. Karya-karya yang ringan untuk dinikmati juga cocok untuk memberikan apa yang disebut 'efek peningkat suasana hati (mood-boosting effect)'. Selain mengubah suasana hati, stres juga bisa teratasi. Apalagi, tawa akan berlipat ganda jika dibagikan bersama daripada menikmati konten sendirian. Bergantung pada suasananya, tawa komedi bisa menjadi lebih intens. Karena film-film seperti ini menyebar melalui ulasan netizen atau media sosial, kecenderungan penonton untuk menyaksikannya di bioskop sebelum dirilis di platform OTT cukup kuat. Seandainya film-film ini adalah film blokbuster dengan biaya produksi yang sangat besar, mungkin akan sulit untuk meraih kesuksesan finansial.
Kesuksesan film-film komedi yang menyenangkan ini bisa jadi merupakan reaksi balik terhadap kejenuhan konten secara umum. Di platform OTT global seperti Netflix serta stasiun televisi nasional dan kabel, banyak terdapat genre yang serius dan provokatif. Penonton yang menyaksikannya pun harus mengeluarkan banyak energi mental dan mengalami pengurasan emosi. K-genre yang mengangkat masalah realitas seperti 'Squid Game', 'All of Us Are Dead', dan 'The Glory' memang mendapat perhatian dunia. Namun sekarang, kita justru menginginkan konten yang membuat kita merasa senang daripada karya yang depresif atau kelam. Perlu ada analisis mendalam mengapa psikologi yang lebih menginginkan komedi daripada tragedi ini terbentuk, dan hal itu harus menjadi siklus positif bagi produksi dan pemutaran film.
Tidak harus selalu ada film dengan sepuluh juta penonton agar industri film Korea dikatakan sukses. Yang penting adalah seberapa mampu film dengan biaya efisien yang melampaui titik impas dan bisa diproduksi kembali itu menjangkau penonton. Pada tahap saat ini, bioskop harus membuktikan bahwa mereka adalah ruang yang membuat penonton merasa senang. Secara khusus, penting untuk menyadarkan penonton bahwa ada kesenangan yang lebih besar saat menikmati film bersama-sama, bukan hanya dinikmati sendirian.
Penulis Kim Heon-sik sejak usia 20-an telah menjelajahi atau menelusuri fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan, ia masih menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.