[비즈한국] Istilah 'Koreanisme' (Koreanism) belakangan ini tengah menjadi perbincangan. Istilah ini mulai muncul di media sekitar tahun 2006. Berbeda dengan saat ini yang banyak dibicarakan di bidang konten, istilah ini awalnya muncul di dunia mode. Secara spesifik, istilah ini disebut melalui kiprah model busana. Pada masa itu, penampilan Han Hye-jin dan Hye Park yang aktif sejak tahun 2005 dihubungkan dengan Koreanisme. Mereka menggunakan istilah 'Korean looking', yang berarti memiliki wajah khas Korea. Untuk menonjolkan keunikan Korea, wajah para wanita dalam lukisan Shin Yun-bok pun turut disebut. Hal ini berbeda dengan gambaran orang Barat di masa lalu tentang orang Timur, yang digambarkan dengan mata yang sipit tajam ke samping dan tulang pipi yang menonjol.
Dalam alur ini, muncul pula definisi bahwa Koreanisme bukanlah orientalisme dari sudut pandang Barat, melainkan ekspresi kekuatan budaya Korea melalui kacamata orang Korea sendiri. Setelah itu, citra khas Korea mulai disukai di pasar seni, dan tren yang sama juga muncul di bidang furnitur tradisional. Bagaimanapun, makalah akademis dan penggunaan istilah Koreanisme terutama berasal dari bidang mode. Di Paris Fashion Week 2024, kata kunci utama koleksi yang diperkenalkan oleh perusahaan kita juga adalah Koreanisme.

Namun pada Juli 2025, tiba-tiba istilah Koreanisme muncul di bidang konten video. Hal ini dikarenakan pernyataan sutradara Maggie Kang (Kang Min-ji), pengarah animasi Netflix 'K-Pop Demon Hunters'. Dalam wawancara media, ia mengungkapkan bahwa ia "melakukan riset dengan cermat agar film tersebut 'terasa semaksimal mungkin seperti budaya Korea' dalam setiap adegan dan elemen desain". Media domestik kemudian mengaitkan hal ini dengan istilah Koreanisme. Pasalnya, banyak ruang, benda, objek, dan citra khas Korea yang muncul dalam karya tersebut.
'K-Pop Demon Hunters' menampilkan makanan Korea yang sedang populer di seluruh dunia, yakni Gukbap (sup nasi), Gimbap, dan Tteokbokki. Bahkan detailnya sangat diperhatikan, seperti Gimbap atau Tteokbokki yang disajikan di atas piring hijau berbintik putih yang biasa digunakan di kedai camilan (bunsikjip) zaman dulu. Adegan di mana sendok dan sumpit diletakkan di atas tisu saat makan Gukbap juga menjadi topik pembicaraan. Tidak hanya Menara Namsan, tetapi juga jalur benteng Taman Namsan di Namsan Park yang terlihat dari Menara Namsan digambarkan secara mendetail. Fakta bahwa pergi ke apotek herbal untuk meracik obat herbal saat tidak enak badan adalah hal umum bagi generasi lama maupun generasi sekarang juga turut ditonjolkan. Tentu saja, riset mendalam mengenai budaya fandom K-Pop adalah salah satu elemen yang memicu antusiasme para penggemar.
Bukan hanya tempat nyata, budaya hidup, dan budaya K-Pop saja. Budaya tradisional juga tidak bisa dilewatkan. Berbagai pedang yang digunakan Huntrix (Sain-geom, Chilseong-geom, Woldo), pola ornamen dan perhiasan (norigae), serta karakter seperti Malaikat Maut dan Dokkaebi (makhluk mitologi Korea) muncul di dalamnya. Puncaknya adalah harimau. Sebelum namanya dikenal sebagai Derpy, karakter ini sudah sangat populer. Derpy adalah sosok harimau tradisional Korea yang ditemukan dalam lukisan rakyat (minhwa), namun terlahir kembali sebagai karakter yang lucu dan menggemaskan, tidak seperti layaknya hewan buas.

Sebagian pihak juga menyebutkan syarat-syarat Koreanisme. Meskipun disajikan melalui modal atau platform luar negeri, konten tersebut harus menjaga identitas Korea berdasarkan pemahaman akan esensi Korea, menyampaikan sensibilitas Korea, serta menggabungkannya secara modern. Dengan kata lain, Koreanisme adalah kemampuan untuk memahami esensi dan realitas budaya Korea, menciptakan konten budaya dari perspektif orang Korea, dan membagikannya kepada masyarakat dunia modern.
Yang penting adalah bahwa konten dengan gaya Korea belum tentu menjamin kesuksesan. Sebelumnya, animasi Korea pertama Netflix 'Lost in Starlight' dirilis pada 30 Mei lalu, namun tidak menjadi perbincangan. Padahal, konten tersebut sarat dengan elemen Korea dan merupakan kisah cinta jarak jauh antara pria dan wanita muda di masa depan dekat yang mungkin disukai generasi muda. Hal ini membuat kita merenungkan, sebagai konten kreatif, siapa sebenarnya yang ingin menonton konten ini?
Lantas, apakah 'K-Pop Demon Hunters' menjadikan gaya Korea, yakni Koreanisme, sebagai fokus utamanya? Faktanya, draf rencana awal 'K-Pop Demon Hunters' sangat berbeda dengan yang sekarang. Awalnya, okultisme adalah fokus utamanya dan K-Pop bukanlah materi utama. Sutradara Maggie Kang berpikir bahwa bentuk awal shamanisme mirip dengan konser yang menampilkan tarian dan musik. Karena adanya pengaturan perburuan setan, yakni penyamaran status para pengusir setan, ia terpikir untuk menggunakan grup K-Pop. Penambahan elemen K-Pop inilah yang menghidupkan suasana dan membuat adegan konser besar menjadikan film tersebut spektakuler.

Keunggulan Sutradara Maggie Kang tidak berhenti di situ. Ia berusaha semaksimal mungkin dalam memanfaatkan K-Pop. Ia tidak hanya menggunakan K-Pop sebagai alat, latar belakang, atau sekadar materi. Ia mencerminkan budaya K-Pop dengan baik, dan yang terpenting, melibatkan banyak pencipta aktif termasuk Teddy dan Ria Kim. Ia memasukkan lagu hit dari grup idola papan atas seperti TWICE dan lagu orisinal secara bersamaan, sehingga menghadirkan keakraban sekaligus kebaruan. Terlebih lagi, riset realitas tentang Korea sangat mendetail dan realistis. Hal ini dikarenakan sang sutradara lahir di Korea, menghabiskan masa kecilnya di sana, dan memiliki kecintaan terhadap K-Pop. Poin-poin inilah yang meledakkan reaksi fandom K-Pop, dan para penggemar akhirnya mengonsumsi segala sesuatu yang ada di dalam konten ini. Bagi fandom inti, baik itu makanan, lagu, maupun pernak-pernik, semuanya akan disukai.
Singkatnya, kesuksesan 'K-Pop Demon Hunters' bukan semata-mata karena gaya Korea atau Koreanisme. Reaksi fandom inti muncul karena mereka berhasil menciptakan konten yang menarik untuk diperhatikan dan didukung oleh penggemar K-Pop. Kita harus ingat bahwa konten Korea bergerak sepenuhnya berpusat pada penggemar, bukan hanya pada artis, agar hasil yang lebih baik dapat dicapai di masa depan. Kita tidak boleh terpaku pada Koreanisme itu sendiri. Jalan untuk menggabungkan dan membentuk kebutuhan konsumen konten global dengan identitas kita akan terus berlanjut.
Penulis Kim Heon-sik sejak usia 20-an telah menelusuri atau mengarungi hutan fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan, ia masih menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.