[비즈한국] Muncul perhatian terkait apakah ratusan paket layanan komunikasi seluler dapat diintegrasikan dan disederhanakan. Saat ini, konsumen merasa bingung dan kesulitan dalam memilih karena operator seluler yang sama menawarkan paket dengan isi yang serupa. Oleh karena itu, pemerintah sedang bersiap meluncurkan 'Paket Terintegrasi' dalam tahun ini melalui konsultasi dengan 3 operator seluler utama, yakni SK Telecom017670, KT030200, dan LG Uplus032640. Selain itu, muncul pula seruan untuk mendorong peluncuran operator seluler keempat guna menciptakan efek penurunan harga layanan.

Berdasarkan data yang diterima oleh anggota parlemen Choi Su-jin dari Partai Kekuatan Rakyat (perwakilan proporsional) yang duduk di Komite Sains, TIK, Penyiaran, dan Komunikasi Majelis Nasional pada tanggal 19, terdapat 718 paket layanan yang dioperasikan oleh 3 operator telekomunikasi tersebut. Angka ini belum termasuk puluhan penyedia layanan seluler murah (MVNO), sehingga jika digabungkan, diperkirakan jumlah paket layanan komunikasi seluler bisa mencapai lebih dari 1.000 jenis.
Pihak anggota parlemen Choi menjelaskan bahwa Kementerian Sains dan TIK sedang mempersiapkan perombakan tarif agar konsumen dapat memilih paket layanan komunikasi seluler dengan lebih rasional, dan saat ini sedang dalam tahap penyelesaian bersama 3 operator telekomunikasi untuk peluncuran tahun ini. Paket ini dilaporkan menggunakan metode 'Paket Terintegrasi' yang memungkinkan pengguna memilih tarif berdasarkan kapasitas data atau kecepatan transmisi tanpa perlu membedakan antara jaringan LTE dan 5G. Choi menyatakan, "Karena sistem tarif 3 operator telekomunikasi terlalu rumit, perlu adanya penerapan paket terintegrasi tanpa membedakan 5G dan LTE guna mengurangi beban biaya komunikasi rumah tangga dan memperluas hak pilihan konsumen."
Paket layanan operator telekomunikasi merupakan topik yang selalu mendapat sorotan dalam audit negara setiap tahun. Menurut Badan Pusat Statistik Korea, per kuartal kedua tahun ini, rata-rata pengeluaran bulanan rumah tangga (rumah tangga umum dengan 1 orang atau lebih di seluruh negeri) untuk layanan komunikasi adalah 100.000 won, atau setara dengan 3,5% dari total pengeluaran konsumsi (2.836.000 won). Dalam audit negara tahun lalu, sempat disoroti bahwa paket LTE dari 3 operator tersebut lebih mahal dibandingkan paket 5G. Meskipun operator kemudian menghentikan pendaftaran baru untuk sebagian besar paket LTE, baru-baru ini muncul kontroversi bahwa mereka tidak menginformasikan dengan jelas kepada pelanggan lama mengenai paket 5G yang lebih murah. Menurut Kementerian Sains dan TIK, jumlah pelanggan LTE dari 3 operator tersebut mencapai 9.716.166 hingga bulan Agustus tahun ini.
Dalam audit negara tahun ini, paket 5G yang mahal kembali menjadi topik hangat. Anggota parlemen Lee Hoon-ki dari Partai Demokrat Korea (Distrik Namdong-gu Eul, Incheon) menyatakan dalam audit Kementerian Sains dan TIK oleh komite terkait pada tanggal 13, "Rata-rata tagihan komunikasi seluler masyarakat adalah 56.000 won per bulan, sementara paket 5G sekitar 80.000 won. Dibandingkan 10 tahun lalu, biaya komunikasi rumah tangga naik sekitar 20%, yang sangat membebani rakyat." Ia menambahkan, "3 operator telekomunikasi mengadopsi metode Non-Standalone (NSA) yang mencampurkan 4G dan 5G sehingga tidak benar-benar menghadirkan paket 5G yang layak. Karena khawatir pendapatan dan laba operasional mereka turun, hal ini tidak bisa tidak dianggap sebagai kartel kolusi."
Ia juga menekankan perlunya memperkenalkan operator seluler keempat dengan merujuk pada contoh di Jepang. Lee menekankan, "Setelah Rakuten, operator seluler keempat di Jepang, meluncurkan paket 5G tak terbatas di kisaran 30.000 won, operator telekomunikasi Jepang lainnya juga mulai menurunkan harga." Terkait hal ini, Wakil Perdana Menteri Sains dan Teknologi sekaligus Menteri Sains dan TIK menjawab, "Jika sebelumnya lingkungan pemerintah menentukan pita frekuensi terlebih dahulu dan membatasi operator hanya bisa masuk dalam kerangka tersebut, ke depannya, jika muncul operator yang berpengaruh, kami akan memperbaiki sistem agar mereka bisa menentukan sendiri pita frekuensi dan mengambil tantangan."