주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Lolos Studi Kelayakan, Tapi... Uang Pajak Rakyat Justru Tertahan di Proyek yang Mangkrak

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Pemerintah melaksanakan sistem ‘Studi Kelayakan (Feasibility Study/Ye-ta)’ untuk berbagai proyek nasional yang membutuhkan anggaran besar. Untuk proyek dengan dana negara lebih dari 30 miliar won, dana negara baru dapat dikucurkan jika proyek tersebut dinyatakan layak secara ekonomi dalam studi ini, atau jika mendapat pengecualian karena dianggap mendesak, seperti untuk pengembangan wilayah yang seimbang atau tender luar negeri.

Studi kelayakan pada dasarnya merupakan benteng terakhir untuk mencegah pemborosan uang pajak rakyat. Namun, ditemukan fakta bahwa sejumlah proyek yang telah lolos atau mendapatkan pengecualian studi kelayakan justru mengalami kemajuan yang lambat atau mencatatkan kinerja lebih buruk dari perkiraan, sehingga menyebabkan pemborosan pajak. Hal ini menimbulkan kritik bahwa studi kelayakan yang seharusnya ketat justru dilakukan secara longgar demi bagi-bagi anggaran antarwilayah atau untuk partisipasi dalam proyek luar negeri yang disukai pemerintah.

Beberapa proyek yang telah lolos atau mendapatkan pengecualian studi kelayakan ternyata mengalami kemajuan yang lambat atau mencatatkan kinerja lebih buruk dari perkiraan, sehingga menyebabkan pemborosan pajak. Gambar=AI Generatif
Beberapa proyek yang telah lolos atau mendapatkan pengecualian studi kelayakan ternyata mengalami kemajuan yang lambat atau mencatatkan kinerja lebih buruk dari perkiraan, sehingga menyebabkan pemborosan pajak. Gambar=AI Generatif

Studi kelayakan diperkenalkan pada tahun 1999 sebagai sistem untuk memverifikasi kelayakan proyek yang melibatkan anggaran negara berskala besar sebelum dijalankan. Sistem ini bertujuan untuk mencegah pemborosan anggaran dan kegagalan proyek, di mana alokasi anggaran hanya diberikan jika proyek diakui memiliki kelayakan ekonomi, dampak kebijakan, dan kontribusi pada pengembangan wilayah yang seimbang. Objek studi kelayakan adalah proyek baru dengan total biaya proyek 50 miliar won ke atas dan dukungan keuangan negara minimal 30 miliar won.

Studi kelayakan dilakukan untuk sekitar 20 hingga 30 proyek setiap tahunnya. Menurut Korea Development Institute (KDI) dan lembaga lainnya, terdapat 335 proyek yang menjadi objek studi kelayakan dalam 15 tahun terakhir. Khusus pada tahun 2021, ada 40 proyek yang menjadi objek studi kelayakan dalam satu tahun saja. Namun, proyek yang dianggap sangat penting untuk pengembangan wilayah yang seimbang atau proyek mendesak seperti tender pengembangan luar negeri bisa mendapatkan pengecualian. Dalam 15 tahun terakhir, terdapat 18 proyek yang menerima pengecualian studi kelayakan.

Meskipun telah melalui atau mendapatkan pengecualian dari studi kelayakan yang ketat, beberapa proyek justru tidak berjalan sesuai rencana awal. Menurut data Majelis Nasional dan berbagai lembaga publik, proyek pembangunan relokasi depo kendaraan di wilayah Susaek oleh Korea Railroad Corporation (KORAIL) dan proyek relokasi depot perawatan kereta api Busan masing-masing dilaporkan akan dimulai pada November 2020 dan September 2021. Namun, per Mei tahun ini, tingkat eksekusi kedua proyek tersebut masih 0%, alias belum berjalan sama sekali.

Proyek relokasi depo Susaek tertunda karena negosiasi relokasi dengan Kota Goyang tidak berjalan dengan baik, sementara proyek depot perawatan kereta api Busan praktis gagal karena tidak ada perusahaan yang mendaftar dalam tender operator swasta. Selain itu, proyek penggantian kereta penumpang tua milik KORAIL awalnya direncanakan membeli 150 rangkaian kereta hingga Agustus 2021, namun karena kendala pasokan suku cadang akibat COVID-19 dan faktor lainnya, hingga akhir tahun 2024 baru 104 rangkaian yang berhasil diserahterimakan.

Proyek energi terpadu Suwon oleh Korea District Heating Corp lolos studi kelayakan pada 2019-2020, namun tingkat eksekusinya hanya mencapai 1,8% karena investasi tertunda akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan risiko keuangan perusahaan. Proyek konstruksi pengganti konversi bahan bakar Unit 6 Boryeong milik Korea Midland Power dimulai pada 2021, namun hanya mencapai tingkat eksekusi 13% karena tertunda selama sekitar 2 tahun akibat protes warga desa yang akan direlokasi. Proyek Kawasan Sains dan Teknologi Canggih Tahap 2 Jeju oleh Jeju Free International City Development Center (JDC) hanya mencapai tingkat eksekusi 50,5% karena biaya proyek membengkak selama proses perizinan yang tertunda.

Menurut data Majelis Nasional dan pihak terkait, terdapat 13 proyek yang lolos atau mendapat pengecualian studi kelayakan mengalami eksekusi yang lebih lambat dari rencana. Jika proyek terhenti atau berjalan lambat, anggaran yang seharusnya bisa dialokasikan untuk proyek lain akan berkurang, atau beban masyarakat akan semakin berat karena biaya proyek meningkat di masa depan akibat inflasi dan faktor lainnya.

Selain itu, terdapat kasus di mana proyek yang saat studi kelayakan diprediksi akan menghasilkan keuntungan justru mengalami kerugian dan berdampak buruk pada keuangan lembaga publik yang menjalankannya. Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga gas kombinasi Namjeju milik Korea Southern Power lolos studi kelayakan pada 2018 dengan prediksi akan mencetak laba mulai tahun 2021. Dalam studi awal, diproyeksikan akumulasi keuntungan mencapai 41,4 miliar won hingga 2024, namun sejak proyek dimulai pada 2020 hingga 2024, kerugian terus terjadi hingga menumpuk mencapai 24,6 miliar won.

Proyek pengembangan bersama pembangkit listrik tenaga gas kombinasi Dongducheon milik Korea Western Power juga diproyeksikan menghasilkan akumulasi keuntungan 276,1 miliar won hingga 2024, namun kenyataannya mengalami akumulasi kerugian 77,6 miliar won pada periode tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan margin akibat kenaikan harga gas alam cair (LNG) dibandingkan saat studi kelayakan, serta meningkatnya biaya keuangan akibat kenaikan suku bunga. Menurut data Majelis Nasional, 20 proyek termasuk yang disebutkan di atas sempat dinilai akan menghasilkan total akumulasi laba sebesar 2,5423 triliun won, namun nyatanya mengalami akumulasi kerugian 939,8 miliar won akibat kinerja yang buruk.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
이승현 저널리스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지