[비즈한국] Seiring dengan rencana Presiden Lee Jae-myung untuk memajukan industri AI, harga saham Naver dan Kakao035720 terus melonjak. Hal ini berkat pesan positif terkait industri AI yang disampaikan oleh Kantor Perencanaan Masa Depan AI yang baru dibentuk di bawah pemerintahan baru, serta pengangkatan Ha Jung-woo, seorang pakar AI mantan petinggi Naver Cloud, sebagai ketua tim ahli.
Namun, di kalangan industri juga muncul kekhawatiran yang cukup besar. Mengingat persaingan dengan pengembang AI global dari Amerika Serikat dan Tiongkok, ada kekhawatiran bahwa dukungan kebijakan AI mungkin hanya berfokus pada perusahaan-perusahaan besar. Jika platform besar seperti Naver dan Kakao mengamankan dan memanfaatkan data berskala besar melalui pencarian konsumen, ada kekhawatiran bahwa daya saing perusahaan platform khusus di berbagai bidang seperti barang elektronik, perjalanan, mobil bekas, dan belanja akan terpinggirkan oleh 'model AI' milik Naver dan Kakao.

Harga Saham Naik Mendekati Dua Kali Lipat
Kementerian Sains dan TIK telah melaporkan kepada Komite Perencanaan Negara bahwa mereka akan mengalokasikan anggaran sebesar 12,3 triliun won selama 5 tahun untuk merealisasikan janji Presiden Lee dalam menjadikan Korea sebagai salah satu dari 3 negara adidaya AI di dunia. Pemerintah juga mengumumkan rencana investasi sebesar 100 triliun won di sektor AI melalui kerja sama pemerintah dan swasta untuk mengukuhkan status tersebut hingga tahun 2030.
Rencana pengembangan '3 Negara Adidaya AI Dunia' dari pemerintahan Lee Jae-myung membuat harga saham terus meningkat dari hari ke hari. Naver pernah mencatat kenaikan hingga 58,17% sejak masa pemerintahan Lee Jae-myung. Pada tanggal 23 lalu, harga sahamnya sempat menyentuh 295.000 won dan hampir menembus angka 300.000 won. Kakao, yang sempat diperdagangkan di angka 36.300 won pada 20 Mei, juga melonjak hingga 71.600 won saat jam perdagangan pada tanggal 24, naik hampir dua kali lipat. Per tanggal 30, harga sahamnya berada di kisaran 60.000 won.
Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan juga terus menekankan 'layanan AI' mereka. Pada tanggal 30, Naver meluncurkan 'HyperCLOVA X THINK', kecerdasan buatan generatif (AI) yang meningkatkan kemampuan penalaran. Model penalaran baru yang diluncurkan ini memiliki fitur kekuatan berpikir yang ditingkatkan. Ketika pengguna memasukkan pertanyaan, model akan "berpikir" panjang layaknya sedang bergumam sebelum menyusun rencana jawaban.
Secara khusus, pemahaman bahasa telah ditingkatkan secara signifikan berdasarkan kemampuan penalaran tersebut. Naver menjelaskan, "Hasil pengukuran kemampuan bahasa model bahasa besar (LLM) utama menggunakan tolok ukur KoBALT-700 menunjukkan bahwa model ini mencatatkan skor yang lebih tinggi daripada model penalaran domestik utama dengan skala serupa dan model sumber terbuka (open-source) tingkat global terbaik."

KakaoBank323410 juga melalui Chief Financial Officer (CFO) Kwon Tae-hoon, menjanjikan 'peluncuran layanan AI' dalam panggilan konferensi laporan kinerja perusahaan. Mereka tengah mematangkan strategi AI-first, seperti baru-baru ini meluncurkan 'Kalkulator Keuangan AI' pertama di sektor perbankan. Kalkulator Keuangan AI yang diluncurkan KakaoBank ini memanfaatkan teknologi AI generatif untuk membantu pengguna mendapatkan hasil perhitungan secara otomatis setelah mereka mengajukan pertanyaan, tanpa perlu mengisi semua kondisi secara manual seperti jumlah pinjaman, suku bunga, durasi, dan metode pelunasan, sehingga lebih praktis.
'Rasa Krisis' bagi Platform dengan Modal Terbatas
Namun, ada perusahaan lain yang mengungkapkan kekhawatiran terhadap perhatian yang hanya tertuju pada Naver dan Kakao. Mereka adalah perusahaan platform yang mengkhususkan diri pada sektor industri tertentu. Muncul kekhawatiran bahwa sifat pengembangan AI yang membutuhkan modal besar dapat menyebabkan struktur pasar yang nantinya dimonopoli oleh segelintir perusahaan yang dipilih di bawah arahan pemerintah.
Jika model AI yang mempelajari dan memanfaatkan informasi pribadi konsumen atau minat melalui pencarian menjadi dominan di pasar dengan berpusat pada platform besar seperti Naver atau Kakao, maka platform daring di berbagai bidang seperti mobil bekas (Encar), perjalanan (Nol Universe, Yeogi Eottae), hingga belanja (Karrot, Gmarket, dll.) dapat menghadapi krisis.
Seorang perwakilan perusahaan platform mengungkapkan kekhawatirannya, "Karena AI memiliki banyak informasi mengenai konsumen, ia dapat menyajikan konten yang lebih akurat sesuai keinginan konsumen. Jika kebijakan dukungan pemerintah hanya berfokus pada perusahaan besar demi mengejar hasil, platform yang lebih kecil pasti akan kehilangan pasar." Ia menambahkan, "Mengingat Naver atau Kakao terus mencoba masuk ke berbagai pasar, pemerintah tampaknya perlu memperhatikan detail seperti mewajibkan penggunaan sumber terbuka (open-source) dalam rencana investasi AI mereka."