주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Proyek Dukungan Seni Korea Musim ke-11
Han A-reum - Surga bagi Makhluk-makhluk Kecil

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Proyek Dukungan Seni Korea dimulai sebagai inisiatif yang sepenuhnya ditujukan untuk mendukung para seniman dan telah berlangsung selama 10 tahun. Dengan menjaga komitmen awal, kami telah mendukung sekitar 230 seniman. Ini adalah satu-satunya inisiatif yang belum pernah dicoba oleh media, organisasi budaya, atau lembaga pemerintah mana pun di negara ini. Kami bangga bahwa kegigihan selama 10 tahun tersebut kini telah terukir sebagai sebuah nilai dalam dunia seni Korea abad ke-21. Itulah sebabnya proyek ini dinilai telah menciptakan "sebuah titik pandang untuk mengamati arus seni kontemporer Korea melalui sejarah 10 tahun Proyek Dukungan Seni Korea". Kini, di musim ke-11, kami berusaha membuka jalan lain bagi seni Korea.

한아름 작가는 디자인적 방법과 회화 기법이라는 상반된 요소를 조합해 주목도가 높은 화면을 연출해 아름다우면서 묵직한 메시지도 함께 보여준다. 사진=박정훈 기자
Seniman Han A-reum menggabungkan elemen yang berlawanan, yaitu metode desain dan teknik melukis, untuk menciptakan visual yang menarik perhatian sekaligus menampilkan pesan yang mendalam. Foto = Reporter Park Jung-hoon

Dunia ini dikuasai oleh paradoks. Hal yang paling menunjukkan fenomena ini adalah penilaian terhadap peradaban material. Meski telah membuat umat manusia makmur, peradaban ini tidak mendapatkan penghargaan yang setimpal. Semua orang mengkritik peradaban material. Terutama di kalangan intelektual, hal ini dianggap sebagai topik yang wajib dibahas.

Pop art, yang membangun kekuatan besar abad ini dengan memanfaatkan peradaban material sebagai nutrisinya, menunjukkan kontradiksi ini dengan jelas. Seniman yang sukses dengan pop art memiliki kesamaan, yaitu mendapatkan kekayaan dan ketenaran melalui karya-karya yang mengkritik peradaban material, kapitalisme, dan sistem Amerika sebagai model kesuksesan hal tersebut.

Dalam seni, kontradiksi ini dirangkum sebagai 'postmodernisme'. Hal ini karena elemen-elemen yang berlawanan disatukan menjadi satu metode ekspresi yang efektif.

Secara nilai, postmodernisme menitikberatkan pada nilai baru yang muncul dari penggabungan pemikiran Timur dan logika Barat, atau pencampuran antara tradisional dan modern. Begitu pula dengan penggabungan antara perempuan dan laki-laki, atau alam dan buatan. Dalam seni, hal ini muncul sebagai kompleksitas ekspresi. Seperti kombinasi antara kerumitan dan kesederhanaan, warna primer dan warna monokrom, serta kolaborasi antara garis lurus dan kurva.

Hide & seek(Assemble)163: 181.8×181.8cm Acrylic on canvas 2024
Hide & seek(Assemble)163: 181.8×181.8cm Akrilik di atas kanvas 2024

Alice Dalton Brown, yang baru-baru ini mengadakan pameran tunggal di Korea, juga merupakan seniman sukses yang memasukkan nilai-nilai postmodernisme ke dalam karyanya. Di usia 87 tahun, ia masih menunjukkan dunia karya baru dengan menampilkan elemen-elemen yang berlawanan dalam satu layar sebagai pemandangan yang liris.

Karyanya, yang ia kembangkan secara otodidak, meraih ketenaran dunia berkat pemandangan laut yang sangat emosional yang mulai muncul di usia 80-an. Gelombang laut tenang yang bersinar halus dan interior geometris, hutan yang terjalin rumit dan bangunan sederhana berpadu menjadi satu, menciptakan visual yang dramatis sekaligus penuh liris.

Han A-reum, yang kini mendapat perhatian karena pemandangan hutannya, juga menampilkan karya dengan elemen-elemen yang bertentangan tersebut. Hal pertama yang menarik perhatian dalam karyanya adalah harmoni dari elemen-elemen yang heterogen. Pertama, penempatan metode ekspresi. Hutan yang memenuhi sebagian besar layar dikerjakan dengan teknik yang sangat desain. Sebaliknya, hewan-hewan di dalam hutan yang menjadi subjek karya digambarkan dengan teknik melukis yang sangat realistis.

cage and bird2: 91×116.8cm Acrylic on canvas 2022
cage and bird2: 91×116.8cm Akrilik di atas kanvas 2022

Dalam pandangan seni tradisional, ini adalah kombinasi yang tidak wajar dan hampir dianggap tabu. Namun dalam seni kontemporer, metode ekspresi desain sudah lama menjadi teknik baru yang mapan.

Lukisan karya Han A-reum, yang menggabungkan elemen berlawanan antara metode desain dan teknik melukis untuk menciptakan visual yang sangat menarik perhatian, tidak hanya indah tetapi juga menyampaikan pesan yang berat.

Tanaman di hutan tersebut adalah tanaman tropis seperti eukaliptus atau pisang, dan hewan-hewan yang bersembunyi di dalamnya seperti sedang bermain petak umpet adalah hewan-hewan lemah yang terancam punah. Seperti burung sirtu (red-headed long-tailed tit), berang-berang, atau burung hantu.

Melalui visual yang ia ciptakan, sang seniman memimpikan surga di mana makhluk-makhluk yang lemah dan kecil dapat hidup dalam keseharian yang bahagia.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
전준엽 화가·비즈한국 아트에디터
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지