주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Kolom Redaksi
Apakah 'Negara di Mana Rakyatnya Tetap Miskin Meski Bekerja' Benar-benar Negara Maju?

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Upah minimum tahun depan telah ditetapkan sebesar 10.320 won per jam. Angka ini naik 2,9% atau 290 won dibandingkan tahun ini. Jika dikonversi menjadi gaji bulanan, jumlahnya sekitar 2.156.880 won. Pemerintah memaknai hal ini sebagai kesepakatan antara buruh dan pengusaha yang akhirnya tercapai setelah 17 tahun, namun kenyataannya ini hanyalah kesepakatan setengah jalan. Federasi Serikat Buruh Korea (FKTU) menyetujuinya, sementara Federasi Serikat Buruh Demokratik Korea (KCTU) menolaknya, dan pihak pengusaha juga menyatakan ketidakpuasan yang kuat terhadap tingkat kenaikan tersebut. Faktanya, selalu tidak ada kesepakatan yang memuaskan semua pihak. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar dari itu.

“Apakah kita negara di mana seseorang bisa hidup sendiri hanya dengan mengandalkan upah minimum?”

Realitasnya masih cenderung menjawab ‘tidak’. Dengan upah minimum saat ini, sulit untuk mempertahankan hidup mandiri, bukan hanya di Seoul, tetapi juga di kota-kota kecil di daerah. Di Seoul, jika kita menjumlahkan uang jaminan sewa kamar (deposit) sebesar 5 juta won, sewa bulanan 500 ribu won, biaya makan 300 ribu won, biaya transportasi 150 ribu won, serta biaya komunikasi dan utilitas sekitar 170 ribu won, maka dibutuhkan setidaknya 1,12 juta won per bulan. Jika mempertimbangkan biaya medis, pakaian, dan dana darurat, dibutuhkan setidaknya lebih dari 1,5 juta won per bulan.

Upah minimum Korea tahun depan telah dinaikkan menjadi 10.320 won per jam, namun berdasarkan jumlah yang diterima bersih (take-home pay), angka ini masih belum cukup untuk hidup mandiri baik di Seoul maupun di daerah. Dibandingkan sekadar kenaikan upah, diperlukan transisi menuju struktur 'upah minimum + upah sosial', dukungan nyata bagi wiraswasta dan UKM, serta sistem penetapan upah yang dapat diprediksi. Foto=Reporter Choi Jun-pil.
Upah minimum Korea tahun depan telah dinaikkan menjadi 10.320 won per jam, namun berdasarkan jumlah yang diterima bersih (take-home pay), angka ini masih belum cukup untuk hidup mandiri baik di Seoul maupun di daerah. Dibandingkan sekadar kenaikan upah, diperlukan transisi menuju struktur 'upah minimum + upah sosial', dukungan nyata bagi wiraswasta dan UKM, serta sistem penetapan upah yang dapat diprediksi. Foto=Reporter Choi Jun-pil.

Namun, dari konversi upah minimum bulanan sebesar 2,15 juta won, setelah dipotong iuran empat asuransi sosial dan pajak, jumlah yang diterima bersih hanyalah sekitar 1,9 juta won. Sangat sulit secara realistis untuk mempertahankan hidup mandiri dengan jumlah ini. Kondisi di daerah pun tidak lebih baik. Biaya hidup di kota besar seperti Busan atau Gwangju juga tinggi, dan di kota-kota menengah-kecil, lapangan kerja seringkali hanya menawarkan upah setingkat upah minimum. Singkatnya, struktur di mana seseorang harus mengkhawatirkan 'kelangsungan hidup' meski telah bekerja keras selama 40 jam seminggu tidaklah mencerminkan profil negara yang membanggakan diri sebagai negara maju.

Korea jelas merupakan ekonomi sepuluh besar dunia, anggota OECD, dan negara yang memiliki perusahaan global serta konten budaya. PDB per kapita pun telah melampaui 35.000 dolar AS. Dilihat dari angka saja, negara ini memenuhi syarat sebagai 'negara maju'. Namun, negara maju yang sejati seharusnya bukan hanya "negara di mana semua orang hidup makmur", melainkan "negara di mana tidak seorang pun ditinggalkan". Hasil pertumbuhan ekonomi harus tersebar merata ke seluruh lapisan masyarakat, dan bahkan orang yang berada di posisi terendah dalam masyarakat pun harus mampu hidup dengan martabat manusiawi.

Lantas, apakah upah minimum Korea rendah dibandingkan negara lain? Jika dilihat dari nominal absolutnya saja, berada di peringkat menengah atas. Upah minimum Korea sebesar 10.320 won per jam lebih tinggi daripada Jepang (961 yen, sekitar 8.200 won) atau standar federal AS (7,25 dolar, sekitar 9.900 won), namun lebih rendah daripada Prancis (11,65 euro), Jerman (12 euro), dan Inggris (11,44 poundsterling). Namun, situasinya berbeda jika dilihat dari 'rasio terhadap upah median'. Korea berada di kisaran 52%, yang sebagian besar masih di bawah rata-rata OECD sebesar 55~58%.

Selain itu, terdapat perbedaan besar dalam daya beli riil. Pekerja dengan upah minimum di negara-negara besar Eropa meningkatkan kualitas hidup mereka melalui berbagai tunjangan sosial di luar gaji pokok, seperti subsidi perumahan, diskon biaya transportasi, dan dukungan biaya medis. Sebaliknya, di Korea, upah minimum pada dasarnya adalah segalanya bagi 'kelangsungan hidup'. Rasio ketersediaan rumah sewa publik hanya setengah dari rata-rata OECD, dan kesejahteraan seperti tunjangan perumahan atau tunjangan penghidupan memiliki persyaratan yang ketat dan hambatan administratif yang tinggi, sehingga tingkat penerimaan aktualnya rendah.

Tentu saja, argumen beban yang diajukan oleh kalangan pengusaha memiliki konteks yang masuk akal. Kenaikan biaya tenaga kerja memberikan tekanan biaya nyata bagi UKM dan wiraswasta. Kemungkinan bahwa kenaikan upah minimum akan berujung pada pengurangan lapangan kerja atau pemangkasan jam kerja tidak dapat diabaikan. Terutama bagi pelaku usaha kecil yang kondisi manajemennya memburuk setelah pandemi COVID-19, struktur yang menuntut kenaikan upah tanpa dukungan pemerintah menjadi tidak seimbang.

Oleh karena itu, sekadar menaikkan upah minimum tidak akan menjadi solusi mendasar. Hal yang perlu kita pelajari adalah konsep upah sosial (social wage) yang membentuk upah kehidupan riil melalui 'upah minimum + kesejahteraan'. Prancis melengkapi keterbatasan upah rendah melalui subsidi rumah sewa, tunjangan keluarga, dan dukungan transportasi. Jerman mendukung biaya perumahan dan biaya hidup melalui sistem jaminan kehidupan dasar (Bürgergeld). Negara-negara Nordik tidak memiliki upah minimum legal, tetapi mereka melindungi kehidupan pekerja melalui negosiasi serikat buruh yang kuat dan kesejahteraan publik.

Saat ini di Korea, strukturnya adalah 'upah minimum = garis kelangsungan hidup'. Karena absennya konsep upah sosial, kenaikan upah selalu berubah menjadi perjuangan hidup, dan struktur di mana pekerja serta pengusaha berkonflik menjadi terus berulang. Untuk mengurangi konflik dan meningkatkan keberlanjutan, cara penetapan upah minimum harus didesain ulang sejak awal. Dibutuhkan formula penyesuaian otomatis yang mencerminkan tingkat inflasi, produktivitas, dan upah median, atau pedoman jangka menengah dan panjang, bukan struktur negosiasi yang berulang setiap tahun layaknya konflik politik.

Pada saat yang sama, dukungan bagi wiraswasta dan UKM juga harus diperkuat. Beban harus dibagi melalui alat kebijakan nyata seperti dukungan iuran asuransi sosial, pemotongan pajak, dan konsultasi manajemen. Kebijakan untuk mengurangi kesenjangan upah antara pekerja tetap dan tidak tetap, serta antara perusahaan besar dan UKM juga harus dijalankan secara beriringan.

Bukankah seharusnya kita menjadi 'negara di mana setiap pekerja pun dapat hidup dengan bermartabat'? Tidak peduli apakah orang itu pekerja paruh waktu di minimarket, perawat lansia, kurir makanan, atau staf kebersihan. Mendesain upah dan sistem agar mereka dapat hidup mandiri dan menjaga martabat saat bekerja keras 8 jam sehari dan 40 jam seminggu, itulah kelas dari negara maju dan tanggung jawab negara.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
봉성창 기자

기업이 말하는 성장의 언어와 그 뒤에 놓인 현실의 간극을 집요하게 들여다보고 있습니다. 산업 현장의 변화는 숫자만으로 설명되지 않습니다. 투자와 고용, 기술과 규제, 혁신과 책임이 충돌하는 지점에서 비로소 기업의 진짜 얼굴이 드러납니다. 그 균열을 놓치지 않고, 복잡한 산업 이슈를 독자가 납득할 수 있는 맥락으로 풀어내는 일을 해왔습니다. 빠르게 흘러가는 시장의 소음 속에서도 끝까지 물어야 할 질문을 붙들고, 비즈한국 산업팀만의 날카롭고 균형 잡힌 시선으로 산업의 현재와 다음을 기록하겠습니다.

bong@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지