주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Investasi Paling Biasa
Tidak Ada Saham yang Terus Naik Selamanya

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Melihat pasar akhir-akhir ini, rasanya seolah kita hidup di dunia di mana 'semuanya naik'. Pasar saham domestik terus memecahkan rekor tertinggi berkat ekspektasi terhadap kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, sementara harga apartemen di wilayah utama Seoul melonjak tajam. Harga emas telah mencetak rekor sepanjang masa, dan Bitcoin kembali bergairah di tengah kenaikan pasar saham AS serta aliran dana masuk ke Bitcoin Exchange Traded Fund (ETF). Ungkapan "beli apa saja pasti untung" kini tidak lagi terdengar seperti lelucon. Para ahli menyebut fenomena ini sebagai 'Everything Rally' (reli segalanya) yang dipicu oleh ekspektasi terhadap berbagai faktor pendukung. Namun, ada pula yang mengingat fakta bahwa ironisnya, saat pasar sedang panas-panasnya adalah saat yang paling berbahaya.

AI와 유동성 확대에 힘입은 ‘에브리씽 랠리’로 주식·부동산·금 등 자산이 모두 오르고 있지만, 이는 실물 경기 회복보다 기대감과 심리에 기반한 불안정한 상승이라는 지적이 나온다. 사진=최준필 기자
‘Everything Rally’ yang didorong oleh AI dan perluasan likuiditas membuat aset seperti saham, properti, dan emas semuanya naik, namun muncul kritik bahwa ini adalah kenaikan tidak stabil yang lebih didasarkan pada ekspektasi dan sentimen psikologis daripada pemulihan ekonomi riil. Foto=Wartawan Choi Joon-pil

Menurut iM Securities, kenaikan saat ini didasarkan pada tiga faktor: pembangunan ekosistem AI, perluasan likuiditas, dan stabilisasi risiko kredit, alih-alih pemulihan ekonomi. Restrukturisasi rantai pasokan AI yang berpusat di AS, pertumbuhan bersama perusahaan-perusahaan inti seperti Nvidia dan OpenAI, serta likuiditas berbasis Yen yang dipicu oleh 'Sanaenomics' di Jepang disebut-sebut sebagai pendorong pasar. Bahkan di tengah apa yang disebut 'ekonomi gelap' di mana indikator ekonomi utama tidak dapat dirilis akibat penutupan (shutdown) pemerintah federal AS, harga aset tetap naik. Suku bunga stabil, selisih kredit (credit spread) menyempit, dan uang kembali mengalir ke aset berisiko.

Namun, reli ini lebih merupakan produk dari ekspektasi kebijakan dan sentimen psikologis dibandingkan ekonomi riil. Park Sang-hyun, komisioner ahli iM Securities, memprediksi, "Meskipun ekonomi global bergerak lambat, reli harga aset-aset utama akan berlanjut dengan bersandar pada pembangunan ekosistem AI dan kekuatan likuiditas."

Sejarah telah menunjukkan pemandangan serupa berkali-kali. Gelembung dot-com awal 2000-an, krisis keuangan global 2008, dan reli likuiditas 2021 semuanya dimulai ketika 'ekspektasi mendahului realitas'. Pada tahun 2000, ketika internet mengubah dunia, orang-orang berkata, "Kali ini ada realitasnya." Namun, kecepatan keserakahan investor tumbuh lebih cepat daripada kecepatan teknologi mengubah dunia. Hasilnya adalah kejatuhan. Pada 2008, ada keyakinan bahwa "properti tidak akan pernah turun", dan keserakahan yang dipadukan dengan rekayasa keuangan serta leverage akhirnya meruntuhkan sistem keuangan itu sendiri. Pada 2021, suku bunga nol dan likuiditas besar-besaran mengangkat semua aset. Saham, properti, koin, hingga karya seni semuanya naik dan orang-orang menyebut bahwa 'dunia baru' telah terbuka. Namun, begitu suku bunga naik, dunia baru itu lenyap dalam sekejap.

Tentu saja, perbedaan siklus kali ini adalah realitas inovasi teknologinya terlihat jelas. Inovasi produktivitas yang akan dibawa AI adalah nyata. Namun, 'kecepatan inovasi' dan 'kecepatan keuntungan' adalah dua hal yang berbeda. Internet tahun 2000-an memang benar-benar mengubah dunia, tetapi selama 10 tahun setelah gelembung pecah, investor tidak bisa memulihkan uang mereka yang hilang. Dengan kata lain, harga saham tidak akan naik selamanya hanya karena teknologinya benar.

Variabel lain adalah ketidakseimbangan likuiditas. Suku bunga kebijakan telah berhenti naik, tetapi suku bunga riil masih tinggi dan kinerja perusahaan melambat. Situasi di mana uang belum mengalir tetapi ekspektasi sudah mendahului adalah fase awal yang khas dari gelembung ekonomi. Itulah sebabnya pasar bisa sangat terguncang bahkan oleh guncangan kecil.

Krisis pasar keuangan tidak berakhir hanya dalam satu kali. Karena keserakahan manusia terus berulang. Di tengah tarik-ulur antara keserakahan dan ketakutan, ketika keserakahan menang, pasar membentuk gelembung, dan ketika ketakutan menang, krisis menghampiri pasar. Ungkapan "krisis keuangan terjadi setiap 10 tahun" bukanlah sekadar pepatah.

Baru-baru ini, harga saham Samsung Electronics005930 mencapai kisaran 94.000 won, membuat para investor yang telah lama menderita akhirnya bisa tersenyum lebar. Bahkan ada guyonan yang beredar, "Tim penyelamat akhirnya datang, tapi sekarang saya tidak ingin diselamatkan lagi."

Yang dibutuhkan saat ini bukanlah keyakinan, melainkan persiapan. Daripada kecemasan "jika tidak membeli sekarang akan terlambat", ketenangan untuk berpikir "mungkin ini adalah gelombang terakhir" jauh lebih penting. Itulah sebabnya sebagian orang mulai menunjukkan kewaspadaan dengan berkata, "Saya harus menjual semuanya di akhir tahun" atau "Saya harus mencairkan aset di awal tahun depan."

Namun, sebagian besar investor masih ragu. "Bukankah saya bodoh jika menjual sekarang saat semuanya sedang naik?" Ini adalah kekhawatiran paling realistis di pasar saat ini. Namun, ini bukan sekadar masalah "jangan jual" atau "jual sekarang". Ini adalah masalah dari perspektif mana kita melihat pasar.

Reli segalanya (Everything Rally) mungkin berlanjut untuk sementara waktu. Namun, tidak ada yang tahu sampai kapan. Hal ini karena aset terus naik tanpa didukung oleh stamina ekonomi riil. Masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai 'puncak', namun berbahaya jika menganggap reli ini sebagai 'bukti pemulihan struktural'. Di masa depan, pasar bisa sangat bergejolak tergantung pada variabel makro, seperti goyahnya kebijakan penurunan suku bunga atau gagalnya negosiasi tarif antara Korea dan AS.

Dulu di kalangan sekuritas ada istilah, "Jika ibu-ibu yang menggendong anak muncul di kantor pialang, pasar saham sedang berada di titik gelembung." Ketika semua orang terjun ke investasi tanpa bertanya atau menganalisis, pasar selalu berada di puncaknya. Untuk mengurangi kerugian akibat pecahnya gelembung, kita perlu merenungkan kata-kata Warren Buffett: "Jangan berinvestasi pada bidang yang tidak Anda mengerti."

Secara historis, pasar selalu runtuh pada saat orang berpikir "sedikit lagi". Reli segalanya memang belum berakhir, tetapi kita harus bersiap menghadapi dampaknya sejak sekarang.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김세아 금융 칼럼니스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지