[비즈한국] Pengadilan kembali mengeluarkan putusan di tingkat banding yang memerintahkan pembukaan informasi mengenai status terjadinya kecelakaan kerja berat. Putusan ini sekali lagi menegaskan pentingnya transparansi informasi mengenai kecelakaan kerja. Masyarakat sipil menilai bahwa putusan ini secara hukum mengakui hak warga negara untuk mengetahui informasi demi menciptakan tempat kerja yang aman.

Pada 2 Oktober, Pengadilan Tinggi Seoul (Divisi Administratif 9-3) memenangkan pihak penggugat dalam gugatan pembatalan keputusan penolakan keterbukaan informasi yang diajukan oleh Pusat Kebebasan Informasi untuk Masyarakat Transparan (Pusat Kebebasan Informasi) terhadap Kementerian Ketenagakerjaan. Putusan ini merupakan kemenangan beruntun setelah putusan serupa dikeluarkan oleh Pengadilan Administratif Seoul pada 17 Oktober 2024.
Pusat Kebebasan Informasi meminta keterbukaan informasi kepada Kementerian Ketenagakerjaan mengenai 'Status Terjadinya Kecelakaan Kerja Berat Tahun 2022' pada 22 Maret 2023. Namun, Kementerian Ketenagakerjaan menolak dengan alasan bahwa data seperti △nama perusahaan kontraktor utama/subkontraktor, △pengawas yang bertanggung jawab, △detail tindakan administratif, dan △pendapat pelimpahan perkara merupakan 'informasi yang dapat memengaruhi investigasi dan persidangan'. Tidak terima dengan keputusan tertutup tersebut, Pusat Kebebasan Informasi mengajukan gugatan ke Pengadilan Administratif Seoul pada 16 Oktober 2023 untuk membatalkan keputusan tersebut.
Pengadilan tingkat pertama menilai bahwa meskipun informasi mengenai kasus kecelakaan kerja berat dibuka, hal itu hanya akan mengungkapkan perusahaan tempat terjadinya kecelakaan, bukan mengungkap rincian informasi kriminal, perkembangan investigasi, atau metode investigasi yang spesifik, sehingga sulit untuk menganggap bahwa hal tersebut akan menghambat aktivitas investigasi lembaga penegak hukum.
Selain itu, pengadilan memandang bahwa sistem publikasi kecelakaan kerja berat yang saat ini berlaku tidak dapat membenarkan penutupan informasi karena tujuan permohonan keterbukaan informasi berbeda. Publikasi kecelakaan kerja berat adalah sistem di mana Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan tempat kerja yang telah ditetapkan hukum bersalah atas kecelakaan kerja berat sesuai dengan Undang-Undang Hukuman Kecelakaan Berat. Masyarakat sipil telah lama mengkritik bahwa publikasi ini kurang efektif karena waktu pengumuman yang terlambat. Mereka menuntut pengumuman dilakukan saat kejadian berlangsung agar nilai dari transparansi tersebut tetap terjaga.
Pengadilan banding memutuskan untuk mendukung penuh putusan pengadilan tingkat pertama. Kim Ye-chan, seorang aktivis di Pusat Kebebasan Informasi, menegaskan, "Pengadilan telah dua kali mengonfirmasi legitimasi keterbukaan informasi ini, dan pihak Kementerian Ketenagakerjaan sendiri telah mengumumkan akan merilis daftar perusahaan yang mengalami kecelakaan kerja berat secara berkala. Jika Kementerian Ketenagakerjaan menunda keterbukaan informasi melalui kasasi, hal itu akan bertentangan dengan isi langkah-langkah komprehensif keselamatan kerja dan akan memicu kritik karena mengabaikan hak warga negara untuk mengetahui."

Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan akan meninjau apakah akan mengajukan kasasi atau tidak. Namun, terlepas dari putusan ini, Kementerian Ketenagakerjaan sedang mendorong perluasan keterbukaan informasi kecelakaan kerja. Menurut 'Langkah-langkah Komprehensif Keselamatan Kerja' yang diumumkan pemerintah pada 15 September, mereka berencana untuk membuat skema publikasi berkala nama perusahaan yang mengalami kecelakaan kerja berat. Untuk mencegah terulangnya kecelakaan, mereka juga mendorong pembukaan laporan investigasi kecelakaan sesuai dengan Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Industri.
Lee Gyeong-je, Kepala Bagian Investigasi Kecelakaan Kerja Berat Kementerian Ketenagakerjaan, menyatakan, "Kami sedang meninjau waktu dan rincian detail mengenai pengungkapan nama perusahaan yang mengalami kecelakaan kerja berat. Kami menganggap ini sebagai hal yang terpisah dari pengumuman publik kepada masyarakat umum karena cakupan informasinya berbeda."
Masyarakat sipil berargumen bahwa perlu dibangun sistem yang memungkinkan akses mudah terhadap data kecelakaan kerja berat. Di luar negeri, informasi kecelakaan berat telah diubah menjadi basis data (database) dan dipublikasikan. Otoritas Keselamatan dan Kesehatan Kerja Amerika Serikat (OSHA) memutuskan pengenaan denda dalam waktu 6 bulan setelah terjadinya kecelakaan berat di tempat kerja, dan membuka informasi yang mencakup nama perusahaan, alamat, detail kecelakaan, pelanggaran hukum, serta detail denda bagi kasus yang dikenai sanksi. Setelah investigasi kecelakaan selesai, publik dapat melihat △waktu kejadian, △nama perusahaan, dan △detail investigasi melalui basis data di situs web mereka.
Badan Kesehatan dan Keselamatan Inggris (HSE) juga membuka basis data perusahaan yang melanggar Undang-Undang Kesehatan dan Keselamatan. Pengguna dapat mencari nama perusahaan dan riwayat pelanggaran hukum perusahaan tersebut.
Di sisi lain, muncul kritik bahwa di Korea, publikasi kecelakaan kerja berat hanya tersedia dalam bentuk file PDF dan durasi penyajiannya terbatas hanya 1 tahun, sehingga sulit untuk diolah menjadi data digital.