[비즈한국] Pada tanggal 21 Juni (waktu setempat), Amerika Serikat melakukan pengeboman terhadap fasilitas nuklir Iran. Dengan intervensi militer AS dalam perang Israel-Iran yang meningkatkan ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, dampak yang akan ditimbulkan terhadap ekonomi global kini menjadi sorotan. Pemerintah Korea Selatan juga mengadakan rapat keamanan darurat pada tanggal 22 untuk membahas langkah respons.

Amerika Serikat telah meluncurkan serangan rudal terhadap fasilitas nuklir utama Iran. Dalam pidato nasional yang diselenggarakan di Gedung Putih pada pukul 22.00 tanggal 21, Presiden Donald Trump menyatakan, “Militer AS telah melakukan serangan presisi skala besar terhadap Fordo, Natanz, dan Isfahan, yang merupakan fasilitas nuklir utama rezim Iran. Tujuan Amerika adalah menghancurkan fasilitas nuklir Iran dan menghentikan ancaman nuklir dari negara pendukung terorisme terbesar di dunia.” Ia menambahkan, “Serangan ini mencapai kesuksesan militer yang luar biasa. Fasilitas nuklir utama Iran telah hancur sepenuhnya dan menyeluruh.”
Media asing seperti Reuters dan Fox News melaporkan bahwa AS menggunakan enam bom penghancur bunker (GBU-57), senjata super kuat yang mampu membumihanguskan fasilitas bawah tanah, serta 30 rudal Tomahawk dalam serangan tersebut. Diketahui bahwa pesawat pengebom siluman B-2 yang merupakan jet tempur tercanggih telah dikerahkan untuk operasi ini.
Presiden Trump juga mengisyaratkan kemungkinan serangan tambahan terhadap Iran. Ia memperingatkan, “Iran harus mencapai perdamaian sekarang. Jika tidak, serangan di masa depan akan lebih besar dan lebih mudah dilakukan. Masih banyak target yang tersisa. Jika perdamaian tidak segera tercapai, kami akan menyerang target yang tersisa secara presisi, cepat, dan teknis. Sebagian besar target dapat disingkirkan dalam hitungan menit.”
Ketegangan militer di Timur Tengah semakin meningkat seiring dengan intervensi AS dalam perang Israel-Iran. Hal ini dikarenakan adanya antisipasi serangan balasan dari Iran. Pasca serangan udara tersebut, seorang pembawa berita di TV pemerintah Iran menyebutkan bahwa “seluruh warga negara dan tentara Amerika telah menjadi target yang sah.” Sejauh ini dilaporkan tidak ada kerusakan akibat kebocoran radioaktif. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyatakan di X (sebelumnya Twitter) pada tanggal 22 bahwa “tidak ada peningkatan tingkat radioaktif eksternal yang terdeteksi di ketiga lokasi yang diserang oleh AS.”
Organisasi Tenaga Atom Iran (AEO) memprotes dengan menyatakan bahwa serangan AS merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Menurut pernyataan yang diunggah oleh Kedutaan Besar Iran di India di X pada tanggal 22, AEO menegaskan, “Fasilitas nuklir nasional di Fordo, Natanz, dan Isfahan telah menjadi target agresi yang brutal. Ini adalah tindakan yang melanggar hukum internasional, khususnya Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Meskipun ada konspirasi jahat dari musuh, kami tidak akan menghentikan pengembangan industri nasional (industri nuklir kami).” AEO juga memberi sinyal akan melakukan tindakan hukum.
PBB juga menyampaikan pesan penolakan terhadap serangan AS tersebut. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan, “Saya menyatakan keprihatinan serius atas penggunaan kekuatan oleh AS terhadap Iran,” dan menunjukkan bahwa “serangan AS meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah dalam krisis, dan merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional.” Sekretaris Jenderal Antonio juga menekankan bahwa “tidak ada solusi militer, satu-satunya jalan adalah diplomasi.”
Dampak terhadap ekonomi global kini menjadi perhatian seiring dengan AS yang secara de facto telah memasuki perang dengan Iran. Sejak Israel menyerang fasilitas nuklir Iran pada tanggal 13 dan muncul kemungkinan intervensi AS, nilai tukar Won terhadap Dolar AS telah meningkat, bahkan sempat mencatatkan level 1.380 Won selama perdagangan pada tanggal 18. Hal ini terjadi karena preferensi terhadap aset aman meningkat seiring dengan semakin besarnya risiko perang. Kalangan industri juga memantau situasi dengan kekhawatiran. Jika situasi Timur Tengah memburuk, pasokan minyak dapat terganggu yang kemudian memicu kenaikan harga minyak dan biaya pengiriman.
Pemerintah juga mulai melakukan persiapan. Pada tanggal 22, Kantor Kepresidenan mengadakan rapat darurat untuk meninjau situasi keamanan dan ekonomi yang dipimpin oleh Kepala Kantor Keamanan Nasional, Wi Sung-lac. Kantor Kepresidenan menyatakan, “Selain memahami situasi secara akurat, kami membahas secara intensif dampak serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran ini—setelah konflik Israel-Iran—terhadap keamanan dan ekonomi kita. Kami mengimbau komunikasi dan kolaborasi yang erat antar kementerian terkait agar dampak dari serangkaian peristiwa di Timur Tengah terhadap keamanan dan ekonomi Semenanjung Korea dapat diminimalisir.”