[비즈한국] Di tengah deklarasi Presiden Lee Jae-myung yang menetapkan kecerdasan buatan (AI) sebagai industri strategis nasional inti, posisi kepala kebijakan AI pertama kini dipercayakan kepada pakar dari sektor swasta. Kantor Kepresidenan pada tanggal 15 menunjuk Dr. Ha Jung-woo, mantan Kepala Pusat Inovasi AI Naver Cloud, sebagai Kepala Penasihat AI Masa Depan yang pertama. Dr. Ha dikenal sebagai praktisi yang berpengalaman dalam perencanaan teknologi, kebijakan, dan layanan secara menyeluruh, setelah memimpin pengembangan model bahasa besar (LLM) Naver, ‘HyperCLOVA X’.
Bergabungnya Dr. Ha memiliki arti penting sebagai titik awal bagi proyek pengembangan AI skala besar yang sedang disiapkan oleh pemerintahan Lee Jae-myung. Pemerintah telah mengumumkan rencana investasi gabungan pemerintah dan swasta sebesar total 100 triliun won, disertai dengan target kuantitatif konkret yaitu ‘pengadaan 50.000 GPU’. Mengingat pengalamannya di lapangan dalam sektor teknologi dan industri swasta, Dr. Ha diharapkan mampu memberikan dorongan kuat mulai dari perancangan kebijakan hingga eksekusinya.

Dari Kedaulatan Teknologi hingga Strategi Ekspor... Mencerminkan Pandangan 'AI adalah Kekuatan Nasional'
Strategi AI pemerintahan Lee Jae-myung mengandung filosofi mengamankan kedaulatan di era digital, melampaui sekadar promosi industri. Pemerintah berencana untuk membangun pusat data AI dan klaster komputasi berkecepatan tinggi berskala nasional dengan mengamankan 50.000 GPU berperforma tinggi. Pada saat yang sama, pemerintah akan memulai pengembangan NPU (Neural Processing Unit) khusus AI untuk membangun landasan kemandirian dari infrastruktur komputasi yang merupakan inti dari kedaulatan teknologi.
Dukungan langsung dari pemerintah untuk infrastruktur AI telah lama menjadi permintaan dari kalangan industri. Saat masih di sektor swasta, Dr. Ha berulang kali menekankan bahwa ekosistem AI akan sulit bersaing dengan perusahaan teknologi raksasa global jika hanya mengandalkan perusahaan secara mandiri. Terkait kekhawatiran bahwa sumber daya komputasi mahal seperti GPU hanya akan terpusat pada perusahaan tertentu, Dr. Ha tetap berpegang pada pendirian bahwa "pemerintah dapat menjamin distribusi yang adil dan pemanfaatan transparan berbasis aset negara." Orientasinya bukan pada monopoli segelintir perusahaan besar, melainkan pada pembagian hasil open-source dan perluasan ekosistem oleh perusahaan-perusahaan berkelas nasional.
Pemerintahan Lee Jae-myung mewujudkan janji kampanye ‘AI untuk Semua’ melalui langkah-langkah konkret. Pemerintah telah berjanji untuk menyediakan ChatGPT versi Korea secara gratis kepada masyarakat dan mendukung penggunaan AI oleh siapa saja di bidang pendidikan, administrasi, dan industri. Membangun lingkungan bagi sektor swasta untuk melakukan verifikasi dan komersialisasi melalui perluasan zona khusus AI, penataan sandbox regulasi, serta penyediaan legislasi khusus AI juga menjadi pilar utama.
‘Sovereign AI’, Bukan Sekadar Teknologi Melainkan Strategi Nasional... Akankah Muncul sebagai Produk Ekspor Global?
Strategi ‘Sovereign AI (AI Berdaulat)’ yang telah lama ditekankan oleh Dr. Ha juga tampaknya akan menyatu secara alami ke dalam kebijakan pemerintah. Sovereign AI adalah konsep pengembangan dan pengoperasian AI secara mandiri yang mampu memahami serta mencerminkan bahasa, budaya, sistem, dan nilai-nilai sebuah negara. Ini bukan sekadar berarti kemandirian teknologi, melainkan upaya untuk mengatasi bias budaya dan masalah kesalahan informasi yang sering ditampilkan oleh model AI yang didominasi oleh perusahaan platform global.
Sebagai contoh, di masa lalu, LLM asing sering melakukan kesalahan akibat kurangnya pemahaman budaya, seperti menyebut Laut Timur sebagai ‘Laut Jepang’ atau memberikan penjelasan yang salah mengenai karya seni Korea. Masalah ini bukan sekadar insiden kecil, tetapi dapat berujung pada distorsi informasi yang dipelajari, dan pada akhirnya berakibat pada kesalahpahaman terhadap sejarah, budaya, dan hukum suatu negara.
Dr. Ha telah mengakui Sovereign AI sebagai tantangan global, bukan hanya tantangan bagi Korea, dalam berbagai wawancara media. Faktanya, negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Jepang sudah memulai pengembangan AI versi domestik mereka, sementara Kanada dan Italia sedang membangun ekosistem Sovereign AI dengan mendukung perusahaan rintisan dan mitra teknologi secara langsung oleh negara. Korea juga telah mengekspor Sovereign AI ke Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Eropa, di mana Naver mulai memperluas kerja sama ekspor secara serius yang diawali dengan Arab Saudi dan Filipina. Dr. Ha memandang strategi ini bisa menjadi "solusi terhadap neokolonialisme di era digital."
Bukan Teknologi, Melainkan Eksekusi yang Jadi Kunci... Mungkinkah 'AI ala Korea' Mapan?
Dari sisi persaingan teknologi, Dr. Ha dikenal lebih mengutamakan kemampuan implementasi fungsi dan layanan daripada obsesi berlebihan terhadap teknologi itu sendiri. Penjelasannya adalah bahwa kemampuan untuk mengejar arus teknologi yang sudah ada dengan cepat dan menghubungkannya dengan layanan yang sukses jauh lebih penting daripada obsesi harus mengembangkan teknologi revolusioner di Korea.
Faktanya, Naver—tempat Dr. Ha bernaung sebelumnya—telah berfokus pada penerapan teknologi AI ke dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengalaman berbasis platform, data pengguna, dan kemampuan operasional layanan. Hal ini sejalan dengan strategi ‘smart fast follow’ yang mengandalkan kegunaan dari sudut pandang pengguna sebagai senjata, alih-alih beradu langsung dengan perusahaan teknologi raksasa global yang mengandalkan modal besar.
Dorongan dari tingkat pemerintah juga mendukung hal ini. Melalui ‘Komite AI Nasional’ langsung di bawah Presiden dan sistem ‘CAIO (Chief AI Officer Nasional)’, pemerintah sedang membentuk pusat kendali kebijakan berskala nasional, serta menyiapkan landasan kelembagaan seperti Lembaga Keselamatan AI. Sistem ini diharapkan dapat memperkecil kesenjangan teknologi dalam waktu singkat dan berkontribusi dalam meningkatkan status ‘AI ala Korea’ di pasar global.