주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Mil-Talk TellingEksklusif
KAI Mulai Mengembangkan 'Pesawat Nirawak Berbasis Kapal Induk' untuk Angkatan Laut

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] KAI telah memulai pengembangan pesawat nirawak (drone) berbasis kapal induk. Konsepnya adalah memodifikasi pesawat tempur nirawak (UCAV) untuk Angkatan Udara yang sebelumnya dalam tahap penelitian konsep agar dapat dioperasikan dari kapal induk. UCAV ini tidak hanya memiliki bagian hidung yang modular, tetapi juga mampu membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh serta drone yang diluncurkan dari udara di dalam maupun luar ruang senjata internalnya.

Informasi tersebut diungkapkan pada tanggal 8 Juli dalam 'Seminar ke-8 Peringatan Kemenangan Pertempuran Selat Korea' yang diselenggarakan oleh kantor anggota parlemen Yoo Yong-won. Dalam kesempatan tersebut, Kang Byeong-gil, Kepala Laboratorium Sistem Masa Depan Korea Aerospace Industries047810 (KAI), menyatakan bahwa pengembangan pesawat tempur nirawak berbasis kapal induk sangat dimungkinkan dengan menggunakan UCAV yang sedang dalam desain konsep oleh KAI sebagai basisnya.

Drone berbasis kapal induk yang sedang dikembangkan KAI adalah pesawat serang nirawak jet kelas 6 ton yang dimodifikasi dari UCAV Angkatan Udara agar dapat dioperasikan dari kapal induk. Keunggulannya meliputi fitur siluman, penggantian sensor modular, serta kemampuan membawa rudal jarak jauh dan drone yang diluncurkan dari udara. Foto=Disediakan oleh KAI
Drone berbasis kapal induk yang sedang dikembangkan KAI adalah pesawat serang nirawak jet kelas 6 ton yang dimodifikasi dari UCAV Angkatan Udara agar dapat dioperasikan dari kapal induk. Keunggulannya meliputi fitur siluman, penggantian sensor modular, serta kemampuan membawa rudal jarak jauh dan drone yang diluncurkan dari udara. Foto=Disediakan oleh KAI

UCAV yang dikembangkan sebelumnya oleh KAI adalah pesawat nirawak pendamping (CCA) yang terbang dalam formasi bersama pesawat tempur berawak KF-21. Pesawat pendamping nirawak sedang aktif dikembangkan di Amerika Serikat, Tiongkok, Turki, dan lainnya. Meskipun di Korea Selatan proyek seperti LOWUS dari Korean Air003490 juga sedang didorong, UCAV milik KAI jauh lebih besar, sehingga memiliki keunggulan dalam hal kapasitas muatan dan performa.

KAI sedang memodifikasi UCAV ini untuk keperluan kapal induk. Untuk tujuan tersebut, sistem pendaratan diperkuat dan perangkat pengait pendaratan (Tail Hook) ditambahkan. Dengan modifikasi ini, drone berbasis kapal induk KAI akan mampu lepas landas dan mendarat di kapal induk konvensional.

Spesifikasi utama drone berbasis kapal induk tersebut adalah sebagai berikut: berat lepas landas maksimum (MTOW) di bawah 6 ton, jarak tempuh sekitar 482 km (300 mil laut), kapasitas muatan senjata 800 kg, dan kecepatan maksimum di bawah Mach 0,6. Ukurannya serupa dengan pesawat latih L-39 Albatros dari Ceko, namun relatif lebih lambat dibandingkan KF-21 Boramae yang memiliki kecepatan maksimum Mach 1,8.

Alasan KAI menurunkan kecepatan adalah karena penggunaan mesin turbofan bypass tinggi (Hi-Bypass Engine) yang efisien. Karena drone ini digunakan tidak hanya untuk pertempuran udara atau serangan darat tetapi juga untuk misi pengintaian (ISR), efisiensi lebih diutamakan daripada kecepatan tinggi.

Meskipun dari segi kecepatan tidak menyamai pesawat tempur berawak, drone berbasis kapal induk KAI dilengkapi dengan berbagai kemampuan baru yang tidak dimiliki pesawat berawak. Pertama adalah fitur siluman (stealth). Pesawat ini dilengkapi dengan ruang senjata internal (Internal Weapons Bay), sama seperti yang diterapkan pada KF-21 EX, untuk menghindari deteksi radar musuh.

Kedua adalah fleksibilitas penggantian peralatan misi melalui desain modular. Dengan mengganti bagian hidung, berbagai sensor seperti radar AESA, perangkat deteksi inframerah untuk pertempuran udara (IRST), dan peralatan optik elektronik untuk serangan darat (EOTS) dapat dipasang sesuai misi. Varian masa depan juga diharapkan mampu dipasangi radar pencari maritim.

Karakteristik ketiga adalah persenjataan yang kuat dan kemampuan integrasi pengoperasian drone. Drone berbasis kapal induk KAI mampu melakukan pertempuran udara jarak jauh dengan membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor dari MBDA, serta dapat berfungsi sebagai 'induk drone' dengan membawa drone berukuran sedang dan kecil yang sedang dikembangkan sendiri oleh KAI. Ini adalah konsep di mana satu drone mengoperasikan drone lainnya, dengan satu drone berbasis kapal induk mengomandoi banyak drone secara bersamaan.

Jika pengembangan drone berbasis kapal induk KAI dilaksanakan sepenuhnya, Korea Selatan akan menjadi negara ketiga di dunia yang mengembangkan pesawat serang nirawak jet untuk kapal induk setelah MQ-25 Amerika Serikat dan Bayraktar Kızılelma Turki. Secara khusus, pesawat ini dapat memposisikan diri sebagai pesaing kuat bagi drone Turki yang saat ini sudah mendominasi pasar ekspor drone.

Dibandingkan dengan Kızılelma, drone berbasis kapal induk KAI memiliki kapasitas muatan yang lebih besar. Selain itu, keunggulan kompetitifnya terletak pada kemampuannya melakukan pertempuran udara berkat pemasangan radar AESA yang tidak dimiliki oleh MQ-25.

Namun, mengingat ukuran badan pesawat nirawak kapal induk yang besar, kapasitas dan performa kapal komando terintegrasi berawak-nirawak yang harus mampu menampungnya juga menjadi tantangan yang perlu disesuaikan. Untuk lepas landas, diperlukan ketapel elektromagnetik (EMALS) yang mampu menahan beban lebih dari 6 ton, dan Korea Selatan saat ini berencana untuk meneliti dan mengembangkan sendiri EMALS kelas 20 ton. Meski demikian, karena EMALS adalah bidang yang baru dicoba, risiko teknis tertentu mungkin akan menyertainya.

Sebagai alternatif, penulis menyarankan untuk mengembangkan terlebih dahulu ketapel elektromagnetik kelas 8 ton yang disesuaikan dengan berat lepas landas maksimum drone KAI, kemudian secara bertahap ditingkatkan ke kelas 20 ton yang dapat mengoperasikan pesawat sekelas MQ-25. Alternatif lainnya adalah mengembangkan secara paralel versi yang mampu lepas landas dengan metode ski jump tanpa ketapel dengan menambahkan canard dan nozzle vektor dorong (TVC).

Selama 20 tahun terakhir, Angkatan Laut Korea telah berusaha untuk mendapatkan kapal induk, namun selalu gagal karena kurangnya anggaran dan personel. Namun, jika drone berbasis kapal induk, sistem komando terintegrasi berawak-nirawak, dan kapal induk drone KAI menjadi kenyataan, hal ini tidak hanya akan melindungi kepentingan nasional di laut tetapi juga akan menarik perhatian sebagai komoditas ekspor pertahanan yang baru.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민석 한국국방안보포럼 연구위원

김민석은 미국 워싱턴에 본사를 둔 에비에이션 위크(Aviation Week)의 한국 특파원이자 한국국방안보포럼(KODEF) 연구위원. 국방일보 등 여러 매체에서 방위산업·국방 전문기자로 활동하고 있다. ‘달란트 투자’, ‘신사임당’, ‘경제한방’, ‘증시각도기’, ‘와이스트릿’ 등 경제·시사 유튜브 채널과 KFN TV ‘리얼웨폰 K’, ‘디펜스 프라임’에 출연해 국제정치와 방위산업 현안을 진단해왔다. 저서로 방위산업 투자 안내서 ‘K-방산에 투자하라’가 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지