[비즈한국] Dengan dimulainya era Presiden Lee Jae-myung, yang menjadikan pengembangan wilayah yang seimbang sebagai janji kampanye utama, pemerintah daerah dan warga setempat kini menaruh perhatian besar pada apakah pemindahan gelombang kedua lembaga publik—yang sempat gagal di masa pemerintahan Moon Jae-in dan Yoon Suk-yeol—akan benar-benar terwujud. Pemindahan lembaga publik ke daerah yang dilakukan berdasarkan Undang-Undang Khusus Pengembangan Wilayah Seimbang pada masa pemerintahan Roh Moo-hyun telah menyasar 153 lembaga publik.

Berkat pemindahan lembaga publik yang rampung pada Desember 2019, sebanyak 51.700 pegawai kini bekerja di daerah. Meski demikian, karena hampir separuh lembaga publik masih berada di Seoul dan wilayah sekitarnya, tuntutan untuk melakukan pemindahan tambahan tetap tinggi. Namun, muncul kritik bahwa jika perbaikan infrastruktur pendidikan dan lingkungan tidak dibarengi dengan pemindahan tersebut, masalah kepunahan wilayah dan ketimpangan daerah mungkin tidak akan teratasi, mengingat banyak pegawai yang justru meninggalkan keluarganya di wilayah ibu kota.
Dalam pemilihan presiden kali ini, Presiden Lee menjanjikan pemindahan gelombang kedua lembaga publik sebagai poin ke-6 dari 10 janji kampanye utamanya, yakni 'Pengembangan Wilayah Seimbang melalui Kota Administratif Sejong dan lima zona super luas (wilayah ibu kota, tenggara, Daegyeong, tengah, dan Honam) serta tiga wilayah otonom khusus (Jeju, Gangwon, Jeonbuk)'. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa pemerintahan Moon Jae-in dan Yoon Suk-yeol sebelumnya berjanji melakukan pemindahan serupa namun tidak pernah terealisasi. Rencana pemerintahan Moon Jae-in terbengkalai akibat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, sementara rencana pemerintahan Yoon Suk-yeol tertunda berkali-kali karena pemilu 2024, hingga akhirnya kandas akibat darurat militer dan pemakzulan.
Saat ini, 153 lembaga publik yang pindah ke daerah adalah hasil dari rencana yang disusun pada masa pemerintahan Roh Moo-hyun dan diselesaikan sesuai cetak biru tersebut. Sesuai rencana, pemindahan 153 lembaga publik dimulai pada tahun 2010 dan selesai pada akhir 2019. Dari total lembaga tersebut, jumlah terbanyak pindah ke Kota Sejong, yakni 19 lembaga (4.073 orang) termasuk Korea Development Institute (KDI), sementara 22 lembaga (6.263 orang) pindah secara mandiri ke daerah seperti Osong atau Asan.
Sebanyak 112 lembaga lainnya menempati Kota Inovasi, dengan rincian: 13 lembaga di Busan termasuk Korea Housing Finance Corporation (3.262 orang), 9 lembaga di Ulsan termasuk Korea Workers' Compensation & Welfare Service (3.179 orang), 11 lembaga di Gyeongnam termasuk Korea Land and Housing Corporation (4.080 orang), 10 lembaga di Daegu termasuk Korea Appraisal Board (3.122 orang), 12 lembaga di Gyeongbuk termasuk Korea Expressway Corporation (5.561 orang), 16 lembaga di Gwangju dan Jeonnam termasuk Korea Rural Community Corporation (6.923 orang), 12 lembaga di Jeonbuk termasuk Rural Development Administration (5.300 orang), 11 lembaga di Chungbuk termasuk Korea Gas Safety Corporation (3.116 orang), 13 lembaga di Gangwon termasuk Korea Tourism Organization (6.118 orang), dan 6 lembaga di Jeju termasuk National Institute of Meteorological Sciences (703 orang).
Meskipun 51.700 pegawai dari 153 lembaga tersebut pindah ke daerah, data perubahan populasi justru menunjukkan bahwa pemusatan di wilayah ibu kota semakin parah. Menurut Statistik Korea, pada tahun 2010 saat pemindahan dimulai, populasi di wilayah ibu kota adalah 24.857.463 jiwa atau 49,2% dari total populasi. Namun pada 2019, saat pemindahan selesai, angkanya justru naik menjadi 25.925.799 jiwa dengan proporsi mencapai 50,0%. Tahun lalu, populasi di wilayah ibu kota meningkat lagi menjadi 26.047.523 jiwa, sehingga proporsinya meluas menjadi 50,9%.
Mengingat kekosongan di daerah terus berlanjut meski banyak lembaga telah dipindahkan, dan hampir separuh lembaga publik masih berada di wilayah ibu kota, pemerintah daerah terus menuntut adanya pemindahan tambahan. Per tahun 2025, berdasarkan UU Operasional Lembaga Publik, terdapat 331 lembaga publik, di mana 123 lembaga di antaranya berada di Seoul. Selain itu, terdapat 24 lembaga di Gyeonggi-do dan 7 lembaga di Incheon.
Namun, muncul kritik bahwa sekadar memindahkan lembaga publik tidak akan cukup untuk mewujudkan pengembangan seimbang atau revitalisasi daerah yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pegawai lembaga publik yang bekerja sendirian di daerah sementara keluarga mereka tetap tinggal di Seoul. Faktanya, tingkat kepindahan keluarga pegawai ke Kota Inovasi hanya mencapai 82,4% di Busan dan 82,1% di Jeju, sementara wilayah lain hanya berkisar di angka 70%, seperti Ulsan (71,5%), Daegu (70,9%), Gyeongnam (69,9%), dan Gangwon (68,6%). Khususnya untuk wilayah Gyeongbuk, tingkat kepindahan keluarga hanya 57,0%, dan di Chungbuk bahkan di bawah 50%, yaitu 49,4%.