주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Keputusan 'Perceraian Abad Ini' antara Chey Tae-won dan Roh Soh-yeong Segera Tiba… Akankah Struktur Tata Kelola SK Terguncang?

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Gugatan perceraian dan pembagian harta antara Ketua Grup SK034730, Chey Tae-won, dan Direktur Art Center Nabi, Roh Soh-yeong, kini menanti putusan Mahkamah Agung. Seiring dengan mendekatnya babak akhir dari apa yang disebut sebagai 'gugatan perceraian abad ini' yang telah berlangsung selama hampir 10 tahun, perhatian dunia bisnis tidak lagi sekadar tertuju pada status perceraian mereka, melainkan pada dampak yang akan ditimbulkan oleh putusan tersebut terhadap struktur tata kelola Grup SK. Jika jumlah pembagian harta senilai 1 triliun won yang ditetapkan pada pengadilan tingkat banding tetap dipertahankan, kemungkinan terjadinya pergerakan saham dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia bisnis mulai ramai diperbincangkan.

Ketua Grup SK, Chey Tae-won, menghadiri persidangan banding kedua kasus perceraian dengan Direktur Art Center Nabi, Roh Soh-yeong, yang digelar di Pengadilan Tinggi Seoul, Distrik Seocho, Seoul, pada 16 April tahun lalu. Foto=Wartawan Park Jung-hoon
Ketua Grup SK, Chey Tae-won, menghadiri persidangan banding kedua kasus perceraian dengan Direktur Art Center Nabi, Roh Soh-yeong, yang digelar di Pengadilan Tinggi Seoul, Distrik Seocho, Seoul, pada 16 April tahun lalu. Foto=Wartawan Park Jung-hoon
Direktur Art Center Nabi, Roh Soh-yeong, menghadiri persidangan banding kedua kasus perceraian dengan Ketua Grup SK, Chey Tae-won, yang digelar di Pengadilan Tinggi Seoul, Distrik Seocho, Seoul, pada 16 April tahun lalu. Foto=Wartawan Park Jung-hoon
Direktur Art Center Nabi, Roh Soh-yeong, menghadiri persidangan banding kedua kasus perceraian dengan Ketua Grup SK, Chey Tae-won, yang digelar di Pengadilan Tinggi Seoul, Distrik Seocho, Seoul, pada 16 April tahun lalu. Foto=Wartawan Park Jung-hoon

Kasus ini bermula pada Desember 2015 ketika Ketua Chey secara terbuka mengungkapkan keberadaan anak di luar nikahnya. Tahun berikutnya, keduanya memasuki proses mediasi perceraian namun gagal, dan pertarungan hukum dimulai secara resmi setelah Ketua Chey mengajukan gugatan cerai pada tahun 2018. Direktur Roh merespons dengan gugatan balik, menuntut pembagian harta senilai 1 triliun won.

Putusan tingkat pertama dijatuhkan oleh Pengadilan Keluarga Seoul pada Desember 2022. Saat itu, pengadilan mengakui saham SK Co., Ltd. sebagai harta khusus yang diwarisi dari mendiang Ketua Choi Jong-hyun, sehingga menetapkan nilai pembagian harta sekitar 66,5 miliar won. Gugatan cerai Ketua Chey juga diterima dengan alasan bahwa ia telah mempertahankan hubungan layaknya suami istri dengan pihak lain. Namun, Direktur Roh segera mengajukan banding.

Tingkat banding diputuskan oleh Pengadilan Tinggi Seoul pada Desember 2023. Majelis hakim banding membalikkan putusan tingkat pertama dan menetapkan nilai pembagian harta sebesar 1,3808 triliun won. Poin kuncinya adalah penilaian bahwa saham SK bukan sekadar harta warisan, melainkan aset yang terbentuk dari kontribusi bersama pasangan selama masa pernikahan. Secara khusus, pengadilan banding mengakui sebagian kemungkinan masuknya dana gelap yang terkait dengan mantan Presiden Roh Tae-woo, yang disebut sebagai '30 miliar won Sunkyung', sehingga memberikan nilai tinggi pada kontribusi pembentukan harta tersebut. Dengan demikian, gugatan ini berkembang menjadi kasus besar yang melibatkan struktur kepemilikan saham dan interpretasi hukum, bukan sekadar perselisihan perceraian biasa.

Mahkamah Agung mulai menyidangkan kasus ini melalui sidang pleno (Jeonwon-hapuiche) pada 18 September lalu. Meskipun gugatan hukum keluarga biasanya sering diakhiri dengan penolakan banding (tidak diadili), kasus ini tidak dapat menghindari persidangan formal karena melibatkan masalah hukum yang kompleks, seperti batasan antara harta warisan dan kontribusi bersama selama pernikahan, kemungkinan pembagian dana ilegal, dan penghitungan nilai saham. Prediksi yang dominan adalah Mahkamah Agung akan menetapkan tanggal putusan antara November hingga Desember setelah melalui tinjauan internal. Analisis dari kalangan hukum menyebutkan bahwa mengingat durasi rata-rata persidangan pleno, kemungkinan kesimpulan tercapai dalam tahun ini cukup tinggi.

Ada tiga poin sengketa utama. Pertama, apakah saham SK Co., Ltd. sebagai aset warisan dikecualikan dari objek pembagian, atau dapat diakui sebagai harta bersama pasangan. Kedua, apakah dana gelap '30 miliar won Sunkyung' yang terkait dengan mantan Presiden Roh Tae-woo benar-benar ada dan bagaimana validitas bukti tersebut. Pengadilan banding mengakui masuknya dana tersebut berdasarkan catatan memo dan surat promes, namun Mahkamah Agung kini meninjau kembali hal tersebut. Ketiga, masalah penghitungan nilai saham Daehan Telecom, cikal bakal SK. Pengadilan banding menilainya sebesar 100 won, namun pihak Ketua Chey mengklaim nilainya harus 1.000 won, sehingga menyatakan penghitungan pembagian tersebut salah. Metode penghitungan ini memiliki dampak langsung pada besaran total nilai pembagian. Selain itu, prosedur legalitas putusan koreksi dari pengadilan banding juga masuk dalam cakupan tinjauan Mahkamah Agung.

Jika putusan banding disahkan, Ketua Chey harus menyediakan dana pembagian yang sangat besar. Penjualan saham SK Co., Ltd. atau penggalangan dana mungkin tidak terelakkan, yang dapat berdampak langsung pada stabilitas tata kelola grup. Karena SK berbasis pada sistem perusahaan induk di mana saham individu pemilik menjadi inti dari kendali manajemen, perubahan kepemilikan saham kemungkinan besar akan menyebabkan ketidakpastian hak manajemen. Sebaliknya, jika Mahkamah Agung membatalkan atau mengembalikan kasus tersebut, skala pembagian mungkin berkurang, namun ketidakpastian manajemen bisa meningkat karena proses hukum yang berlarut-larut. Terutama karena SK sedang menjalankan investasi skala besar di sektor utama seperti semikonduktor, energi, dan bio, masalah saham pemilik berpotensi menjadi risiko jangka menengah hingga panjang.

Gugatan ini dinilai sebagai kasus langka di mana pernikahan dan warisan keluarga konglomerat, hubungan masa lalu antara kekuasaan dan modal, serta tata kelola perusahaan saling berkelindan. Kalangan hukum mengangkat kemungkinan bahwa putusan ini akan menjadi standar hukum bagi gugatan perceraian aset bernilai tinggi di masa depan. Seorang pejabat dunia bisnis menyatakan, "Jika pembagian senilai 1 triliun won disahkan, tidak hanya perpindahan saham SK Co., Ltd., tetapi keseluruhan struktur tata kelola grup bisa terguncang. Ini akan menjadi contoh klasik di mana kehidupan pribadi pemilik beralih menjadi risiko manajemen perusahaan."

Besar kemungkinan putusan Mahkamah Agung akan keluar paling cepat bulan November atau selambat-lambatnya menjelang akhir tahun. Bagi Ketua Chey dan Direktur Roh, ini akan menjadi akhir dari gugatan yang telah berlangsung selama 10 tahun, namun bagi Grup SK, ini diperkirakan menjadi titik balik yang dapat mengguncang persamaan hak manajemen mereka. Kasus ini kini semakin berpotensi tercatat sebagai peristiwa simbolis yang mengguncang struktur tata kelola dunia bisnis Korea, melampaui sekadar gugatan perceraian biasa.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
우종국 기자

기업의 움직임 뒤에 있는 구조와 이해관계를 취재합니다. 드러난 사건보다 그 사건이 벌어진 이유를 설명하는 기사를 쓰고자 합니다.

xyz@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지