[비즈한국] Lee Jung-hyung, CEO Hour-Lab, mulai terjun ke dunia desain pameran dan perancangan ruang karena terpikat oleh daya tarik desain pameran. Ia memandang pekerjaan sebagai bahasa kreativitas, sekaligus memikirkan realisasi lingkungan kerja yang stabil dan kompensasi yang layak. Pada tanggal 28, CEO Lee tampil sebagai pembicara kelima di 'BrandBiz Conference 2025' untuk memaparkan filosofi kerja dan keresahannya.

Hour-Lab adalah grup kreatif yang terdiri dari desainer dan seniman dari berbagai bidang seperti seni pahat, instalasi, bunga, serta desain visual dan ruang. Mereka merencanakan dan merancang berbagai proyek pemasaran seni, termasuk desain pameran untuk museum seni atau galeri.
CEO Lee, yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa modern, sejak dulu selalu merasa antusias saat mengunjungi museum. Ia terpesona oleh daya tarik khusus dari lingkungan seperti emosi, atmosfer, dan pencahayaan yang ia pikirkan. Secara alami, ia pun memiliki impian di bidang pameran. Faktanya, CEO Lee dulunya adalah seniman seni rupa yang cukup diperhitungkan, namun ia mengalihkan arah kariernya dari seniman menjadi pengelola studio. CEO Lee menjelaskan, “Kami mengerjakan segalanya tentang pameran,” dan menambahkan, “Format pameran itu sendiri kini telah memiliki kegunaan yang beragam.”
CEO Lee menerapkan seni rupa modern ke dalam karya pamerannya. Ia menyebutkan tiga ciri karya yang baik: kontemporeritas, pandangan dunia artistik yang orisinal, dan bahasa visual khas diri sendiri. Kontemporeritas adalah mengenai penanganan cerita atau tema sosial yang dapat dirasakan dan dialami oleh semua orang. Pandangan dunia (worldview) sangat bergantung pada bagaimana seniman mengonkritkan topik penelitian yang ingin mereka angkat. Bahasa visual adalah bagaimana seniman menuangkan cerita mereka ke dalam bahasa melalui media, format, dan konsep.
CEO Lee berkata, “Seniman adalah orang yang terus-menerus memikirkan apa yang ingin mereka sampaikan. Saya rasa mereka adalah orang yang mengumpulkan banyak data, lalu menciptakan cerita mereka sendiri dalam proses mengombinasikan data tersebut.”
Ia terlebih dahulu membuat standar bagi Hour-Lab. Ia ingin Hour-Lab menjadi kelompok yang baik dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Selain meninggalkan kesan baik bagi orang lain, ia ingin mencari alasan untuk terus bersama, seperti saling menghormati dalam hubungan kerja sama yang indah, menjalankan peran masing-masing, dan saling membantu.
Dalam konten, ada hal yang bisa diubah dan ada yang tidak bisa diubah. Contohnya, saat menggelar pameran mobil, mobilnya sendiri tidak bisa diubah, tetapi atmosfer sekitar atau properti pelengkap lainnya bisa diubah. Hour-Lab fokus memikirkan komposisi konten yang bisa diubah tersebut.
Peran ruang juga penting untuk membuat konten menonjol. Ruang yang dimaksud di sini adalah lingkungan dan kondisi pameran. CEO Lee mengatakan, “Saya sangat menyukai peran ruang, dan karena saya memperhatikannya, saya pikir peran ruang pada akhirnya sangat penting dalam menciptakan sebuah momen,” dan menambahkan, “Saya rasa ruang mengarah pada perluasan karya dan perluasan pengalaman.”

CEO Lee menekankan teknik tentang apa yang terlihat dan tidak terlihat saat menggelar pameran. Ia menyampaikan, “Biasanya saya menetapkan rasio 7 banding 3. Meskipun bukan rasio yang kaku, dalam pameran sangat penting untuk menentukan apa yang harus ditunjukkan dan apa yang tidak perlu ditunjukkan. Sama seperti efek *out-of-focus* pada kamera tergantung pada pengaturan *aperture*, dalam ruang fisik pun penting untuk menentukan apa yang ditampilkan dan apa yang tidak.”
Contoh karya representatif Hour-Lab meliputi ponsel pintar ‘Galaxy S23’ milik Samsung Electronics005930 dan ‘Genesis’ milik Hyundai Motor Company005380. Samsung Electronics sebelumnya melengkapi ponsel pintar dengan 2 lensa kamera, tetapi sejak Galaxy S23, mereka mulai memasang 3 lensa. Hour-Lab mengusulkan promosi dengan konsep tiga lensa tersebut sebagai tiga mata: pandangan jarak jauh, jarak menengah, dan jarak dekat. Konsep yang diusulkan Hour-Lab ini dilaksanakan dalam proyek bernama ‘Explorer The New’ di acara *pop-up* Galaxy S23.
Dalam pameran ‘Neolun’ Genesis Hyundai Motor Company, mereka menyebut Neolun sebagai ‘Raja’ dan merancang ruang dengan motif perasaan saat hendak menghadap raja. Untuk acara peluncuran G90 Black, mereka menampilkan konsep ‘Dunia Semuanya Hitam’.
CEO Lee Jung-hyung menyatakan harapannya agar Hour-Lab menjadi ‘perusahaan yang memiliki waduk’. Harapannya adalah agar menjadi perusahaan yang tetap giat mengerjakan proyek yang diinginkan, baik saat musim kemarau maupun banjir.
Mimpinya saat ini di usianya yang ke-43 adalah membangun ekosistem yang sehat. CEO Lee berkata, “Telah terbentuk berbagai ekosistem hubungan kolaboratif dengan orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti kami. Saya ingin ekosistem ini berkembang berdasarkan keberlanjutan. Saya rasa proses sama pentingnya dengan hasil.”
CEO Lee menyebutkan ‘mitologisasi’ yang berlebihan sebagai hal yang disayangkan. Untuk membentuk ekosistem yang sehat, diperlukan kompensasi yang sesuai, namun dalam proses terciptanya mitos penciptaan, terkadang kompensasi tersebut menghilang. Ia menyatakan, “Menurut saya, sangat penting bagi seseorang untuk mendapatkan perlakuan yang layak atas apa yang telah mereka kerjakan. Saya tidak bermaksud meminta lebih dari yang dilakukan, tetapi saya rasa perlu ada penataan ulang hingga ke tingkat yang masuk akal dan dapat diterima.”
Logo Hour-Lab berbunyi, ‘Kami melakukannya sendiri. Kami tidak hanya berbicara, kami juga bergerak. Kami terus-menerus bertindak.’ Ada proses intens dalam karya Hour-Lab, dan harus ada alasan yang jelas mengapa semua ini dilakukan bersama. Kejelasan inilah yang menjadi fondasi bagi Hour-Lab hingga hari ini.