주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Investasi Paling Umum
'RE100 adalah Biaya Kelangsungan Hidup', Era di mana Karbon Menjadi Aset

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Seiring pemerintah Lee Jae-myung mulai mendorong pembentukan 'Kawasan Industri RE100' secara serius, industri energi terbarukan kembali menjadi sorotan. Kim Yong-beom, Kepala Biro Kebijakan Kantor Kepresidenan, dalam pengarahan terkait di kantor kepresidenan di Yongsan, Seoul, pada tanggal 10 menyatakan, "Kami akan meninjau secara aktif pembentukan 'Undang-Undang Khusus tentang Pembentukan dan Dukungan RE100 dan Energi' pada sidang paripurna DPR kali ini," seraya menambahkan bahwa, "Hal ini selaras dengan filosofi inti kepresidenan mengenai transisi energi dan pembangunan regional yang seimbang." Dengan demikian, kawasan industri RE100 akan didorong sebagai agenda kebijakan prioritas.

RE100 adalah singkatan dari 'Renewable Energy 100', sebuah kampanye global yang dipimpin oleh organisasi nirlaba internasional, The Climate Group. Inti dari kampanye ini adalah komitmen perusahaan untuk beralih ke energi terbarukan untuk seluruh kebutuhan listrik yang digunakan paling lambat tahun 2050. Sebagai dampaknya, perusahaan global seperti Apple, Google, dan Microsoft telah bergabung, dan mereka juga menuntut standar ini dari perusahaan rantai pasokan mitra mereka. Perusahaan terkemuka di dalam negeri seperti Samsung Electronics005930, SK Hynix000660, dan LG Energy Solution373220 juga telah bergabung, namun realitanya tidak mudah. RE100 kini bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan masalah nyata untuk dapat bertahan dalam rantai pasokan global.

Perketatan regulasi internasional seperti mekanisme penyesuaian perbatasan karbon Eropa dan target pengurangan gas rumah kaca 2030 semakin dipercepat. Dengan demikian, investasi jangka panjang pada industri terkait, perusahaan, dan ETF seperti energi angin, tenaga surya, dan infrastruktur listrik kini menjadi strategi baru yang menarik perhatian. Foto=AI Generatif
Perketatan regulasi internasional seperti mekanisme penyesuaian perbatasan karbon Eropa dan target pengurangan gas rumah kaca 2030 semakin dipercepat. Dengan demikian, investasi jangka panjang pada industri terkait, perusahaan, dan ETF seperti energi angin, tenaga surya, dan infrastruktur listrik kini menjadi strategi baru yang menarik perhatian. Foto=AI Generatif

The Climate Group baru-baru ini mengirim surat terbuka kepada Presiden Lee Jae-myung, memperingatkan bahwa Korea berisiko dikeluarkan dari rantai pasokan global karena tingkat pengadaan energi terbarukan yang rendah. Mereka menyoroti bahwa 36 perusahaan Korea yang bergabung dengan RE100 mengonsumsi 68 TWh (Terawatt-jam) listrik per tahun, namun tingkat pengadaan energi terbarukan rata-rata hanya 12%. Secara khusus, mereka menunjukkan bahwa tingkat konversi energi terbarukan Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing hanya sebesar 16,3% dan kurang dari 3%. Hal ini dinilai tertinggal 10 tahun dibandingkan target tahun 2040 yang ditetapkan TSMC dari Taiwan, dan jauh di bawah rata-rata tingkat pengadaan perusahaan RE100 global yang mencapai 53%. Bagi perusahaan, RE100 bukan lagi sebuah pilihan, melainkan biaya untuk bertahan hidup.

Alasan lain mengapa RE100 menjadi sangat mendesak adalah karena regulasi karbon global akan menjadi kenyataan dalam 5 tahun ke depan. Mulai tahun depan, Uni Eropa (EU) akan mulai menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), dan target pengurangan gas rumah kaca nasional (NDC) tahun 2030 juga semakin dekat. Jika gagal mengurangi emisi karbon, perusahaan terancam terkena bom pajak dan dikucilkan dari rantai pasokan. Hal ini merupakan ancaman yang lebih besar bagi Korea yang memiliki banyak perusahaan eksportir.

Han Byung-hwa, peneliti di Eugene Investment & Securities, mengatakan, "Jika kita tidak mengaktifkan pembelian dan investasi langsung energi terbarukan dalam skala besar oleh perusahaan RE100, kapasitas ekspor perusahaan kita akan menurun. Oleh karena itu, transisi kebijakan energi pemerintah Lee Jae-myung yang berpusat pada energi terbarukan adalah langkah yang dapat dibenarkan."

Di tengah perubahan ini, strategi investasi seperti apa yang harus diterapkan? Secara garis besar ada tiga: berinvestasi pada industri dan perusahaan yang diuntungkan seperti tenaga surya dan angin, serta perusahaan yang menerapkan RE100.

Peneliti Han memperkirakan, "Dalam 5 tahun ke depan, kapasitas instalasi energi terbarukan baru di dalam negeri harus ditingkatkan dari level 3 GW saat ini menjadi 10 GW agar dapat menghindari risiko hambatan karbon. Perusahaan angin dan tenaga surya dengan porsi penjualan domestik yang tinggi, serta perusahaan jaringan dan perangkat listrik akan mengalami fase pertumbuhan berkat jaminan pasar domestik yang stabil."

Eugene Investment & Securities merekomendasikan sejumlah saham terkait energi di dalam negeri, antara lain Hanwha Ocean042660, CS Wind112610, SK Oceanplant, LS Marine Solution, Unison, Dongkuk S&C (tenaga angin), Hanwha Solutions, HD Hyundai Energy Solutions, Shinsung E&G (tenaga surya), serta HD Hyundai Electric, LS ELECTRIC, Hyosung Heavy Industries, Daehan Cable & Solution, dan Iljin Electric (infrastruktur listrik). Selain itu, jika sulit memilih saham secara individu, investor dapat mempertimbangkan cara berinvestasi melalui ETF terkait energi terbarukan seperti ‘KODEX Renewable Energy Active’ dan ‘TIGER Fn Renewable Energy’.

Tentu saja, ada kekhawatiran bahwa investasi infrastruktur energi terbarukan memerlukan waktu dan profitabilitasnya bisa rendah tanpa dukungan pemerintah. Selain itu, prospek bahwa permintaan energi terbarukan akan terdampak negatif setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani paket pemotongan pajak besar-besaran yang disebut 'One Big Beautiful Bill Act' (OBBB) juga menjadi faktor yang meningkatkan volatilitas. Oleh karena itu, investasi terkait energi terbarukan harus didekati dalam jangka panjang dan menghindari ekspektasi kenaikan jangka pendek yang berlebihan.

Perubahan iklim bukan lagi sekadar cerita tentang beruang kutub. Perusahaan global yang bergerak demi keuntungan telah menyadari bahwa RE100 adalah daya saing masa depan. Jika 20 tahun lalu kita mencari peluang di 'Internet', maka untuk 20 tahun ke depan, 'karbon' bisa menjadi peluang baru.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김세아 금융 칼럼니스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지