주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Laporan K-Culture
Efek Kupu-kupu Ironis yang Dipicu oleh 'Duffy' dari 'K-Pop Demon Hunters'

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Terlepas dari apakah konten tersebut diinvestasikan, diproduksi, atau hak kekayaan intelektualnya (IP) dimiliki sepenuhnya oleh Korea, konten bertema Korea tetap memberikan dampak positif. Dampaknya melampaui nilai merek konten Korea atau peningkatan neraca pariwisata; fakta sejarah kini menjadi dikenal secara global. Hal ini tidak hanya muncul dari efek langsung melalui karya atau konten itu sendiri, tetapi juga dari dimensi yang sama sekali tidak terduga, yakni melalui partisipasi sukarela penggemar dan perspektif budaya menggali informasi (digging culture).

Pada tahun 2022, drama Apple TV+ 'Pachinko' memberikan efek yang sama sekali tidak terduga. Meskipun diangkat dari novel asli dengan judul yang sama karya penulis Korea-Amerika Min Jin Lee, banyak penonton yang tidak mengetahui isi novel tersebut sehingga mungkin memiliki prasangka terhadap kata 'Pachinko'. Karena 'Pachinko' adalah mesin judi yang dibuat di Jepang, tidak terpikirkan oleh penonton bahwa drama ini akan membahas sejarah Korea. Drama ini menuai pujian karena berhasil mengangkat realitas masa pendudukan Jepang ke dalam bentuk seni. Adegan di mana ibu sang tokoh utama, Sunja, membeli beras menjadi rangkuman dari pesan tersebut.

2022년 애플TV+ 드라마 ‘파친코’는 일제강점기, 한국인의 삶을 보여주었다. 사진=애플TV+
Drama Apple TV+ tahun 2022, 'Pachinko', memperlihatkan kehidupan masyarakat Korea di masa pendudukan Jepang. Foto=Apple TV+

“Hari ini saya datang untuk membeli beras. Tidak perlu banyak, dua takar saja cukup.” “Kau tahu kan beras tidak bisa dijual sembarangan? Jika pejabat Jepang datang memeriksa dan beras yang tersisa tidak cukup untuk dijual kepada orang Jepang, aku bisa dalam masalah besar.” Pada masa pendudukan Jepang, rakyat Joseon tidak bisa sembarangan membeli atau memakan beras. Meski dalam situasi seperti itu, sang ibu tetap berusaha menanak nasi untuk diberikan kepada Sunja karena ia akan menikah dan pindah ke Jepang. Sunja harus menikah dengan Isak dan pindah ke Osaka, tempat kakak Isak berada. “Putri kami akan segera pergi ke Jepang mengikuti suaminya. Saya tidak punya banyak harta untuk diberikan, tapi setidaknya saya ingin dia mencicipi rasa beras tanah air kita. Saya ingin mengirimnya pergi setelah dia menyantapnya.”

Dialog ini, yang menunjukkan situasi di mana rakyat di tanah Joseon bahkan harus diawasi hanya untuk makan beras yang tumbuh di tanah mereka sendiri, menyampaikan realitas saat itu dengan jauh lebih kuat daripada seribu kata. Selain itu, adegan tersebut juga menunjukkan betapa baik hati dan hangatnya rakyat Joseon. “Ini tiga takar.” “Terima kasih banyak.” “Ibu Sunja, makanlah juga supaya sedikit rasa sedihmu terobati.”

Dalam musim ke-2 yang ditayangkan pada tahun 2024, drama ‘Pachinko’ secara gamblang menunjukkan penindasan yang dialami Sunja dan orang-orang Joseon setelah menyeberang ke kepulauan Jepang. Adegan di mana anak-anak Sunja, Noa dan Mozasu, dirundung dan dihina di sekolah menimbulkan kemarahan publik. Bagaimana dengan adegan diskriminasi etnis menggunakan kimchi? Masyarakat dunia akhirnya mengetahui kehidupan orang Korea di Jepang (Zainichi). Sebaliknya, adegan di mana sesama orang Korea saling memberikan semangat justru memperbaiki citra orang Korea di Jepang maupun citra masyarakat Korea secara keseluruhan.

Serial Netflix 'Gyeongseong Creature' yang dirilis pada Desember 2023 juga memberikan efek yang tidak terduga. Karena dibintangi oleh bintang Hallyu Park Seo-jun, yang sangat populer di Jepang berkat drama 'Itaewon Class', penggemar di Jepang berbondong-bondong menonton 'Gyeongseong Creature'. Namun, ketika muncul adegan eksperimen biologis oleh tentara Jepang di masa pendudukan, penggemar Jepang menjadi bingung. Meskipun ada klaim bahwa ini adalah distorsi sejarah, mereka akhirnya mau tidak mau mengakuinya. Hal ini karena, meskipun tidak diajarkan dalam kurikulum pendidikan resmi Jepang, fakta mengenai Unit 731 dapat dengan mudah ditemukan melalui pencarian internet.

Dengan cara ini, platform luar negeri seperti Netflix atau Apple TV+ memainkan peran penting dalam menyebarkan kebenaran sejarah. Efek seperti ini menciptakan efek kupu-kupu dengan cara yang sama sekali berbeda dalam 'K-Pop Demon Hunters'. Penggemar yang menyukai Duffy, karakter harimau yang didasarkan pada tokoh utama lukisan rakyat 'Hojakdo', menemukan sejarah kepunahan harimau Korea dan menyebarkannya kepada dunia.

애니메이션 ‘케이팝 데몬 헌터스’에 등장한 호랑이 더피는 뜻하지 않게 한국 호랑이의 절멸 역사를 세계에 알렸다. 사진=넷플릭스
Karakter harimau Duffy yang muncul di animasi 'K-Pop Demon Hunters' secara tidak sengaja memperkenalkan sejarah kepunahan harimau Korea kepada dunia. Foto=Netflix

Film yang membahas harimau terakhir Joseon adalah 'The Tiger' yang dibintangi Choi Min-sik. Dalam film tersebut, pada tahun 1925, seorang jenderal Jepang bernama Maenojo sangat terobsesi untuk mendapatkan kulit harimau sebelum kembali ke Jepang. Pertarungan antara pemburu legendaris Joseon, Cheon Man-deok (Choi Min-sik), yang mencoba melindungi harimau terakhir di tanah Joseon, berakhir dengan tragedi. Dalam film ini, keinginan pribadi perwira Jepang lebih ditonjolkan, namun kenyataannya pemerintah kolonial Jepang mengklasifikasikan harimau sebagai hama dan membentuk 'Pasukan Pemburu Harimau (Jeongho-gun)' pada tahun 1917 untuk melakukan perburuan tanpa pandang bulu. Karena hal ini, tidak ada catatan resmi penangkapan harimau di Semenanjung Korea setelah tahun 1924. Fakta bahwa sejarah seperti ini ditemukan dan dibagikan bukan oleh orang Korea atau keturunannya, melainkan oleh seorang wanita muda berkulit hitam, merupakan kasus yang sangat menggembirakan.

Hal ini membuat orang-orang di dunia tertarik pada sejarah Korea dan berperan dalam mengungkapkan sejarah agresi Jepang serta perilaku Jepang yang tidak mau merenungi dan bertanggung jawab atas tindakannya. Ini berkat sutradara keturunan Korea, Maggie Kang, dan tim produksinya. Terlebih lagi, fakta bahwa animasi yang diproduksi oleh perusahaan Jepang, Sony Pictures, justru mengungkap sejarah kekejaman Jepang memberikan kesan yang ironis. Ini adalah contoh yang menunjukkan betapa pentingnya peran para kreatif keturunan Korea. Ini juga merupakan contoh baik dari penempatan kesadaran sejarah menggunakan layanan OTT global. Berkat hal tersebut, kini penggemar internasional pun tertarik pada sejarah dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi Korea.

Terkait kreator keturunan Korea, baru-baru ini ada kabar gembira. Novel 'Flashlight' karya penulis Korea-Amerika, Susan Choi, masuk dalam daftar nominasi Booker Prize Inggris. Mirip dengan 'Pachinko', 'Flashlight' memiliki latar belakang yang berpindah-pindah antara komunitas warga Korea di Jepang dan komunitas warga Korea di Amerika. Rekam jejak penghargaan penulisnya pun sangat solid. 'Trust Exercise' memenangkan National Book Award pada tahun 2019, dan 'American Woman' menjadi finalis Pulitzer Prize pada tahun 2004.

Booker Prize, yang dipilih dari karya-karya sastra Inggris dan Irlandia, memiliki pengaruh yang lebih besar daripada International Booker Prize. Kita menantikan pengumuman pemenangnya di bulan November. Jika novel 'Flashlight' diadaptasi menjadi drama, efek kupu-kupu yang tidak terduga bisa saja terjadi. Konten Korea saat ini sedang melampaui fase 'chasm' dalam model siklus adopsi, beralih dari tahap preferensi penggemar (mania) menuju tahap adopsi awal. Ini adalah tahap di mana solidaritas, kerja sama, dan kolaborasi harus aktif dilakukan. Jika fakta sejarah diakui secara global di tengah kolaborasi tersebut, citra dan nilai merek Korea pun akan meningkat.

Penulis Kim Heon-sik telah menjelajahi atau menelusuri hutan fenomena budaya populer, dengan harapan sejak usia 20-an bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan aktif, ia masih menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김헌식 대중문화평론가

필자 김헌식은 20대부터 문화 속에 세상을 좀 더 낫게 만드는 길이 있다는 기대감으로 특히 대중문화 현상의 숲을 거닐거나 헤쳐왔다. 인공지능과 양자 컴퓨터가 활약하는 21세기에도 여전히 같은 믿음으로 한길을 가고 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지