[비즈한국] Seiring dengan meningkatnya anggaran yang dialokasikan untuk program kesejahteraan darurat guna mendukung keluarga berpenghasilan rendah yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup akibat krisis ekonomi, jumlah penyaluran dana yang tidak sah (fraud) juga dilaporkan meningkat. Namun, karena tingkat pengembalian dana dari penyaluran tidak sah oleh pemerintah justru menurun, muncul kekhawatiran bahwa keluarga yang benar-benar membutuhkan bantuan pemerintah dapat dirugikan. Mengingat anggaran program kesejahteraan darurat telah ditambah lebih dari 20 miliar won melalui anggaran tambahan (APBN-P) tahun ini, muncul saran bahwa diperlukan kebijakan untuk mencegah penyaluran tidak sah dan memastikan penagihan kembali dana dari penerima yang tidak berhak dapat dilakukan dengan semestinya.

Presiden Lee Jae-myung dalam pidato kebijakan mengenai anggaran tambahan di Majelis Nasional pada tanggal 26 Juni mengatakan, “Jika kita melihat indikator ekonomi secara rinci, kesulitan yang dialami rakyat semakin terlihat nyata,” dan menambahkan, “Jumlah kaum muda yang putus asa mencari kerja telah mencapai rekor tertinggi, dan jumlah pelaku usaha mandiri yang gulung tikar mencapai 1 juta orang per tahun. Tingkat tunggakan pinjaman rumah tangga kelompok rentan melonjak drastis.” Presiden Lee melanjutkan, “Tugas terbesar pemerintah adalah melindungi kehidupan rakyat,” dan menekankan, “Bukan melalui ideologi atau slogan, melainkan tindakan nyata untuk menghidupkan ekonomi dan mata pencaharian rakyat adalah arah yang akan dituju pemerintah baru,” seraya meminta pengesahan anggaran tambahan tersebut.
Mencerminkan kebijakan Presiden Lee tentang ‘Pemerintah yang melindungi kehidupan rakyat’, anggaran program kesejahteraan darurat melalui APBN-P telah ditambah lebih dari 20 miliar won dari anggaran awal. Menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, anggaran awal untuk program kesejahteraan darurat tahun ini adalah 350,1 miliar won. Namun, seiring dengan memburuknya kondisi ekonomi akibat lemahnya permintaan domestik dan perang tarif, serta tragedi pesawat penumpang di Bandara Internasional Muju pada akhir tahun lalu, kebutuhan untuk menambah bantuan kesejahteraan darurat muncul. Oleh karena itu, dalam rancangan anggaran tambahan yang disahkan pada rapat pleno Majelis Nasional tanggal 4, anggaran program kesejahteraan darurat ditingkatkan menjadi 373 miliar won. Jumlah ini meningkat 22,9 miliar won dari anggaran awal.
Program kesejahteraan darurat adalah program yang memberikan bantuan biaya hidup, medis, dan perumahan bagi keluarga berpenghasilan rendah yang kesulitan mempertahankan hidup akibat kehilangan pekerjaan atau penyakit mendadak yang dialami kepala keluarga. Komponen terbesar dari program ini adalah subsidi biaya hidup, di mana untuk tahun ini, keluarga dengan 4 anggota diberikan 1.872.700 won per bulan. Subsidi biaya hidup ini diberikan maksimal selama 6 bulan dalam setahun.
Bantuan berikutnya dengan alokasi biaya tinggi adalah subsidi untuk penghuni fasilitas kesejahteraan sosial, yang diberikan kepada keluarga dengan 4 anggota sebesar 1.494.100 won per bulan, dengan periode pembayaran maksimal 6 bulan. Subsidi perumahan bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran atau lainnya, untuk mendukung masa tinggal di tempat tinggal sementara milik pemerintah atau pemerintah daerah, diberikan sebesar 662.500 won per bulan untuk keluarga dengan 4 anggota, dengan masa pembayaran maksimal 12 bulan. Subsidi untuk layanan medis seperti berbagai pemeriksaan atau pengobatan diberikan dengan batas maksimal 3 juta won.
Kementerian Kesejahteraan memperkirakan bahwa akibat berlarutnya penurunan ekonomi dan berbagai bencana, akan terjadi rata-rata 29.831 kasus bantuan biaya hidup dan 4.320 kasus bantuan layanan medis per bulan tahun ini. Faktanya, tingkat realisasi program kesejahteraan darurat yang semakin tinggi akibat memburuknya ekonomi juga memengaruhi kenaikan anggaran. Tingkat realisasi program kesejahteraan darurat yang berada di angka 88,6% pada tahun 2021, meningkat menjadi 90,7% pada tahun 2022, 95,6% pada tahun 2023, dan telah naik hingga 98,0% pada tahun 2024. Tahun ini, hingga bulan Mei, tingkat realisasi program sudah mencapai 48,0%, dan jika tren ini berlanjut, diperkirakan akan melampaui level tahun lalu.
Masalahnya adalah, karena pemerintah berusaha meningkatkan tingkat realisasi agar keluarga berpenghasilan rendah tidak jatuh ke dalam krisis, ada cukup banyak kasus di mana bantuan diterima secara tidak sah. Jumlah penyaluran tidak sah yang terdeteksi pemerintah sempat tampak menurun dari 1,617 miliar won pada tahun 2021 menjadi 1,198 miliar won pada tahun 2022, dan 1,133 miliar won pada tahun 2023, namun meningkat kembali menjadi 1,432 miliar won pada tahun lalu. Seiring memburuknya ekonomi, jumlah pihak yang menerima bantuan kesejahteraan darurat dengan cara curang pun meningkat. Di sisi lain, tingkat pengembalian dana (recovery rate) atas penyaluran tidak sah justru menurun. Rasio jumlah kasus pengembalian yang berada di angka 83,0% pada tahun 2021 sempat naik turun ke 64,3% pada tahun 2022 dan 74,5% pada tahun 2023, sebelum akhirnya turun ke 69,8% pada tahun lalu.
Karena rendahnya jumlah kasus pengembalian, rasio nominal dana yang kembali pun ikut menurun. Jika pada tahun 2021 proporsi dana yang berhasil ditarik mencapai 85,2% dari total yang diputuskan untuk ditarik, angkanya turun ke kisaran 70% pada tahun 2022 (72,0%) dan 2023 (77,0%), kemudian anjlok ke kisaran 60% yakni 63,0% pada tahun lalu.