[비즈한국] Di tengah langkah Provinsi Jeonbuk untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade Jeonju 2036, perhatian tertuju pada apakah Samsung Electronics005930 akan memperpanjang dukungannya terhadap Komite Olimpiade Internasional (IOC). Pasalnya, dukungan dari perusahaan raksasa yang mewakili Korea Selatan ini dianggap dapat membantu upaya pencalonan Olimpiade Jeonju. Namun, di tengah kondisi kinerja keuangan yang kurang memuaskan baru-baru ini, besarnya biaya sponsor bisa menjadi beban tersendiri bagi Samsung Electronics.

Samsung Electronics pertama kali menjalin hubungan dengan Olimpiade sebagai sponsor regional untuk Olimpiade Seoul 1988. Kemudian, mereka menandatangani kontrak dengan IOC pada tahun 1997 dan mulai menjadi sponsor resmi sejak Olimpiade Musim Dingin Nagano 1998. Kontrak sponsor saat ini berlangsung hingga tahun 2028.
Provinsi Jeonbuk saat ini sedang berupaya untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Jeonju 2036. Persaingan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2036 diramaikan oleh Ahmedabad-New Delhi (India), Nusantara (Indonesia), Istanbul (Turki), dan Doha (Qatar). Di antara kandidat tersebut, Ahmedabad-New Delhi disebut-sebut sebagai calon terkuat.
Di dunia olahraga domestik, terdapat harapan agar Samsung Electronics memperpanjang kontrak sponsornya. Alasannya, dukungan dari perusahaan besar seperti Samsung dapat memberikan dampak positif bagi upaya pencalonan Olimpiade. Seorang pejabat dari Komite Olahraga dan Olimpiade Korea (KSOC) mengatakan, "Jika ada tanda-tanda Samsung berniat menghentikan dukungan, kami mungkin bisa meminta perpanjangan, tetapi sejauh ini belum terlihat pergerakan ke arah sana."
Sponsor IOC terbagi dalam empat tingkatan: TOP (The Olympic Partner/Mitra Seluruh Dunia), Mitra Premium, Mitra Resmi, dan Sponsor Resmi. Perusahaan yang menempati posisi tertinggi, yaitu TOP, berjumlah 11 entitas, termasuk Samsung Electronics, AB InBev, Airbnb, Alibaba, Allianz, Coca-Cola, Deloitte, Omega, P&G, TCL, dan Visa. Samsung Electronics adalah satu-satunya perusahaan asal Korea.
Secara umum, jumlah sponsor TOP Olimpiade berkisar di angka 15 perusahaan. Namun, baru-baru ini jumlahnya menyusut menjadi 11 perusahaan setelah Toyota dan Panasonic keluar dari daftar. Di tengah situasi ini, beredar rumor bahwa perusahaan asal India sedang berupaya menjalin kontrak sponsor dengan IOC sejak tahun lalu. Sebagai contoh, Nita Ambani, istri dari Ketua Reliance Industries Mukesh Ambani, memimpin pembukaan 'India House' untuk mempromosikan budaya India saat Olimpiade Paris 2024 berlangsung. Kantor berita AP melaporkan pada bulan Agustus tahun lalu, "IOC diperkirakan akan segera menambahkan India sebagai sponsor sebagai sinyal meningkatnya pengaruh India dalam proses penawaran tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2036."
Ketua Mukesh Ambani dikenal sebagai orang terkaya di Asia. Jika ia memberikan dukungannya pada pencalonan Olimpiade Ahmedabad-New Delhi, pengaruhnya tentu tidak bisa diabaikan. Begitu pula dengan Olimpiade Seoul 1988 dan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018, yang dinilai tidak lepas dari peran besar mendiang Ketua Kehormatan Hyundai Group Chung Ju-yung dan mendiang Ketua Samsung Group Lee Kun-hee.

Di sisi lain, Samsung Electronics dikabarkan semula berencana mengakhiri dukungan kepada IOC pada tahun 2020. Namun, pada tahun 2018, mereka memperpanjang masa dukungan hingga tahun 2028. Sebagian kalangan menilai hal ini dipengaruhi oleh rencana pemerintah era Moon Jae-in untuk menyelenggarakan Olimpiade bersama antara Korea Selatan dan Korea Utara. Mantan anggota parlemen Partai Demokrat, Ahn Min-seok, dalam acara CBS 'Kim Hyun-jung's News Show' pada November 2018 menyebutkan, "Sepengetahuan saya, pada 2016 mereka sudah menetapkan kebijakan internal (untuk hanya mendukung Olimpiade hingga 2020). Namun, karena pemimpin kedua Korea telah menyepakati tawaran bersama untuk Olimpiade 2032, sulit bagi Samsung untuk mengabaikannya." Akan tetapi, Brisbane, Australia, akhirnya terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.
Masalahnya adalah kinerja keuangan Samsung Electronics belakangan ini kurang memuaskan. Pendapatan Samsung memang naik 5,29% dari 145,9839 triliun won pada semester pertama tahun lalu menjadi 153,7068 triliun won pada semester pertama tahun ini. Namun, laba operasional justru anjlok 33,36% dari 17,049 triliun won menjadi 11,3613 triliun won. Dalam kondisi penurunan laba operasional, beban sponsor besar bagi IOC tentu cukup memberatkan. Meski Samsung tidak mengungkap nilai sponsor secara rinci, diperkirakan mereka memberikan dukungan sekitar 100 juta dolar AS (sekitar 138,3 miliar won) setiap empat tahun sekali. Selain itu, ada analisis yang menyebutkan bahwa karena Samsung sudah memiliki kesadaran merek (brand awareness) yang tinggi di pasar global, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk pemasaran olahraga.
Sejak tahun 2010-an, Samsung Electronics tampak mengurangi kegiatan pemasaran olahraga. Tim tenis Samsung Securities dan tim rugbi Samsung Heavy Industries dibubarkan pada tahun 2015, sementara tim profesional gim Samsung Galaxy dibubarkan pada tahun 2017. Selain itu, pendapatan iklan yang diterima tim bisbol profesional Samsung Lions dari afiliasi Samsung Group terus menurun setiap tahun, yaitu 32,677 miliar won pada 2022, 30,159 miliar won pada 2023, dan 28,671 miliar won pada 2024.
Di sisi lain, tidak sedikit yang berpendapat bahwa Samsung kemungkinan besar akan tetap memperpanjang sponsor IOC. Seorang sumber di dunia bisnis mengatakan, "Samsung telah mendukung IOC selama puluhan tahun. Di tengah suasana upaya pencalonan Olimpiade Jeonju, menghentikan dukungan sponsor IOC bukanlah langkah yang mudah mengingat opini publik." Hingga kini, Samsung Electronics belum memberikan pernyataan resmi mengenai kelanjutan sponsor IOC tersebut.