[비즈한국] Baru-baru ini, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) meluncurkan Gugus Tugas (TF) Inovasi Kesejahteraan dan Perawatan berbasis AI (Kecerdasan Buatan). Satgas ini berfokus pada pencarian cara untuk menginovasi layanan kesejahteraan dan perawatan dengan memanfaatkan teknologi AI. Mereka akan menggali tugas-tugas inovatif serta menyusun peta jalan jangka menengah dan panjang melalui diskusi sosial. Meskipun sebelumnya sudah ada beberapa contoh penerapan teknologi AI dalam administrasi kesejahteraan di tingkat kementerian, implementasinya masih sebatas 'konsultasi berbasis AI'. Mengingat tingginya perhatian pemerintah baru terhadap AI, kini muncul harapan apakah akan ada model penerapan yang berbeda.

Kemenkes Meluncurkan Satgas Inovasi Kesejahteraan dan Perawatan AI
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan menyatakan pada tanggal 8 lalu, "Menghadapi era transformasi besar AI, kami meluncurkan Gugus Tugas (TF) Inovasi Kesejahteraan dan Perawatan AI untuk mendiskusikan rencana inovasi mendasar di bidang kesejahteraan dan perawatan, serta menyusun peta jalan kebijakan yang akan dilaksanakan di masa depan." Pada rapat pertama hari itu, dibahas arah penyusunan peta jalan, pembagian peran antar lembaga, dan jadwal pelaksanaan ke depan. Satgas berencana untuk merilis 'Peta Jalan Inovasi Kesejahteraan dan Perawatan AI' pada paruh pertama tahun depan dan akan beraktivitas hingga langkah-langkah penanggulangan tersusun.
Satgas ini dipimpin oleh Wakil Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Pertama, dan terdiri dari: 'Tim Perencanaan Umum' yang mengawasi keseluruhan penyusunan peta jalan; 'Tim Inovasi Administrasi Kesejahteraan & Data' yang menyiapkan rencana inovasi administrasi kesejahteraan serta pembukaan dan aktivasi data jaminan sosial; 'Tim Inovasi Teknologi Perawatan' yang menyiapkan rencana dukungan teknis seperti peningkatan investasi R&D teknologi perawatan, pengujian, dan dukungan kelembagaan untuk komersialisasi teknologi; serta 'Tim Forum Inovasi AI' yang mendukung diskusi sosial melalui forum agar teknologi yang tepat dapat diterapkan di lapangan.

Ini bukan pertama kalinya kementerian memanfaatkan AI dalam administrasi kesejahteraan. Sebelumnya, Kemenkes dan Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan (MOIS) telah menjalankan proyek AI yang berfokus pada 'pemantauan area buta (blind spot)'. Pada Mei tahun lalu, Kemenkes membangun 'Sistem Informasi Konsultasi Awal Berbasis AI' dan memanfaatkannya pada tahap konsultasi awal. Jika sebelumnya petugas pemerintah daerah harus menghubungi langsung, kini sistem melakukan pertanyaan umum diikuti dengan pertanyaan tambahan terkait informasi krisis. Tenaga kerja yang ada pun dapat lebih fokus pada konsultasi mendalam.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan juga sempat menjalankan proyek pemantauan rumah tangga berisiko menggunakan AI. Selama kurang lebih satu tahun sejak Oktober 2023, MOIS berkolaborasi dengan Naver dan SKT untuk menjalankan proyek percontohan pemantauan rumah tangga berisiko berbasis panggilan telepon AI. Melalui layanan telepon AI, mereka melakukan pengecekan berkala terhadap kelompok yang membutuhkan pengawasan seperti lansia yang tinggal sendiri dan rumah tangga lajang usia paruh baya, serta menangani tugas repetitif seperti memberikan informasi manfaat kesejahteraan dan permohonan barang bantuan.
Akankah Bergeser dari 'Model Telepon'? Kekhawatiran akan Kesalahan Harus Diatasi
Meskipun pemerintah telah melangkah ke administrasi kesejahteraan berbasis AI, sejauh ini implementasinya masih sebatas 'model telepon'. Di beberapa pemerintah daerah, robot perawatan berbasis AI juga mulai dioperasikan. Di kalangan perusahaan swasta, terdapat 'Clova CareCall' berbasis AI generatif dari Naver Cloud.
Meskipun bisnis telah berkembang di sekitar 'model telepon', model ini pun membawa berbagai masalah. Agar konsultasi awal dapat terjadi, target harus menerima telepon dari AI, namun telepon AI memiliki tingkat penerimaan yang lebih rendah dibandingkan telepon biasa. Korea Social Security Information Service menyatakan bahwa mereka berupaya meningkatkan tingkat penerimaan dengan mengirimkan pesan panduan terlebih dahulu dan menggunakan aplikasi pemblokiran panggilan spam.
Bahkan jika target menerima telepon, muncul kekhawatiran akan adanya resistensi terhadap telepon AI. Telepon AI mengajukan pertanyaan umum mengenai kesehatan, ekonomi, dan krisis pekerjaan, lalu memberikan pertanyaan tambahan terkait informasi krisis. Bagi penerima, membicarakan topik yang sensitif melalui AI bisa dirasakan sebagai beban. Begitu pula dengan konsultan AI yang sudah diadopsi oleh perusahaan, meskipun tingkat konsultasi meningkat, tingkat kepuasan pengguna dinilai masih rendah.
Fakta bahwa bidang administrasi kesejahteraan berkembang di sekitar telepon AI adalah karena fokusnya tertuju pada penemuan 'area buta kesejahteraan'. Dengan terjadinya insiden terus-menerus di area buta kesejahteraan seperti kasus tiga ibu-anak di Songpa (2014), ibu-anak di Bangbae-dong (2020), ibu-anak di Changsin-dong (2020), dan tiga ibu-anak di Suwon (2022), menjadi sangat penting bagi negara untuk memastikan tidak ada lagi 'area buta'.
Nam Chan-seob, profesor kesejahteraan sosial di Dong-A University, mengatakan, "Di Belanda dan negara lainnya, ada program AI untuk memverifikasi penerima bantuan kesejahteraan yang ternyata salah mengklasifikasikan puluhan ribu orang sebagai penerima ilegal, yang butuh waktu lebih dari setahun untuk memperbaikinya. Penggunaan AI harus dilakukan dengan hati-hati. Terutama bagi mereka yang menerima manfaat kesejahteraan, mereka adalah orang-orang yang terputus dari jaringan dan tidak memiliki modal sosial. Hanya menemukan mereka lewat AI lalu memberi bantuan saja tidak cukup. Setidaknya di bidang administrasi kesejahteraan, AI harus berkembang dengan cara di mana sumber daya manusia tetap menjadi penghubung utama bagi mereka," ujarnya.