주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Film kamera yang dihentikan produksinya diluncurkan kembali setelah 13 tahun… 'Kamera Film' kembali berkat tren 'Newtro'

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Perusahaan manufaktur film asal Tiongkok, ‘Lucky Film’, telah meluncurkan kembali film warna untuk kamera analog setelah 13 tahun. Industri yang berkaitan dengan kamera film sempat menunjukkan reaksi dingin terhadap peluncuran produk baru atau peningkatan produksi, meskipun ada tren global ‘Newtro’ pada pertengahan hingga akhir tahun 2010-an. Namun, belakangan ini muncul tanda-tanda perubahan seperti peluncuran kembali film dan pengembangan kamera film model baru. Perhatian tertuju pada apakah industri terkait akan kembali bergairah berkat tren ‘kamera film’ ini.

Lucky Film meluncurkan kembali film warna setelah 13 tahun. Foto=SNS Lucky Film
Lucky Film meluncurkan kembali film warna setelah 13 tahun. Foto=SNS Lucky Film

Lucky Film telah meluncurkan kembali film negatif warna 35mm ‘Lucky C200’ yang produksinya dihentikan pada tahun 2012. Film ini pertama kali diperkenalkan pada Shanghai Image & Vision Expo tanggal 17 Juli, dan pada hari yang sama, penjualan purwarupa (prototype) juga dimulai di situs belanja daring Tiongkok, ‘JD.com’. Lucky Film menyatakan akan mulai menjalankan lini produksi secara penuh mulai bulan Oktober untuk memproduksi film dalam jumlah besar dan juga berencana untuk meluncurkan film format medium.

Peluncuran kembali ini dipengaruhi oleh tren ‘kamera film’ di Tiongkok. Popularitas kamera film meningkat seiring dengan perhatian terhadap nuansa ‘Newtro’ yang digandrungi generasi muda. Terutama pada awal tahun ini, tantangan ‘tear-off film’ di media sosial selebritas Tiongkok sempat menjadi perbincangan. Tear-off film adalah salah satu jenis foto instan yang, tidak seperti film instan pada umumnya, memerlukan proses merobek film tersebut.

Dengan peluncuran kembali film warna Lucky Film, para penggemar kamera film berharap beban harga film akan berkurang. Saat ini, purwarupa Lucky C200 dijual di Tiongkok dengan harga 60 Yuan (sekitar 11.600 Won). Produk sejenis seperti Kodak ColorPlus dan Fujifilm C200 dijual dengan harga kisaran 10.000 Won ke atas. Seseorang bernama Ahn yang membeli Lucky C200 melalui pembelian langsung (direct purchase) mengatakan, “Karena ini adalah purwarupa, ada kekurangan pada lapisan (coating) dan pergeseran warna yang disayangkan. Namun, jika kualitasnya sudah stabil dan perusahaan mampu memenuhi target harga sekitar 7.000 Won seperti yang dijanjikan, saya rasa ini cukup kompetitif.”

Selama ini, pasar film mengalami kelangkaan karena perusahaan seperti Kodak dan Fujifilm tidak mudah meningkatkan pasokan meskipun permintaan meningkat seiring tren kamera film. Harga film yang dulu hanya 3.000~4.000 Won per rol melonjak hingga kisaran 10.000 Won ke atas setelah pandemi COVID-19.

Meskipun demikian, permintaan tetap tinggi sehingga terjadi krisis film, seperti pembatasan jumlah pembelian per orang. Penggemar kamera film merasa terbebani karena kamera film telah menjadi ‘hobi yang mahal’ akibat lonjakan harga. Seorang siswa SMP bernama Choi Hyo-jun berkata, “Membeli film di toko fisik harganya lebih dari 20.000 Won, jadi itu harga yang memberatkan bagi seorang pelajar. Kalau harga Lucky Film sekitar 10.000 Won, saya mungkin akan membelinya.”

Kamera film pun menarik perhatian tahun lalu dengan munculnya model baru setelah hampir 20 tahun. Pentax meluncurkan model baru ‘Pentax 17’. Sebagai kamera film model baru pertama dari produsen kamera besar dalam 19 tahun, kamera ini menjadi topik hangat hingga dipajang dan dijual secara terpisah di laboratorium foto. Sebagian besar industri kamera film tidak merilis produk baru karena khawatir tren kamera film saat ini hanya akan menjadi tren sesaat di tengah status banyak kamera film yang sudah dihentikan produksinya. Hanya Leica yang sempat merilis kamera film baru, namun itu pun bukan model yang benar-benar baru. Oleh karena itu, penjualan kamera film didominasi oleh transaksi barang bekas atau kamera film pakai ulang (multi-use) yang disebut ‘point-and-shoot’, maupun kamera sekali pakai.

Seorang pelanggan sedang merapikan film yang dipindai sendiri di ‘Gorae Photo Studio’. Foto=Wartawan Kim Min-ho
Seorang pelanggan sedang merapikan film yang dipindai sendiri di ‘Gorae Photo Studio’. Foto=Wartawan Kim Min-ho

Berkat tren kamera film, laboratorium foto (lab cuci cetak film) pun kembali bergairah. Sepuluh tahun yang lalu, hanya tersisa 4-5 lab di Seoul dan hampir terancam punah. Namun, berkat pengaruh tren kamera film, jumlahnya kini meningkat menjadi sekitar 20 tempat. Baru-baru ini, laboratorium foto bertransformasi bukan sekadar tempat mencuci cetak foto, tetapi menjadi ruang budaya.

‘135-36’ yang dibuka di Chungmuro, Seoul pada tahun 2019, membuka cabang kedua bernama ‘Pixel Per Inch’ pada tahun 2023. Pixel Per Inch juga merupakan toko pernak-pernik yang menjual buku dan barang bertema fotografi serta tempat untuk memotret dengan kamera Polaroid. Lim Ji-hye, perwakilan dari Pixel Per Inch mengatakan, “Saya memulainya karena suka fotografi, dan sepertinya waktunya pas sehingga bisa bertahan sampai sekarang. Saya ingin membuka ruang yang melampaui sekadar laboratorium foto, yang bisa menunjukkan segala hal yang bisa dilakukan dengan fotografi.”

Gorae Photo Studio yang berlokasi di Chungmuro populer dengan layanan pemindaian mandiri (self-scan) di mana pelanggan memindai sendiri film yang telah mereka cuci. Mereka menekankan peran sebagai ‘komunitas’, seperti mengadakan pertemuan atau acara bertema fotografi. Yoon Pu-bit, kepala manajer Gorae Photo Studio, menyampaikan, “Dulu didominasi oleh penggemar berat, tetapi sekarang basis kamera film telah meluas seiring bertambahnya orang yang menikmati fotografi sebagai hobi ringan.”

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민호 기자

중화학공업·에너지 분야를 담당하고 있습니다. 지속가능한 사회와 삶에 관심이 많습니다.

goldmino@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지