[비즈한국] Rumor mengenai transformasi Suhyup Bank menjadi perusahaan holding keuangan kembali muncul setelah baru saja merampungkan akuisisi Trinity Asset Management. Suhyup Bank sebenarnya pernah menyusun rencana untuk beralih menjadi holding keuangan pada tahun 2022. Saat itu, kondisi dianggap tidak mendukung karena belum memiliki anak perusahaan keuangan dan kecukupan modal yang tidak stabil. Kini situasinya berbeda. Kecukupan modal telah membaik, dan bidang usaha pun diperluas melalui akuisisi Trinity Asset Management. Namun, Suhyup Bank secara resmi menyatakan tidak memiliki rencana untuk beralih menjadi holding keuangan.

Dulu, Suhyup Bank memang sempat menunjukkan ketertarikan untuk bertransformasi menjadi holding keuangan. Pada Januari 2023, mantan Presiden Suhyup Bank, Kang Shin-sook, dalam konferensi pers pelantikannya menyatakan, “Kami berencana untuk mendorong konversi menjadi holding keuangan dengan cepat melalui kerja sama erat dengan lembaga eksternal, termasuk pemerintah.” Namun, setelah Kang mengundurkan diri pada November tahun lalu, rencana tersebut meredup. Suhyup Bank yang dulunya menjadikan konversi holding sebagai target jangka menengah, kini tidak lagi mencantumkan rencana tersebut.
Mempertimbangkan kondisi saat ini, transisi Suhyup Bank menjadi holding keuangan tidaklah mudah. Saat ini, anak perusahaan keuangan di bawah Suhyup hanyalah Suhyup Bank dan Trinity Asset Management. Bisnis kartu dan asuransi juga dijalankan, namun masih dalam bentuk departemen, bukan entitas hukum terpisah. Bahkan, akuisisi Trinity Asset Management sendiri baru saja selesai dilakukan.
Menurut Undang-Undang Perusahaan Holding Keuangan, sebuah entitas dapat beralih menjadi holding keuangan jika memiliki setidaknya satu anak perusahaan. Namun, dengan hanya dua perusahaan (Suhyup Bank dan Trinity Asset Management), daya saing sebagai grup holding keuangan dianggap masih kurang. Terlebih lagi, Trinity Asset Management mencatatkan kerugian tahun lalu sehingga profitabilitasnya belum memadai.
Revisi Undang-Undang Koperasi Perikanan (UU Suhyup) juga diperlukan. Dalam Undang-Undang Koperasi Pertanian (UU Nonghyup), terdapat ketentuan bahwa “Nonghyup Pusat akan mendirikan Nonghyup Financial Group dengan memisahkan bisnis keuangan seperti bisnis kredit dan asuransi.” UU Suhyup belum memiliki klausul serupa, sehingga pasal terkait harus ditambahkan untuk mendirikan holding keuangan. Hal ini memerlukan dukungan dari Majelis Nasional.
Meski begitu, rumor mengenai konversi Suhyup Bank menjadi holding keuangan terus berhembus di kalangan industri finansial. Dengan menjadi holding keuangan, perusahaan dapat mengharapkan realisasi skala ekonomi dan efisiensi manajemen. Jika Suhyup Bank berhasil mendiversifikasi portofolio bisnisnya melalui akuisisi dan merger (M&A) tambahan di masa depan, hal itu tentu akan mendukung proses transformasi tersebut.
Sebagian pihak di industri keuangan memprediksi bahwa jika kecukupan modal Suhyup Bank terus membaik, mereka akan mendorong M&A tambahan dan proses transisi ke holding keuangan. Penangguhan rencana sebelumnya pun disebabkan oleh masalah modal. Ketua Federasi Koperasi Perikanan (Suhyup Pusat), No Dong-jin, dalam audit parlemen di Komite Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Majelis Nasional Oktober lalu mengatakan, "(Konversi ke holding keuangan) ditunda dengan mempertimbangkan berbagai kejadian dan faktor ekonomi, namun peninjauan terus dilakukan." Perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang hadir dalam audit tersebut juga menyampaikan, “Kami sepakat bahwa (konversi holding keuangan) memang diperlukan, namun pandangan praktisi menyatakan lebih baik dilakukan setelah kondisi keuangan mencapai tingkat kesehatan tertentu.”
Kecukupan modal Suhyup Bank sendiri telah meningkat. Menurut data Otoritas Pengawas Keuangan (FSS), rasio modal inti (CET1) Suhyup Bank naik dari 11,46% pada akhir 2023 menjadi 12,27% pada akhir 2024, dan mencapai 12,59% pada akhir Juni 2025. Namun, angka ini masih di bawah rata-rata CET1 bank domestik yang mencapai 13,57% per akhir Juni tahun ini. CET1 adalah rasio modal saham biasa terhadap aset tertimbang menurut risiko, yang menjadi indikator utama kesehatan modal untuk mengukur kemampuan lembaga keuangan dalam menyerap kerugian.
Suhyup Bank saat ini menyatakan tidak memiliki rencana untuk beralih menjadi holding keuangan. Seorang pejabat Suhyup Bank menjelaskan, “Kami belum menetapkan rencana apa pun untuk konversi menjadi holding keuangan. Fokus utama kami saat ini adalah membesarkan perusahaan manajer aset (Trinity Asset Management) sebagai prioritas utama.”