주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Wakil Perdana Menteri Ekonomi Goo Yun-cheol Bertemu Menteri Keuangan AS, Akankah Jalan Buntu Negosiasi Tarif Korea-AS Terurai?

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Minggu ini diprediksi akan menjadi titik balik krusial bagi penyelesaian negosiasi tarif antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan Wakil Perdana Menteri Ekonomi sekaligus Menteri Ekonomi dan Keuangan, Goo Yun-cheol, sedang mengupayakan pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Perhatian tertuju pada apakah pertemuan ini mampu membalikkan situasi yang macet dalam proses formalisasi kesepakatan, setelah negosiasi tarif sempat mencapai kesepakatan dramatis pada akhir Juli lalu.

Wakil Perdana Menteri Ekonomi sekaligus Menteri Ekonomi dan Keuangan, Goo Yun-cheol, menarik perhatian apakah ia dapat membuka alur baru bagi penyelesaian negosiasi tarif Korea-AS yang sedang macet. Foto menunjukkan Wakil Perdana Menteri Ekonomi Goo Yun-cheol saat menyampaikan pandangannya dalam sesi tanya jawab pemerintah bidang ekonomi pada rapat pleno Majelis Nasional bulan lalu. Foto=Reporter Park Eun-sook
Wakil Perdana Menteri Ekonomi sekaligus Menteri Ekonomi dan Keuangan, Goo Yun-cheol, menarik perhatian apakah ia dapat membuka alur baru bagi penyelesaian negosiasi tarif Korea-AS yang sedang macet. Foto menunjukkan Wakil Perdana Menteri Ekonomi Goo Yun-cheol saat menyampaikan pandangannya dalam sesi tanya jawab pemerintah bidang ekonomi pada rapat pleno Majelis Nasional bulan lalu. Foto=Reporter Park Eun-sook

Berdasarkan data dari Kementerian Ekonomi dan Keuangan pada tanggal 12, Wakil PM Goo akan berangkat pada tanggal 15 untuk menghadiri pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 serta pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia (WB) yang diadakan di Washington, AS. Dikabarkan bahwa Wakil PM Goo akan bertemu dengan Menteri Bessent untuk mendiskusikan isu-isu keuangan antara kedua negara, dan diharapkan negosiasi mengenai metode pendanaan senilai 350 miliar dolar AS (502,25 triliun won), yang menjadi prasyarat bagi penyelesaian negosiasi tarif Korea-AS, juga akan dilakukan.

Presiden AS Donald Trump pada tanggal 25 bulan lalu menyebut dana investasi ke AS senilai 350 miliar dolar AS yang ditetapkan dalam negosiasi tarif Korea-AS sebagai 'pembayaran di muka (upfront)', serta menekan adanya investasi tunai langsung. Menanggapi hal ini, pemerintah Korea bersikap tegas dengan menyatakan akan membentuk dana yang berpusat pada pinjaman dan penjaminan, bukan investasi langsung seperti pada negosiasi tarif AS-Jepang. Pihak Korea menuntut antara lain: pembentukan swap mata uang Korea-AS tanpa batas, rasio investasi langsung pada tingkat yang wajar, serta jaminan hak untuk berpartisipasi dalam pemilihan lokasi investasi berdasarkan 'rasionalitas komersial'. Presiden Lee Jae-myung dalam wawancaranya dengan Reuters baru-baru ini juga menyatakan kekhawatirannya, “Jika Korea menginvestasikan 350 miliar dolar AS secara tunai ke AS sesuai permintaan tanpa adanya swap mata uang Korea-AS, ekonomi Korea dapat mengalami guncangan hebat dan menghadapi krisis serius seperti krisis keuangan tahun 1997.”

Di tengah kebuntuan negosiasi tarif Korea-AS, industri yang berorientasi pada ekspor seperti otomotif menghadapi kesulitan besar. Presiden Trump secara resmi menandatangani perintah eksekutif tentang pelaksanaan kesepakatan tarif dengan Jepang bulan lalu, yang menurunkan tarif mobil yang diproduksi di negara tersebut dari 25% menjadi 15%. Namun, bagi perusahaan domestik Korea, tarif 25% yang telah berlaku sejak 3 April masih tetap dipertahankan.

Hal yang sama juga terjadi pada industri baja, tembaga, dan aluminium.

Produk baja dan aluminium telah dikenakan tarif sebesar 50% sejak 4 Juni, dan produk tembaga sejak 1 Agustus.

Industri farmasi dan bio juga berada dalam krisis. Presiden Trump menyatakan bahwa mulai tanggal 1 bulan ini, ia akan memberlakukan tarif barang sebesar 100% pada obat-obatan bermerek dan paten kecuali jika pabrik manufaktur obat tersebut telah dibangun atau sedang dalam proses pembangunan di AS. Ia juga menyatakan akan menaikkan tarif tersebut hingga 150-200% di masa depan.

Untuk semikonduktor, meskipun belum dikenakan tarif, terdapat kemungkinan besar akan diterapkan tarif tinggi lebih dari 100% seperti pada produk farmasi. Selain itu, dengan meningkatnya konflik perdagangan antara AS dan Tiongkok, pasokan tanah jarang (rare earth) yang penting bagi industri teknologi tinggi seperti semikonduktor kemungkinan besar akan terhambat. Menurut IEA (Badan Energi Internasional), pangsa penambangan tanah jarang Tiongkok per Mei mencapai 60%. Di bidang pemrosesan seperti pemisahan dan pemurnian, Tiongkok menguasai pangsa pasar lebih dari 90%.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
최영찬 기자

제약바이오 분야 출입하고 있습니다. 많이 듣고 많이 공부해 정확하게 쓰도록 하겠습니다.

chan111@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지