[비즈한국] Sebuah momen bersejarah tercipta dalam sejarah politik Jepang. Dalam pemilihan presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang yang digelar pada tanggal 4, Sanae Takaichi terpilih sebagai presiden baru setelah melalui pemungutan suara putaran kedua, menjadikan peluang lahirnya perdana menteri wanita pertama di Jepang menjadi kenyataan.
Dalam putaran kedua, Takaichi menang melawan Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Shinjiro Koizumi dengan perolehan 185 berbanding 156 suara. Karena LDP masih memegang status sebagai partai terbesar di Majelis Rendah Parlemen, pemilihan presiden baru ini secara de facto berarti pengangkatan sebagai perdana menteri. Dengan ini, Jepang kemungkinan besar akan menyambut perdana menteri wanita untuk pertama kalinya sejak penerapan konstitusi pascaperang pada tahun 1947.

Apakah terpilihnya Takaichi sebagai presiden partai akan langsung berujung pada pemerintahan yang stabil masih menjadi tanda tanya. LDP baru-baru ini kehilangan kursi-kursi penting dalam pemilihan umum dan gagal meraih mayoritas tunggal. Oleh karena itu, kerja sama dengan partai koalisi, Komeito, menjadi krusial, dan negosiasi dengan partai oposisi juga tidak terelakkan. Politik faksi yang kuat masih beroperasi di dalam LDP, sehingga dinilai bahwa Takaichi akan membutuhkan waktu untuk menunjukkan kepemimpinan yang stabil sebagai presiden baru. Meskipun secara tradisional sudah menjadi aturan tak tertulis bahwa presiden LDP akan menjabat sebagai perdana menteri, masih ada variabel prosedural karena pemungutan suara pengesahan di Parlemen masih harus dilakukan.
Dari sisi kecenderungan politik, Takaichi diklasifikasikan sebagai politisi konservatif garis keras terkemuka di dalam LDP. Ia menekankan penguatan keamanan Jepang dan pelindungan nilai-nilai tradisional, serta secara konsisten menyerukan perlunya revisi konstitusi. Dalam kebijakan ekonomi, ia menekankan pentingnya kesehatan fiskal dan respons terhadap krisis secara bersamaan, serta menekankan perlunya investasi skala besar pada industri strategis seperti semikonduktor, AI, dan bioteknologi.
Di saat yang sama, ia cenderung menunjukkan sikap konservatif terhadap perubahan sistem terkait kesetaraan gender yang terus diangkat dalam masyarakat Jepang. Ia mengambil sikap negatif terhadap isu-isu seperti izin penggunaan nama keluarga yang berbeda bagi wanita yang sudah menikah atau suksesi takhta kekaisaran oleh wanita, sehingga ada pandangan bahwa "munculnya perdana menteri wanita" mungkin tidak serta merta mengarah pada kemajuan kesetaraan gender.
Pemilihan presiden kali ini dipandang sebagai peristiwa yang menandai perubahan drastis dalam lanskap politik Jepang. Sebelum Takaichi terpilih, sudah beberapa kali muncul kandidat presiden wanita dari LDP, namun mereka selalu gagal dalam kompetisi tahap akhir. Kemenangan ini menunjukkan bahwa dinamika politik di dalam partai sedang berubah, sekaligus mencerminkan diversifikasi tuntutan para pemilih. Khususnya, putaran kedua melawan Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi berlangsung dalam kerangka "perubahan generasi versus konservatif garis keras", dan secara akhir dianalisis bahwa kubu konservatif tradisional di dalam partai berhasil meraih kemenangan.
Selanjutnya, pemilihan penunjukan perdana menteri akan dilakukan di Parlemen. Secara prosedural, perdana menteri dipilih melalui pemungutan suara di kedua majelis, yaitu Majelis Rendah dan Majelis Tinggi, dan kandidat yang memperoleh mayoritas di Majelis Rendah secara resmi diangkat menjadi perdana menteri. LDP masih mempertahankan posisi partai nomor satu di Majelis Rendah, dan bersama partai koalisi Komeito mampu mengamankan mayoritas, sehingga kemungkinan besar Takaichi akan resmi menjabat sebagai perdana menteri ke-102 sekaligus perdana menteri wanita pertama Jepang. Pelantikan yang sebenarnya akan dilakukan setelah melalui proses penunjukan perdana menteri dan pembentukan kabinet, dan muncul prediksi bahwa kabinet baru bisa terbentuk dalam bulan ini jika pengesahan dipercepat.
Sementara itu, dalam proses pemilihan presiden ini, Takaichi sempat menyatakan bahwa negosiasi ulang dimungkinkan jika ditemukan bagian dari perjanjian yang disepakati Jepang dalam negosiasi perdagangan AS-Jepang baru-baru ini yang tidak sesuai dengan kepentingan nasional. Secara khusus, ia telah berulang kali menyatakan bahwa jika dirinya terpilih sebagai presiden partai, ia akan meninjau kembali perjanjian tersebut jika terdapat elemen yang tidak adil dalam klausul paket investasi senilai 550 miliar dolar yang dijanjikan Jepang kepada AS. Pernyataan ini diinterpretasikan sebagai ruang bagi Takaichi untuk menyesuaikan sikap negosiasi Jepang terhadap AS menjadi lebih tegas jika ia menjadi perdana menteri. Seiring dengan hal tersebut, perhatian pun tertuju pada bagaimana terpilihnya Takaichi sebagai presiden partai akan memengaruhi negosiasi perdagangan Korea-AS yang saat ini masih berlangsung.