[비즈한국] Kawasan industri yang dulunya menjadi tulang punggung pertumbuhan nasional kini menua dengan cepat. Kawasan industri yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun mencakup 38% dari total keseluruhan, dan diprediksi akan melebihi angka 50% pada tahun 2030. Fasilitas yang tertinggal dan struktur industri yang usang dapat memicu penurunan produktivitas serta kelesuan ekonomi daerah, sehingga pemerintah kini mempercepat proyek regenerasi. Para ahli menyarankan perlunya merujuk pada contoh di luar negeri yang berhasil menghidupkan kembali kawasan tersebut melalui penarikan industri mutakhir dan diversifikasi ruang.

Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi mengumumkan ‘Kompetisi Proyek Regenerasi dan Zona Revitalisasi Kawasan Industri Tua Tahun 2025’ pada 22 September lalu. Proyek regenerasi ini mendukung △perluasan dan pemeliharaan infrastruktur dasar serta △relokasi sektor industri ke arah modernisasi. Kawasan industri yang terpilih akan mendapatkan pendanaan pemerintah hingga 50 miliar won untuk biaya perbaikan infrastruktur seperti jalan, tempat parkir, dan taman. Bersamaan dengan itu, proyek zona revitalisasi juga dijalankan untuk mendiversifikasi fungsi di dalam kawasan industri tersebut.
Inti dari proyek zona revitalisasi adalah mengubah tata guna lahan dan mengizinkan pengembangan kompleks guna memperkuat fungsi budaya, kenyamanan, dan dukungan di kawasan industri. Lahan fasilitas industri dapat diubah dan dikembangkan menjadi △fasilitas hunian △fasilitas bisnis △pusat industri pengetahuan △fasilitas kenyamanan △fasilitas kesejahteraan pekerja, dan lainnya, sehingga membuka jalan bagi kawasan industri untuk berubah dari sekadar basis produksi menjadi ruang di mana kehidupan dan inovasi hidup berdampingan.
Lee Sang-ju, Kepala Kantor Pertanahan dan Perkotaan Kementerian Pertanahan, menekankan, "Untuk pembangunan daerah yang seimbang, tidak hanya penting untuk menciptakan kawasan industri baru, tetapi juga menjamin keberlanjutan kawasan industri tua yang sudah ada," seraya menambahkan, "Kami akan mendukung proyek ini agar sektor publik dan swasta dapat bekerja sama dalam menghidupkan kembali kawasan tersebut."
Faktanya, jika kawasan industri tidak berfungsi dengan baik, efek domino negatif akan terjadi pada seluruh komunitas lokal. Penuaan yang gagal merespons perubahan struktur industri tidak hanya menyebabkan kemunduran fisik, tetapi juga berdampak pada ekonomi daerah, lapangan kerja, dan bahkan eksodus kaum muda. Hal ini menyebabkan penurunan pendapatan pajak pemerintah daerah dan stagnasi pembangunan wilayah. Untuk mencegah kepunahan daerah, regenerasi kawasan industri telah menjadi tugas yang tidak bisa ditunda lagi.
Para ahli menunjuk masuknya kaum muda dan penarikan industri baru sebagai kunci pemecahan masalah. Woo Han-seong, peneliti utama di Institut Penelitian Kebijakan Kawasan Industri Korea (KICOX), menjelaskan, "Untuk mengatasi penurunan daya saing dan produktivitas kawasan industri, diperlukan lingkungan yang ramah bagi kaum muda. Kami sedang menyiapkan ruang agar kaum muda dapat bekerja dan menetap melalui pendirian pusat budaya pemuda dan renovasi pabrik tua."
Contoh dari luar negeri menunjukkan arah dari proyek regenerasi ini. Distrik Phoenix di Dortmund, Jerman, adalah contoh modernisasi yang representatif. Ketika kawasan industri Ruhr yang dulunya menjadi pusat industri batu bara dan besi mengalami kemunduran, pabrik baja yang terbengkalai diubah menjadi ruang kompleks yang memadukan teknologi canggih dan ruang rekreasi. Bagian barat menarik perusahaan teknologi informasi dan mikrosistem dengan pusat teknologi mikro-nano sebagai intinya, sementara bagian timur membangun kompleks hunian mewah serta ruang tepi air dan rekreasi. Dengan masuknya industri serta fungsi hunian dan rekreasi, daya saing wilayah tersebut pun pulih.

Proyek ‘22@BCN’ di Barcelona, Spanyol, juga patut diperhatikan. Kawasan industri Poblenou yang tertinggal diubah fungsinya menjadi klaster inovasi, universitas, kantor, hotel, dan lembaga pendidikan, sehingga menjadikannya ruang di mana industri mutakhir dan kehidupan dapat berdampingan. Secara khusus, mekanisme kelembagaan yang memberikan manfaat seperti pelonggaran batasan ketinggian bangunan kepada pemilik lahan sebagai imbalan untuk mengembalikan sebagian lahan menjadi rumah sosial, fasilitas publik, dan ruang hijau, dianggap sebagai kunci kesuksesan proyek tersebut.
Contoh-contoh luar negeri ini memberikan masukan bagi proyek regenerasi di dalam negeri. Kim Ryun-hee, peneliti di LH Land and Housing Institute, mengatakan, "Tata guna lahan harus selaras dengan kebutuhan sosial. Mengikuti perubahan struktur industri, perlu ada peralihan ke lahan industri baru yang bersifat kompleks."
Tantangan lainnya adalah pengelolaan lingkungan. Fasilitas pemurnian yang menua memperburuk polusi lingkungan di daerah tersebut. Faktanya, di kawasan industri Ulsan, kecelakaan kebocoran zat berbahaya dari pipa bawah tanah yang sudah tua terjadi berulang kali. Masalah ini menjadi PR yang harus diselesaikan bersama dalam regenerasi kawasan industri.
Proyek ‘IBA Emscher Park’ di Jerman memperkuat fasilitas pengolahan limbah air dan memperkenalkan sistem pengenaan biaya untuk air limbah domestik serta permukaan kedap air guna mencegah kerusakan lingkungan di sekitar Sungai Emscher yang melintasi kawasan industri. Di Korea, melalui proyek Smart Green Industrial Complex, emisi zat berbahaya dikurangi dan tingkat manajemen ditingkatkan dengan membangun pusat kendali terintegrasi.