[비즈한국] Apapun yang terjadi, kita tidak bisa menjamin hasil akhirnya sampai benar-benar terlihat di depan mata. Bahkan jika ada denah atau cetak biru yang meyakinkan, sering kali hasilnya tidak terwujud sesuai rencana. Namun, ada sebuah bangunan yang menjadi perbincangan karena kualitasnya yang menurun drastis, jauh melampaui sekadar gagal terealisasi, hingga menjadi bentuk yang sama sekali berbeda. Kita berbicara tentang 'Diad Cheongdam', sebuah klub keanggotaan yang berdiri di alamat nomor 1 di Cheongdam-dong, yang dikenal sebagai lokasi paling strategis dari semua lokasi strategis.
Eksterior Diad Cheongdam telah berubah berkali-kali dalam kurun waktu yang tidak bisa dikatakan singkat. Penampilan awalnya adalah bangunan bertingkat tinggi yang biasa-biasa saja dengan penekanan pada aliran vertikal. Meskipun tidak mencolok, itu terlihat seperti rencana yang solid dengan sedikit variabel. Namun di tengah jalan, rencana tersebut berubah 180 derajat menjadi desain oleh arsitek terkenal asal Prancis, Dominique Perrault, yang juga merancang Ewha Womans University ECC.

Rancangan asli yang dibuat oleh Dominique Perrault memiliki kesan dinamis dengan marmer alami yang menonjol di sana-sini, persis seperti pernyataannya bahwa ia ingin menciptakan karya seni yang menonjol layaknya sebuah trofi. Penampilan yang terbentuk dari perpaduan antar bidang terlihat baru dan mewah dari sudut pandang mana pun. Meskipun selera setiap orang berbeda, dapat dikatakan bahwa desain tersebut sesuai dengan karakter bangunan. Namun, perusahaan pengembang yang menerima desain tersebut tidak mampu merealisasikannya dengan baik. Perrault memang sempat mengajukan revisi yang mengurangi kesan ekstrem, namun itu pun tidak dicapai pada tingkat yang memuaskan. Akhirnya, ia menarik diri dari proyek tersebut dan meminta agar namanya dihapus. Bisa dibilang itu adalah langkah terakhir yang bisa diambil oleh seorang kreator.
Diad Cheongdam yang berdiri tegak di Cheongdam-dong nomor 1 terlihat seperti balok kayu atau tembok raksasa. Bahkan muncul ejekan yang menyebutnya sebagai 'Daiso Cheongdam' (merujuk pada toko ritel murah) daripada Diad Cheongdam. Bangunan itu sendiri cenderung tinggi dibandingkan dengan ukuran lahannya, dan karena bangunan di sekitarnya relatif lebih rendah, kehadirannya terasa lebih menindas. Bagian yang paling tidak natural adalah fasad lantai bawah. Sementara sisi lain tampak terlalu datar, bagian ini justru menyisakan jejak desain asli yang menonjol dengan canggung. Terlihat seolah-olah tumpukan bongkahan plastik, bukan marmer. Saya teringat masa kecil ketika bermain membangun sesuatu yang mirip dengan balok LEGO.

Alasan terbesar mengapa hasil akhirnya menjadi seperti ini adalah uang. Selain beban pinjaman Project Financing (PF), lebih dari 100 miliar won dihabiskan hanya untuk pembelian lahan karena lokasinya berada di persimpangan dua jalan besar di Gangnam. Jumlah yang sangat membebani sejak awal, terlepas dari seberapa besar dukungan modal yang ada. Oleh karena itu, efisiensi biaya konstruksi menjadi krusial. Selain itu, kenyataan bahwa sulit bagi arsitek untuk mendampingi seluruh proses dari desain hingga penyelesaian guna memastikan konsep awal tetap terjaga juga memberikan pengaruh. Pihak Diad berencana untuk mengembalikan bangunan yang telah menjadi hibrida karena campuran berbagai kepentingan dan tenggat waktu penyelesaian ini ke tingkat revisi Perrault, namun perlu dilihat sejauh mana perubahan suasana dimungkinkan hanya dengan mengubah kulit luar sementara fondasinya tidak memadai.
Dalam proses mewujudkan sebuah proyek, revisi adalah hal yang tak terelakkan. Namun, kasus ini terasa agak berlebihan. Bangunan yang kehilangan filosofinya karena kondisi realistis tidak cocok dengan kalangan 0,1% orang terkaya yang menjadi target keanggotaan, yang mana seharusnya selaras dengan filosofi pihak pengelola. Ada bangunan yang dibongkar karena terjebak dalam berbagai situasi meskipun memiliki desain dan simbolisme yang luar biasa, dan ada bangunan yang akhirnya bertahan hingga selesai dibangun hanya karena proses yang berjalan tidak bisa dihentikan, seperti roda raksasa yang terus berputar meski serba kekurangan. Keadaan bisa membunuh atau menghidupkan sebuah bangunan. Fakta tersebut membuat mereka yang mengejar estetika merasa getir.
Siapakah penulis Han Dong-hoon?
Desainer tipografi. Memiliki minat pada semua bidang yang berkaitan dengan tulisan, seperti menulis, membuat kaligrafi, mendesain huruf, dan mengajar. Saat ini, ia mendesain berbagai font khusus perusahaan dan font komersial di studio tipografi AlignType. Ia pernah berkontribusi pada 'Monthly Design', majalah triwulanan 'Design Review', dan memberikan kuliah desain tipografi di berbagai platform daring dan luring. Pada tahun 2021, ia menerbitkan buku esai 'Universe in Letters'.