주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Mil-Duck Telling
Pelajaran bagi Kita dari Runtuhnya 'Perisai Lapis Empat' Israel

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] 'Perang rudal' antara Israel dan Iran kini tampak telah memasuki gencatan senjata yang tiba-tiba, setelah Amerika Serikat ikut campur di dalamnya. Perang ini dimulai pada dini hari 13 Juni ketika Israel membombardir Iran dengan sandi 'Operasi Rising Lion'. Hal ini memicu operasi balasan Iran yang bertajuk 'Operation True Promise III', yang kemudian disusul oleh AS yang membombardir Iran melalui 'Operation Midnight Hammer' pada 21 Juni. Akhirnya, pada dini hari tanggal 24 waktu Korea, Presiden Donald Trump secara mengejutkan mendeklarasikan gencatan senjata.

Jika kedua pihak benar-benar berhasil melakukan gencatan senjata seperti yang diumumkan Trump, maka apa yang disebut sebagai 'Perang 12 Hari' ini akan berakhir hanya dengan serangan rudal dan pengeboman udara tanpa pengerahan pasukan darat. Bagaimana kinerja rudal dan pengebom sebagai 'tombak', serta sistem pertahanan rudal sebagai 'perisai' dalam perang ini? Jika kita mencermati kasus Israel, Iran, dan AS, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik bagi kita yang sedang menghadapi ancaman nuklir Korea Utara.

‘Perang rudal 12 hari’ antara Israel dan Iran menunjukkan realitas bahwa sistem pertahanan canggih pun sulit membendung serangan campuran rudal balistik dan drone skala besar, yang juga memberikan pelajaran bagi Sistem Pertahanan Rudal Korea (KAMD). Foto=Yonhap News
‘Perang rudal 12 hari’ antara Israel dan Iran menunjukkan realitas bahwa sistem pertahanan canggih pun sulit membendung serangan campuran rudal balistik dan drone skala besar, yang juga memberikan pelajaran bagi Sistem Pertahanan Rudal Korea (KAMD). Foto=Yonhap News

Topik pertama yang perlu dibahas adalah hasil nyata dari 'jaringan pertahanan rudal berlapis' yang dibanggakan Israel. Kesimpulannya, kemampuan pertahanan rudal Israel menunjukkan keterbatasan yang nyata dalam perang ini. Tahun lalu, Iran pernah dua kali menembakkan rudal dan drone ke arah Israel. Saat itu, serangan dilakukan satu atau dua kali dalam semalam dan kerusakannya tidak besar. Namun, serangan kali ini telah diulangi lebih dari 5 kali sejak 14 Juni, dengan lebih dari 400 rudal dan ratusan drone yang diluncurkan, sebuah skala yang tidak bisa dibandingkan dengan tahun lalu.

Hasilnya, tingkat intersepsi rudal Israel yang sempat mencapai 90% turun hingga 65% pada hari-hari tertentu, menunjukkan penurunan performa. Keterbatasan struktural dari 'perisai rudal lapis empat' yang terdiri dari THAAD, Arrow, Patriot, David's Sling, dan Iron Dome telah tersingkap.

Penyebab pertamanya adalah penggunaan rudal model baru seperti Fattah-1 oleh Iran dalam perang ini. Fattah-1 mampu mengacaukan jaringan pertahanan dengan hulu ledak MaRV (Maneuverable Reentry Vehicle) yang mengubah lintasan di tahap akhir. Namun, jumlah rudal berpemandu seperti ini sangat sedikit, sementara mayoritas adalah rudal tua seri Shahab yang juga digunakan tahun lalu. Peluncuran rudal juga terkonsentrasi pada hari pertama dan kedua, dan setelah itu serangan berlanjut dengan puluhan rudal saja.

Namun, alasan mengapa kerusakan di Israel terus bertambah adalah karena kekurangan sumber daya. Selain THAAD dan Patriot, sebagian besar sistem pertahanan rudal tersebut adalah senjata buatan Israel, namun industri pertahanan domestik mereka tidak mampu mengisi kembali stok rudal yang berkurang dengan cepat. Selain itu, personel yang mengoperasikan dan mengendalikan sistem pertahanan udara adalah tenaga ahli yang sulit dilatih dalam jumlah besar, dan dalam situasi perang, perekrutan baru tidaklah mudah sehingga kelelahan mulai menumpuk. Dengan demikian, Israel berada dalam struktur yang mau tidak mau akan menderita karena biaya perang dan kekurangan tenaga kerja seiring berjalannya waktu.

Pada akhirnya, kurangnya kemampuan Israel memicu intervensi langsung dari AS. Pengebom siluman B-2 dikerahkan melalui operasi 'Midnight Hammer'. Di awal perang, Israel berhasil melumpuhkan sebagian besar jaringan pertahanan udara Iran melalui operasi Mossad dan jet tempur siluman, namun dengan jet tempur konvensional seperti F-15, F-16, dan F-35, mereka tidak sanggup menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah.

AS pun, demi menghindari perang total dengan Iran, menggunakan bunker buster non-nuklir bernama GBU-57 MOB, alih-alih bunker buster nuklir B61-12. Akibatnya, tampaknya mereka gagal menghancurkan fasilitas nuklir tersebut secara total. Hal ini terbukti dari fakta bahwa Israel terus melakukan pengeboman tambahan setelahnya.

Perang Iran-Israel ini memberikan berbagai pelajaran bagi strategi keamanan Korea Selatan, terutama jika dilihat dari kemampuan senjata serang, senjata pertahanan, dan kemampuan menembus bawah tanah.

Pertama, pelajaran bahwa senjata serang jauh lebih murah dan lebih cepat diproduksi daripada senjata pertahanan telah dikonfirmasi kembali. Selain itu, menjadi jelas bahwa bagi negara menengah yang bukan negara adidaya, kemampuan untuk membalas sangatlah terbatas. Cheongung-II dan L-SAM yang menjadi poros KAMD (Sistem Pertahanan Rudal Korea) kita sangat unggul dari segi performa. Namun, jika Korea Utara melakukan serangan rudal balistik massal (Salvo Attack) selama lebih dari seminggu seperti yang dilakukan Iran terhadap Israel, tingkat intersepsi pasti akan turun. Terutama jika Korea Utara menggunakan strategi 'serangan campuran' seperti Iran, yakni meluncurkan drone lambat dan rudal balistik cepat secara bersamaan, rudal pencegat yang mahal dan memakan waktu produksi akan berisiko cepat habis.

Untuk melengkapi ini, pengembangan senjata pertahanan yang lebih murah namun efektif sangatlah mendesak. Menurut pendapat pribadi penulis, perlu memanfaatkan perkembangan teknologi drone bunuh diri (loitering munition). Baru-baru ini, drone bunuh diri telah mencapai 'titik singularitas teknologi' di mana performanya meningkat namun harganya menurun. Dengan memanfaatkan hal ini untuk memodifikasi drone bunuh diri sebagai alat serang dan menentukan titik jatuh rudal balistik secara akurat, intersepsi mungkin saja dilakukan bahkan dengan drone yang kecepatannya relatif lambat.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah perlunya senjata penetrasi yang mampu melumpuhkan fasilitas strategis bawah tanah. Jika Israel memiliki senjata penetrasi bawah tanah berkekuatan tinggi seperti GBU-57 MOB, mereka mungkin bisa menyerang fasilitas nuklir Iran di awal perang tanpa bantuan AS. Situasi Korea Selatan lebih baik daripada Israel. Kita memiliki Komando Strategis Rudal yang memiliki kemampuan serangan rudal balistik yang kuat, dan setelah Hyunmoo-2, 3, dan 4, Hyunmoo-5 kini dapat dilengkapi dengan hulu ledak penetrasi kelas 8 ton yang cukup mampu mengancam fasilitas bawah tanah Korea Utara.

Namun, Hyunmoo-5 adalah sistem senjata yang mahal, sehingga sulit untuk memiliki ratusan unit dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, kita harus mengembangkan senjata yang dapat diproduksi secara massal dengan meningkatkan kesamaan suku cadang rudal seri Hyunmoo, serta menekan biaya dan ukuran perangkat pemandu. Selain itu, jika rudal seperti KTSSM (Ure) dan Hyunmoo-4 dilengkapi dengan sensor untuk mengukur lokasi sasaran dan kedalaman ledakan, serta beberapa rudal dapat saling bertukar informasi untuk melakukan serangan gelombang (Stream Attack) pada target yang sama, maka target bawah tanah sedalam puluhan meter pun dapat dilumpuhkan secara efektif.

Setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran, sulit untuk mengatakan bahwa perang telah benar-benar berakhir. Kapan, di mana, dan bagaimana balasan Iran akan terjadi masih sulit diprediksi, dan ketidakpastian situasi dunia kemungkinan besar akan terus berlanjut. Oleh karena itu, militer dan industri pertahanan kita harus segera menganalisis pelajaran militer dari perang ini dan mulai meneliti cara untuk mengembangkan 'sistem 3-aksis' Korea Selatan agar lebih efektif sejak sekarang.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민석 한국국방안보포럼 연구위원

김민석은 미국 워싱턴에 본사를 둔 에비에이션 위크(Aviation Week)의 한국 특파원이자 한국국방안보포럼(KODEF) 연구위원. 국방일보 등 여러 매체에서 방위산업·국방 전문기자로 활동하고 있다. ‘달란트 투자’, ‘신사임당’, ‘경제한방’, ‘증시각도기’, ‘와이스트릿’ 등 경제·시사 유튜브 채널과 KFN TV ‘리얼웨폰 K’, ‘디펜스 프라임’에 출연해 국제정치와 방위산업 현안을 진단해왔다. 저서로 방위산업 투자 안내서 ‘K-방산에 투자하라’가 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지