주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Mil-Talk TellingEksklusif
Hanwha Aerospace Ungkap Kendaraan Lapis Baja Generasi Berikutnya 'K-NIFV' untuk Pertama Kalinya

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Pada pameran 'Seoul International Aerospace & Defense Exhibition (ADEX 2025)' yang akan diselenggarakan di KINTEX, Ilsan mulai 20 Oktober, Hanwha Aerospace012450 akan mengungkap 'K-NIFV' untuk pertama kalinya. K-NIFV adalah kendaraan lapis baja generasi berikutnya dari Hanwha Aerospace yang menyasar pasar ekspor maupun domestik. Kendaraan ini diproyeksikan menjadi produk ekspor utama generasi berikutnya bagi Hanwha Aerospace karena memiliki karakteristik yang berbeda dari kendaraan lapis baja yang ada, baik dari segi performa, efisiensi ekonomi, maupun kemampuan tempur.

K-NIFV merupakan versi peningkatan performa dari kendaraan lapis baja AS21 Redback yang digunakan oleh Angkatan Darat Australia, dan pada awalnya disebut dengan nama 'Redback-eX'. AS21 Redback sendiri telah diakui memiliki daya tahan kelas dunia karena dilengkapi dengan sistem pertahanan aktif dan rudal anti-tank, sehingga berhasil memenangkan persaingan melawan 'KF41 Lynx' dari Jerman, negara yang dikenal sebagai produsen kendaraan lapis baja tradisional.

K-NIFV adalah model yang dikembangkan berdasarkan AS21 Redback milik militer Australia dengan peningkatan performa dan efisiensi biaya. Model ini dikembangkan untuk mengatasi rendahnya tingkat komponen lokal dan keterbatasan dalam menghadapi ancaman drone pada model Redback sebelumnya. Foto=Dokumentasi Kim Min-seok
K-NIFV adalah model yang dikembangkan berdasarkan AS21 Redback milik militer Australia dengan peningkatan performa dan efisiensi biaya. Model ini dikembangkan untuk mengatasi rendahnya tingkat komponen lokal dan keterbatasan dalam menghadapi ancaman drone pada model Redback sebelumnya. Foto=Dokumentasi Kim Min-seok

Namun, bagi Hanwha Aerospace, Redback memiliki berbagai keterbatasan sehingga memerlukan modifikasi dan perubahan baru. Hal ini dikarenakan adanya batasan yang jelas dalam hal performa dan harga, serta ketidakmampuan untuk memenuhi persyaratan spesifik militer Korea Selatan.

Alasan pertama pengembangan K-NIFV adalah untuk mengatasi masalah harga serta operasional dan pemeliharaan. Meskipun kendaraan lapis baja Redback dikembangkan sendiri oleh Hanwha Aerospace untuk tujuan ekspor, banyak komponen luar negeri yang digunakan untuk mempercepat proses penempatan kekuatan militer. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hampir semua bagian di luar bodi kendaraan adalah barang impor, mulai dari menara senjata (turret) dan alat bidik buatan Australia/Israel, sistem kendali tembakan jarak jauh, rudal anti-tank dan sistem pertahanan aktif (APS) buatan Israel, hingga meriam otomatis dan lapisan pelindung ranjau buatan Amerika Serikat.

Karena sebagian besar komponen inti Redback merupakan produk luar negeri, tingkat komponen lokalnya sangat rendah, yang memicu kritik bahwa kendaraan tersebut "hanya buatan lokal di luar saja". Selain itu, sulit untuk mendapatkan daya saing harga, dan jadwal pengiriman peralatan impor juga menjadi masalah, terutama karena mitra di Israel dan Amerika Serikat sering kali kewalahan memenuhi pesanan yang membludak setelah perang Ukraina.

Alasan kedua pengembangan K-NIFV adalah untuk mencerminkan pelajaran dari perang di Ukraina. Meski Redback masih menjadi salah satu kendaraan lapis baja terbaik di dunia, model tersebut didasarkan pada pelajaran dari perang di Afghanistan dan Irak sebelum perang Ukraina. Oleh karena itu, model tersebut tidak memiliki kemampuan untuk menanggulangi ancaman drone yang menjadi kunci peningkatan daya tahan kendaraan lapis baja saat ini, sehingga diperlukan fungsi baru untuk mengatasinya.

K-NIFV hadir untuk menyelesaikan kedua masalah tersebut. Pertama, untuk meningkatkan tingkat komponen lokal, semua suku cadang inti telah dilokalkan. Hanwha Systems272210 menangani alat bidik menara senjata dan APS, divisi LS Hanwha Aero menangani sistem kendali tembakan jarak jauh (RCWS), komando PGM Hanwha Aero menangani rudal anti-tank baru berbasis rudal anti-tank Cheongeom, serta SNT Dynamics menangani pengembangan lokal untuk meriam otomatis dan transmisi. Langkah ini tidak hanya mengurangi arus keluar mata uang asing akibat pembelian luar negeri, tetapi juga menghilangkan barang-barang yang terkena kontrol ekspor, sehingga mengurangi biaya perolehan serta biaya operasional dan pemeliharaan.

K-NIFV tidak hanya meningkatkan rasio komponen lokal saja. Dengan mengadopsi menara senjata tanpa awak (unmanned turret), ruang internal bertambah tanpa mengubah bodi kendaraan, sehingga mampu menampung 8 awak dan menyediakan ruang penyimpanan tambahan.

Peningkatan terbesar K-NIFV adalah kemampuannya dalam "pertahanan terhadap drone kelas dunia". Untuk tujuan ini, K-NIFV menggunakan meriam otomatis 30mm atau meriam CTA 40mm yang mampu menyerang drone bunuh diri atau amunisi yang berkeliaran pada jarak 3-4 km. Selain itu, kendaraan ini dilengkapi dengan radar deteksi drone C-UAS untuk penembakan. Dalam prosesnya, AI (kecerdasan buatan) diterapkan pada alat bidik penembak dan komandan untuk melacak drone musuh secara otomatis.

Jika drone mendekat hingga jarak 1 km, 'RCWS Cerdas' yang baru dikembangkan akan merespons. RCWS ini juga dilengkapi dengan AI dan radar pendeteksi drone sehingga mampu melacak dan menembak drone ultra-kecil sekelas drone DJI secara otomatis. Terakhir, jika drone musuh mendekat hingga jarak 300 m, APS yang menjadi pertahanan terakhir akan menembakkan peluru pencegat. Singkatnya, K-NIFV menjadi satu-satunya kendaraan lapis baja di dunia yang memiliki 'sistem pertahanan drone berlapis'.

K-NIFV mulai dikembangkan sejak Oktober 2024 dengan anggaran 34,5 miliar won sebagai bagian dari proyek modifikasi sistem senjata. Saat ini, tinjauan desain kritis (Critical Design Review) telah dilaporkan lulus. Semua pengembangan akan selesai pada Maret 2028, dan produsennya, Hanwha Aerospace, sedang menawarkan unit ini untuk proyek penggantian kendaraan lapis baja unit pengintai lapis baja K200A1 yang dioperasikan Angkatan Darat Korea. Selain itu, konsultasi dan demonstrasi performa lokal akan dilakukan untuk ekspor ke negara-negara seperti Rumania, Italia, Norwegia, UEA, dan Arab Saudi.

Setelah pengembangan K-NIFV berhasil diselesaikan, kendaraan penerusnya, 'K-NIFV Block-2', akan dikembangkan untuk menggantikan kendaraan lapis baja K21 milik Angkatan Darat Korea. Selain fitur K-NIFV Block-1, kendaraan lapis baja generasi berikutnya Block-2 akan mengadopsi mesin penggerak hibrida seri, peralatan suspensi aktif, peralatan pertahanan aktif hibrida, dan fitur kesadaran situasional penuh segala arah.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민석 한국국방안보포럼 연구위원

김민석은 미국 워싱턴에 본사를 둔 에비에이션 위크(Aviation Week)의 한국 특파원이자 한국국방안보포럼(KODEF) 연구위원. 국방일보 등 여러 매체에서 방위산업·국방 전문기자로 활동하고 있다. ‘달란트 투자’, ‘신사임당’, ‘경제한방’, ‘증시각도기’, ‘와이스트릿’ 등 경제·시사 유튜브 채널과 KFN TV ‘리얼웨폰 K’, ‘디펜스 프라임’에 출연해 국제정치와 방위산업 현안을 진단해왔다. 저서로 방위산업 투자 안내서 ‘K-방산에 투자하라’가 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지