[비즈한국] Setelah Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir Iran secara langsung, Iran mengeluarkan kartu ancaman blokade Selat Hormuz. Hal ini memicu tanda-tanda pasar keuangan global akan kembali terguncang. Bahkan, muncul proyeksi di pasar bahwa harga minyak mentah internasional bisa melonjak dari kisaran 70 dolar per barel saat ini menjadi 130 dolar.
Pada awal pecahnya perang Israel-Iran, pasar tampak tenang secara tak terduga. Saat konflik militer antara Israel dan Iran memanas, harga minyak hanya naik sementara dan pasar saham justru menunjukkan ketahanan. Namun, intervensi militer langsung oleh AS kali ini berada pada dimensi yang berbeda. Biasanya, harga minyak mulai membebani pasar saham jika menembus 90 dolar atau naik lebih dari 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam situasi di mana risiko geopolitik meluas seperti sekarang, investor pun mau tidak mau harus sensitif.

Parlemen Iran pada tanggal 22 waktu setempat menyetujui pemblokiran Selat Hormuz sebagai respons atas pengeboman AS terhadap fasilitas nuklir mereka. Secara teknis, keputusan tersebut tinggal menunggu tahap finalisasi.
Selat Hormuz merupakan selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, serta menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara penghasil minyak Teluk, Iran, dan Irak. Selat ini sempit dan sebagian besar jalur pelayarannya berada di wilayah perairan Iran, sehingga Iran bisa saja memblokirnya jika mereka menginginkannya. Sekitar 20% volume pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati selat ini, dan 85% di antaranya ditujukan ke Asia.
Choi Jin-young, peneliti di Daishin Securities003540 mengatakan, “Jika wilayah perairan tersebut diblokir oleh Iran, gangguan pengiriman untuk Irak, Kuwait, dan Qatar tidak terhindarkan. Jika ekspor minyak mentah yang mencakup setidaknya 7-10% dari pasokan dunia terhambat, harga minyak bisa langsung menembus angka 85 dolar per barel.”
Jika Selat Hormuz benar-benar diblokir, harga minyak dunia diprediksi akan melonjak dan memberikan guncangan besar bagi ekonomi global. Kenaikan harga minyak yang drastis kemungkinan besar memicu kekhawatiran inflasi global dan potensi kelanjutan kebijakan pengetatan oleh Federal Reserve AS. Namun, para ahli melihat kemungkinan terjadinya harga minyak tinggi dalam jangka panjang tergolong rendah. Bahkan jika energi dijadikan senjata, Iran pun akan mengalami pukulan telak pada keuangan dan rantai pasokannya jika kehilangan pembeli.
Peneliti Choi menambahkan, “Meskipun Iran melakukan blokade di Selat Hormuz, kemungkinan blokade jangka panjang terbatas. Tidak masuk akal jika negara yang sedang berperang memutus sumber keuangan (penjualan energi) dan jalur pasokannya sendiri.”
Selama perang Iran-Irak tahun 1980-an, jalur pelayaran di Selat Hormuz sempat terancam oleh serangan terhadap kapal tanker dan kapal dagang lawan serta pemasangan ranjau, namun Iran tidak pernah memblokirnya secara total. Selain itu, banyak "negara sahabat" Iran seperti Tiongkok, Irak, dan Qatar sangat bergantung pada selat ini, sehingga beban bagi Iran sangat besar. Itulah sebabnya Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak Tiongkok untuk melakukan intervensi diplomatik.
Khususnya, dengan minimnya kekuatan yang secara aktif membantu Iran, muncul pandangan bahwa jika perang berlarut-larut seperti perang Rusia-Ukraina, kemungkinan harga minyak tinggi akan menetap adalah rendah.
Pasar saat ini juga cenderung menganggap situasi ini sebagai variabel jangka pendek daripada tren jangka menengah hingga panjang. Di pasar saham domestik, terjadi lonjakan jangka pendek pada saham pertahanan serta minyak dan kimia akibat risiko Timur Tengah, namun ada pandangan bahwa penawaran dan permintaan akhirnya akan kembali normal.
Han Seung-jae, peneliti di DB Securities001660 mengatakan, “Setiap kali isu perang muncul, kita meninjau kasus masa lalu, namun kesimpulannya sama. Volatilitas hanya bersifat jangka pendek dan akhirnya kembali ke kondisi penawaran dan permintaan sebelumnya.” Peneliti Han juga menambahkan, “Meskipun ketidakpastian meningkat tak terkendali, daripada bertaruh pada situasi ekstrem, kita perlu terus menyadari bahwa sebelum perang pun, kekhawatiran akan perlambatan permintaan ekonomi dan ancaman kelebihan pasokan akibat peningkatan produksi OPEC telah meningkat.”
Pada akhirnya, jika harga minyak benar-benar melewati angka 90 dolar, respons jangka pendek melalui ETF komoditas atau kelompok saham terkait bisa dipertimbangkan. Namun, "kejar-kejaran tren jangka pendek" yang hanya mengandalkan berita harus dihindari. Hal ini dikarenakan volatilitas mungkin bersifat sementara, dan harga kemungkinan besar sudah mencerminkan kondisi tersebut. Kita juga harus menilai bagaimana kenaikan harga minyak memengaruhi suku bunga dan nilai tukar. Jika kenaikan harga minyak kembali memicu inflasi dan menunda jadwal pemotongan suku bunga The Fed, tekanan koreksi bisa meningkat pada saham pertumbuhan yang berpusat pada sektor teknologi. Dalam kasus ini, memperhatikan sektor yang bersifat defensif terhadap ekonomi bisa sangat membantu.
Variabel lain adalah nilai tukar won-dolar dan aliran dana asing. Jika dolar menguat akibat kekhawatiran blokade Selat Hormuz, won dapat kembali menerima tekanan pelemahan. Khususnya, jika nilai tukar naik hingga mengancam level 1400 won, ada kemungkinan investor asing beralih melakukan aksi jual.
Jika kita meninjau kembali kasus perang Timur Tengah di masa lalu, isu perang memang memberikan guncangan kuat dalam jangka pendek, tetapi pasar akhirnya kembali ke standar fundamental seperti kinerja dan tren ekonomi. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menerapkan strategi yang tetap menjaga fokus di tengah guncangan.