주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Proyek Dukungan Seni Korea Musim ke-11
Heo Chan - Imajinasi Kartun dalam Seni Lukis

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Proyek Dukungan Seni Korea, yang dimulai sebagai inisiatif murni untuk mendukung para seniman, telah berjalan selama 10 tahun. Dengan tetap teguh pada niat awal, proyek ini telah memberikan dukungan kepada lebih dari 230 seniman. Ini adalah upaya satu-satunya yang belum pernah dicoba oleh media, organisasi budaya, atau lembaga negara mana pun di Korea. Kami bangga bahwa ketekunan selama 10 tahun itu telah terukir sebagai sebuah nilai dalam dunia seni Korea abad ke-21. Oleh karena itu, muncul penilaian bahwa "sejarah 10 tahun Proyek Dukungan Seni Korea telah menjadi salah satu sudut pandang untuk mengamati arus seni kontemporer Korea." Kini, di Musim ke-11, kami berusaha untuk membuka jalan lain bagi seni Korea.

Seniman Heo Chan menunjukkan pendekatan baru dengan mengadopsi imajinasi kartun, yang merupakan inti dari animasi, sebagai bahasa ekspresi dalam seni lukis. Foto=Reporter Park Jung-hoon
Seniman Heo Chan menunjukkan pendekatan baru dengan mengadopsi imajinasi kartun, yang merupakan inti dari animasi, sebagai bahasa ekspresi dalam seni lukis. Foto=Reporter Park Jung-hoon

Kekuatan penggerak seni adalah imajinasi. Imajinasi yang ditampilkan oleh seni telah memperluas pemikiran umat manusia tanpa batas dan mencapai evolusi sains melalui hasil yang realistis. Bahwa peradaban manusia berkembang seperti sekarang ini dan meningkatkan kualitas hidup manusia, semuanya berkat imajinasi yang dibudidayakan oleh seni.

Secara tradisional, seni lukis telah menjadi pelopor dalam memperluas imajinasi. Namun, memasuki abad lalu, komik mulai menggantikan peran tersebut. Imajinasi kartun memberikan motif bagi berbagai perkembangan seni lainnya. Peran komik juga sangat besar dalam membuat film dan drama mencapai perkembangan inovatif seperti sekarang ini. Dunia imajinasi yang disediakan oleh komik kini sedang diwujudkan oleh kekuatan sains, dan tampaknya hal ini akan terus berlanjut.

Jepang adalah negara yang dengan kuat membangun bidang animasi berdasarkan imajinasi kartun. Robot manusia ‘Astro Boy’ (Atom) yang dirancang di Jepang pada tahun 1950-an, kini telah dikomersialkan dalam kenyataan.

Tetsujin 28-go: 50×40cm kertas seni matte berkualitas tinggi, bingkai hitam seni rupa
Tetsujin 28-go: 50×40cm kertas seni matte berkualitas tinggi, bingkai hitam seni rupa

Imajinasi kartun dari ‘Galaxy Express 999’, yang membayangkan kereta api yang melaju di ruang angkasa pada tahun 1970-an, telah meramalkan perjalanan luar angkasa yang kini baru saja dimulai. Manusia yang menggabungkan tubuh mekanis dan jiwa manusia yang muncul di dalamnya adalah imajinasi kartun yang memprediksi dunia AI yang saat ini menjadi perbincangan hangat.

Pemikiran bahwa komik diperlakukan sebagai seni murni dan menempati salah satu bidang seni kontemporer mungkin adalah hasil yang wajar. Yang menetapkan komik sebagai bahasa seni kontemporer adalah seni pop (pop art).

Seniman pop art Amerika memperhatikan komik yang menunjukkan kekuatan citra populer, dan menerima cara berbahasa komik sebagai salah satu metode seni kontemporer. Seniman yang paling mewakili adalah Roy Lichtenstein. Ia terinspirasi dari anak-anaknya yang tergila-gila pada kartun Disney, sehingga menciptakan teknik ekspresi kartun menjadi bahasa seni. Itu terjadi pada abad lalu.

Memasuki abad ke-21, teknik ekspresi kartun digunakan sebagai metodologi tidak hanya dalam pop art tetapi juga dalam seni lukis secara keseluruhan. Korea pun tidak terkecuali, dan seniman yang menjadi bintang di pasar seni dengan teknik kartun pun telah muncul.

Drum: 40×50cm kertas seni matte berkualitas tinggi, bingkai hitam seni rupa
Drum: 40×50cm kertas seni matte berkualitas tinggi, bingkai hitam seni rupa

Heo Chan, seorang seniman muda yang berprofesi di bidang animasi, juga merintis seni lukisnya dengan teknik kartun. Namun, ia menunjukkan langkah yang berbeda dari seniman lain yang hanya menggunakan metode kartun yang sudah ada sebagai teknik semata.

Ia tidak hanya berfokus pada pekerjaan melukis dengan teknik ekspresi kartun, tetapi menunjukkan upaya baru dengan mengadopsi imajinasi kartun, yang merupakan esensi dari animasi, sebagai bahasa ekspresi dalam seni lukis.

Seri perwakilannya, ‘Dino and Lion’, adalah karakter animasi yang dikembangkan oleh Heo Chan. Seri yang diekspresikan dengan garis dan warna sederhana ini secara jelas menunjukkan apa itu imajinasi kartun. Ia menggambarkan dunia fiksi di mana dinosaurus tidak punah tetapi berevolusi dan hidup sebagai hewan tingkat tinggi seperti manusia. Ia mengungkapkan situasi seperti berkemah atau bepergian dengan memelihara singa sebagai hewan peliharaan menggunakan gaya bahasanya sendiri. Itulah alasan mengapa karya Heo Chan, yang merintis imajinasi kartun sebagai bahasa seni lukis, mendapatkan perhatian.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
전준엽 화가·비즈한국 아트에디터
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지