주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Investasi Paling Umum
'ETF Opsi' yang Meredam Kecemasan di Tengah Pasar yang Sedang Bullish

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Seiring dengan indeks KOSPI yang menembus angka 3000, antusiasme investor ritel untuk melakukan pembelian semakin memanas. Bahkan, muncul istilah yang disebut sebagai 'Gerakan Semut Donghak ke-2'. Akhir-akhir ini, pembelian bersih saham-saham yang berfokus pada isu dan tema tertentu sedang aktif dilakukan, mulai dari saham terkait AI seperti Naver atau SK Hynix000660, saham terkait tenaga nuklir seperti Doosan Enerbility034020, hingga saham terkait stablecoin seperti Kakao Pay377300.

Namun, investor ritel yang merasa terbebani dengan harga saham yang sudah tinggi kini mengalihkan pandangan mereka ke investasi tidak langsung melalui Exchange Traded Fund (ETF). ETF mendapatkan popularitas di kalangan investor karena efek diversifikasi, biaya yang rendah, serta kemudahan dalam mengikuti indeks atau tema tertentu.

Di tengah berpindahnya minat investor ritel ke ETF seiring kenaikan KOSPI, baru-baru ini ETF berbasis opsi yang berupaya mencari keuntungan sekaligus melindungi diri dari risiko penurunan harga mulai menarik perhatian. Foto=AI Generatif
Di tengah berpindahnya minat investor ritel ke ETF seiring kenaikan KOSPI, baru-baru ini ETF berbasis opsi yang berupaya mencari keuntungan sekaligus melindungi diri dari risiko penurunan harga mulai menarik perhatian. Foto=AI Generatif

Terutama bagi investor yang mengincar keuntungan dari kebijakan industri pemerintah atau saham bertema, ETF muncul sebagai alternatif yang menarik.

Kang Jin-hyuk, seorang peneliti di Shinhan Securities, mengungkapkan, "Dalam ETF, selain indeks, fokusnya adalah pada sektor keuangan, dividen, dan perusahaan induk," dan menambahkan, "Ini adalah sektor-sektor yang memiliki risiko dalam pemilihan saham karena seleksi ketat dapat terjadi pada saham-saham penerima manfaat kebijakan yang representatif." Kang mengatakan, "Dapat dikatakan bahwa ETF dimanfaatkan untuk mencegah FOMO (Fear Of Missing Out) akibat kegagalan dalam pemilihan saham secara individu, serta untuk bertaruh pada arah kebijakan."

Pasar ETF domestik telah menembus angka 200 triliun won pada bulan Juni lalu, dan per tanggal 22, jumlah produknya pun telah melampaui 1.000. Di antara tren yang sedang diperhatikan saat ini adalah munculnya 'ETF Opsi' yang berkembang pesat.

Di Amerika Serikat, Covered Call atau Buffer ETF sudah digunakan secara luas untuk manajemen aset pensiun. Strukturnya adalah mengejar tingkat keuntungan tertentu sambil tetap memberikan perlindungan di sisi bawah. Produk-produk ini menarik investor dengan memberikan distribusi bulanan atau membatasi kerugian dalam kisaran tertentu.

Kim Jin-young, peneliti di Kiwoom Securities, mengatakan, "Selama melewati pasar dengan suku bunga tinggi dan volatilitas dalam 2-3 tahun terakhir, berbagai produk strategi telah diluncurkan dan membuktikan skalabilitas serta fleksibilitas ETF, di mana ETF opsi telah memainkan peran tersebut dengan sangat baik." Ia menambahkan, "Dapat dikatakan bahwa mereka berhasil menjelaskan bidang investasi yang dulunya dianggap sebagai hak istimewa lembaga dan investor profesional menjadi produk yang bisa diinvestasikan oleh investor ritel."

Mencerminkan tren ini, baru-baru ini di Korea muncul ETF replikasi opsi yang mencakup strategi perlindungan kerugian. ETF 'KIWOOM US Tech 100 Monthly Target Hedge Active' yang diluncurkan oleh Kiwoom Asset Management pada tanggal 22 memiliki karakteristik unik, yaitu berinvestasi pada saham teknologi yang termasuk dalam indeks Nasdaq 100 AS, sekaligus memanfaatkan strategi pertahanan untuk mengurangi kerugian jika harga saham turun.

Berbeda dengan ETF saham teknologi pada umumnya, produk ini dirancang berdasarkan strategi 'Protective Put'. Sederhananya, ini adalah struktur di mana saat membeli saham, investor juga membeli opsi jual (put option) untuk bersiap menghadapi penurunan harga saham. Namun, alih-alih membeli opsi secara langsung, produk ini menciptakan portofolio yang beroperasi seperti opsi melalui 'teknik replikasi delta hedge'.

Setiap tanggal 1, rasio lindung nilai (hedging) dihitung ulang dan portofolio diseimbangkan kembali dengan menerapkan harga penutupan indeks dasar pada akhir bulan sebelumnya ke harga eksekusi opsi. Dengan menyesuaikan bobot kelas aset berdasarkan harga penutupan indeks dasar pada akhir bulan sebelumnya, cakupan kerugian pun dibatasi. Saat harga saham naik, bobot saham ditingkatkan hingga maksimal 95% untuk mengejar keuntungan, dan saat harga saham turun, bobot obligasi ditingkatkan untuk membatasi kerugian.

Pada akhirnya, dimungkinkan untuk menerapkan 'strategi dua arah' yaitu mengincar keuntungan di pasar bullish dan mengurangi kerugian di pasar bearish. Karena tidak benar-benar membeli opsi, maka tidak ada biaya pembelian opsi, yang menjadi keunggulan tersendiri karena beban biaya lebih ringan dibandingkan strategi opsi pada umumnya. Total biaya ETF adalah 0,49%, yang tergolong cukup stabil untuk strategi aktif yang dikelola secara agresif.

Dengan demikian, metode investasi yang memanfaatkan strategi derivatif di pasar ETF domestik juga semakin canggih. Sejak peluncuran ETF Covered Call pertama pada tahun 2012, ETF Covered Call generasi pertama yang mengincar dividen stabil melalui penjualan opsi beli (call option) sebagai respons terhadap meningkatnya volatilitas pasar menjadi sorotan pada tahun 2022-2023. Setelah itu, ETF Covered Call generasi kedua yang mengikuti pasar bullish secara lebih aktif muncul dalam jumlah besar tahun lalu, dan pada bulan Maret tahun ini, bahkan ETF tipe buffer yang menggabungkan strategi Covered Call dengan spread opsi jual telah diluncurkan, memperluas jangkauan strategi derivatif.

Upaya memasukkan strategi opsi ke dalam ETF seperti ini menunjukkan evolusi dari sekadar mengikuti indeks menjadi kemampuan untuk merespons kondisi pasar. Namun, perlu dicatat bahwa karena ETF ini mengejar stabilitas dibandingkan memaksimalkan keuntungan di pasar bullish, imbal hasilnya mungkin relatif lebih kecil daripada ETF biasa. Meski demikian, jika Anda memiliki ketakutan besar terhadap kegagalan dalam memilih saham individu dan ingin meminimalkan risiko, ini bisa menjadi pilihan yang efektif.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김세아 금융 칼럼니스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지