[비즈한국] Badan Penerbangan dan Antariksa Korea (KASA) akan mengembangkan 'mesin turbofan bypass tinggi untuk pesawat elektrik' (selanjutnya disebut mesin jet elektrik). Mesin ini merupakan mesin kecil dengan daya dorong 4.500 pon, namun memiliki kapasitas produksi listrik tiga kali lipat lebih unggul dibandingkan mesin canggih kelas 16.000 pon, sehingga diperkirakan akan memiliki daya saing besar di pasar pesawat tempur nirawak (CCA). KASA berencana mengembangkan mesin ini agar dapat dipasang tidak hanya pada pesawat tempur nirawak, tetapi juga pada jet bisnis sipil.
Pada 28 Agustus lalu, dalam simposium turbin gas 'GTS2025' yang diselenggarakan di Gangneung, KASA mempublikasikan penelitian terkait turbin gas (mesin jet) yang sedang dikembangkan dengan topik 'Perencanaan Pengembangan Kerja Sama Sipil-Militer untuk Mesin Canggih dan Sistem Aplikasi demi Lompatan Industri Penerbangan Baru'.

Mesin jet elektrik yang diungkapkan oleh KASA adalah mesin turbofan kecil berumur pakai panjang dengan kelas daya dorong 4.500 pon. Hingga saat ini, Korea telah mengembangkan dua jenis mesin jet berumur pakai panjang, yaitu KTF-5500 dan KTF-10000, serta berencana mengembangkan mesin turbofan kelas 16.000 pon yang dapat dipasang pada pesawat tempur KF-21 di masa depan.
Sekilas, mesin jet kelas 4.500 pon yang dikembangkan KASA mungkin dianggap sebagai mesin berdaya rendah yang kinerjanya lebih buruk daripada KTF-5500 yang sudah dalam pengembangan. Namun, mesin ini menerapkan konsep yang sangat canggih secara teknologi.
Pertama, mesin ini dikembangkan sebagai mesin dengan rasio bypass tinggi (High-Bypass Ratio). Mesin jet memperoleh daya dorong dengan mengompresi udara melalui kipas dan membakarnya. Aliran udara yang melewati kipas tanpa terbakar disebut bypass. Jika KTF-5500 memiliki rasio daya dorong gas pembakaran dan bypass sebesar 0,71, mesin jet elektrik KASA memiliki rasio lebih dari 4. Oleh karena itu, meskipun kinerja kecepatan tinggi sedikit di bawah KTF-5500, daya dorong terhadap berat dan efisiensi bahan bakarnya jauh lebih unggul.
Namun, nilai sesungguhnya dari mesin jet elektrik terletak pada kapasitas produksi listriknya yang unggul sesuai namanya. Untuk pertama kalinya di Korea, 'generator listrik tertanam terintegrasi rotor' diterapkan, yang merupakan teknologi menghubungkan generator langsung ke kipas mesin jet. Dengan ini, mesin jet elektrik dapat memasok daya listrik 100kW secara stabil. Ini adalah kemampuan pembangkit listrik yang beberapa kali lipat lebih unggul daripada mesin jet kelas 16.000 pon yang akan dipasang pada KF-21.
Pesawat nirawak militer terbaru membawa peralatan elektronik dalam skala besar sehingga membutuhkan banyak daya listrik. Khususnya, pesawat tempur kerja sama berawak-nirawak yang disebut 'CCA' dilengkapi dengan radar atau sensor mandiri, namun karena ukurannya kurang dari setengah ukuran pesawat tempur berawak, ada keterbatasan di mana daya output peralatan elektronik rendah dan kinerjanya kurang memadai.
Namun, jika mesin jet elektrik yang dikembangkan KASA dipasang pada CCA, situasinya akan berubah. Mesin ini mampu memasok daya listrik setingkat pesawat tempur berawak, sehingga memiliki potensi untuk membawa radar berdaya tinggi, peralatan perang elektronik, hingga senjata laser taktis meskipun ukurannya kecil.
KASA berencana menginvestasikan anggaran sebesar 47 miliar won selama 4 tahun dari tahun 2026 hingga 2029 untuk menyelesaikan model dasar mesin ini, dan mulai tahun 2029 akan mendorong sertifikasi FAA (Otoritas Penerbangan Federal AS) dan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi (KAS 33) agar dapat dipasang pada jet bisnis sipil.
Dengan demikian, produksi massal untuk pesawat tempur nirawak CCA dijadwalkan dimulai pada tahun 2030, dan produksi massal untuk pemasangan pada jet bisnis sipil di AS dan Korea akan dimulai pada tahun 2033.
Meskipun perusahaan produksi massal belum ditentukan, banyak perusahaan domestik telah menunjukkan minat besar dan menyatakan niat untuk bekerja sama. Jika kinerja yang diharapkan dan jadwal pengembangan dipatuhi, mesin ini diperkirakan akan mengamankan daya saing yang kuat di pasar mesin pesawat tempur nirawak CCA.
Majalah kedirgantaraan Amerika 'Aviation Week' memperkirakan bahwa lebih dari 530 unit CCA akan diproduksi di seluruh dunia hingga tahun 2034, dan proporsinya akan meningkat secara bertahap menggantikan pesawat tempur berawak. Oleh karena itu, jika pengembangan mesin ini berhasil, industri mesin penerbangan Korea diharapkan dapat mengamankan produk yang membuka pasar baru di luar mesin untuk KF-21 dan menantang ekspor massal.