[비즈한국] 'Seniman pelukis angin', Lee So, menggelar pameran tunggal. Pameran tunggal Lee So bertajuk 'Forest of Wind' (Hutan Angin) akan berlangsung hingga tanggal 22 mendatang di 8th Avenue Gallery yang terletak di depan Universitas Kyung Hee, Seoul. Pameran ini menampilkan sekitar 25 karya lukis, termasuk karya-karya terbaru, dengan fokus pada teknik lukisan intaglio khas sang seniman serta karya-karya yang menonjolkan minimalisme emosional.

Karya-karya Lee So adalah buah dari kerja keras yang terakumulasi melalui lapisan-lapisan waktu. Prosesnya melibatkan teknik mengukir di atas kanvas yang telah dilapisi bubuk batu tebal, kemudian menumpuk lapisan warna dan mengamplasnya berulang kali. Pada tahap penyelesaian, seluruh permukaan ditutupi dengan warna putih tipis. Di baliknya, tersimpan puluhan lapisan warna dan jejak. Seiring dengan arah cahaya, warna-warna tersebut muncul secara halus, menciptakan bentuk yang terlihat sederhana namun memiliki kepadatan tinggi. Saat pengunjung bergerak, pemandangan tersebut tampak seolah-olah bergerak tertiup angin.
Cara berekspresi ini merupakan upaya untuk memvisualisasikan 'angin yang tak terlihat' ke dalam bentuk seni di atas kanvas. Sekilas, lukisan ini tampak seperti seni minimalis yang tenang dan terkendali, namun jika diamati lebih dekat, jejak waktu dan emosi yang berlapis-lapis akan terlihat dengan hening. Karena waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu karya sangat panjang, proses tersebut bagi sang seniman merupakan momen kontemplasi. Sekaligus, momen penyembuhan.
Mengapa Lee So melukis 'angin'? Sang seniman sering berjalan-jalan di hutan untuk merasakan angin, dan dari sanalah ia mendapatkan inspirasi untuk berkarya. Angin itu bukan sekadar alam, melainkan menyerupai kenangan masa kecil, waktu saat sendirian, dan momen di mana kekhawatiran yang menumpuk tersapu bersih. Melalui angin tersebut, ia ingin menciptakan ruang di dalam hati bagi orang-orang untuk sejenak berhenti dan bernapas. Sang seniman berkata, "Saya berharap siapapun yang lelah dengan kehidupan sehari-hari dapat merasa lega dan beristirahat di dalam 'hutan angin' milik saya."


Lukisannya tidak mengklaim sesuatu secara agresif. Sebaliknya, karya tersebut membuat penikmatnya terdiam dan merenung. Karya ini memberikan perasaan kepada siapa pun yang melihatnya bahwa 'tidak apa-apa untuk beristirahat sejenak'.
'Forest of Wind' bukan sekadar reproduksi alam, melainkan lukisan yang mengakumulasi dan menyegarkan kenangan serta emosi. Di tengah eksperimen bentuk dan pengendalian rasa, sang seniman menunjukkan kemungkinan perluasan kontemporer dari abstraksi liris dan minimalisme emosional. Pameran ini mengundang pengunjung ke waktu seni yang tenang, di mana sensasi dan pemikiran saling bersinggungan.
Lee So menempuh pendidikan di bidang Seni Rupa di Université Paris 8 dan program pascasarjananya, serta berhasil masuk dalam seleksi pameran di Salon de Montrouge ke-47 di Prancis. Ia telah menggelar puluhan pameran tunggal maupun kelompok, serta menerbitkan buku seperti 'Museum Seni di Paris yang Dicintai Pelukis'. Saat ini, ia menjabat sebagai profesor khusus di Departemen Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa Universitas Suwon.