[비즈한국] Proyek Dukungan Seni Korea, yang dimulai sebagai inisiatif murni untuk mendukung seniman, telah berjalan selama 10 tahun. Kami telah mendukung sekitar 230 seniman sambil tetap memegang teguh niat awal kami. Ini adalah upaya unik yang belum pernah dicoba oleh media, organisasi budaya, atau lembaga pemerintah mana pun di Korea. Kami bangga bahwa ketekunan selama 10 tahun itu telah terukir sebagai sebuah nilai dalam dunia seni Korea abad ke-21. Oleh karena itu, muncul penilaian bahwa "10 tahun sejarah Proyek Dukungan Seni Korea telah menciptakan satu sudut pandang untuk mengamati arus seni kontemporer Korea." Kini, di Musim ke-11, kami berusaha membuka jalan lain bagi seni Korea.

Istilah seni kontemporer menjadi umum sejak abad ke-20. Dalam sejarah seni, kategori ini merupakan era "isme" yang berlebihan, menyerupai toserba yang dipicu oleh perkembangan bentuk yang tak terkendali. Jika kita hanya menghitung garis besar isme yang muncul dalam sejarah seni abad lalu, jumlahnya mencapai sekitar 50 jenis.
Di antara semua itu, seni yang masih memiliki pengaruh kuat dalam dunia seni abad ke-21 adalah seni abstrak dan pop art. Seni abstrak menemukan jalan keluar baru dengan menjaga hubungan simbiosis dengan desain. Oleh karena itu, sensibilitas seni abstrak telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Pop art bertahan sebagai metode seni yang kuat di era ini dengan mengenakan pakaian budaya populer. Pop art adalah seni figuratif yang dimulai di Inggris pada tahun 1950-an dan berbuah di Amerika Serikat. Sejak era Renaisans, seni Barat telah menganggap kebaruan sebagai nilai tertinggi. Hal itu dapat diterima dengan dalih "kemajuan," apa pun bentuk tindakannya. Pop art justru menggunakan "kemajuan" dan "kebaruan" tersebut sebagai senjata untuk mengangkat sentimen populer ke jajaran seni.


Logika estetika yang diusung pop art adalah bahwa seni harus dinikmati bersama oleh semua kalangan masyarakat. Agar setiap orang dapat memiliki dan menikmati karya seni, karya tersebut haruslah lazim dan terjangkau harganya. Cara untuk membuat seni menjadi murah dan umum adalah dengan menggunakan teknik seperti "peniruan," "peminjaman," dan "replikasi."
Oleh karena itu, dalam pop art, dinyatakan bahwa seni orisinal yang hanya ada satu di dunia tidak lagi bernilai (penolakan terhadap keunikan seni), dan seni yang orisinal juga dianggap tidak sesuai dengan semangat zaman (penolakan terhadap orisinalitas seni).
Alih-alih mengakui keunikan dan orisinalitas, pop art memuja bintang budaya populer, iklan komersial yang mempromosikan konsumsi, barang sekali pakai yang memudahkan kehidupan modern, serta media massa seperti komik atau surat kabar. Oleh karena itu, seniman pop art berpendapat bahwa seni bukanlah "penciptaan" yang merupakan kristalisasi spiritual dari penderitaan seniman, melainkan sesuatu yang harus mudah direplikasi dan diproduksi secara massal.

Di antara berbagai objek tersebut, gambar komik telah menjadi motif karya bagi banyak seniman. Kartun Disney atau anime Jepang adalah contohnya. Misalnya, citra komik yang akrab bagi kita seperti Donald Duck, Mickey Mouse, Tom and Jerry, atau Astro Boy dan Dragon Ball. Di antara seniman Korea, cukup banyak seniman yang membangun ranah pop art mereka dengan gambar-gambar seperti ini.
Kim In adalah salah satu seniman tersebut. Ia menjadikan citra pahlawan super di era ini sebagai motif karyanya. Superman atau Astro Boy adalah gambar yang disukai oleh sang seniman. Terutama, ia mendapat perhatian karena mengembangkan gambar kepalan tangan Astro Boy menjadi bahasa lukisnya sendiri.
Karya-karyanya memenuhi layar dengan repetisi kepalan tangan Astro Boy. Menarik perhatian dengan warna-warna cerah juga menjadi daya tarik karyanya. Melalui ini, ia mengatakan bahwa ia "memproyeksikan perjalanan hidupnya yang berat ke dalam kepalan tangan Astro Boy." Apa yang ia temukan dalam citra Astro Boy adalah keberanian atau kekuatan untuk mengatasi kesulitan.