주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Proyek Dukungan Seni Korea Musim ke-11
Kim Ho-seong - Membuat Realitas Seperti Virtual, dan Virtual Seperti Realitas

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Proyek Dukungan Seni Korea, yang dimulai sebagai inisiatif untuk mendukung seniman secara penuh, telah berjalan selama 10 tahun. Dengan tetap menjaga niat awal, kami telah mendukung sekitar 230 seniman. Ini adalah upaya unik yang belum pernah dicoba oleh media, organisasi budaya, atau lembaga negara mana pun di Korea. Kami bangga bahwa kegigihan selama 10 tahun tersebut telah terukir sebagai sebuah nilai dalam dunia seni Korea abad ke-21. Oleh karena itu, kami dinilai telah menciptakan 'titik pandang untuk mengamati arus seni kontemporer Korea melalui sejarah 10 tahun Proyek Dukungan Seni Korea'. Kini, di musim ke-11, kami akan merintis jalan baru bagi seni Korea.

김호성 작가는 사진 작업으로 가상현실의 의미와 현실을 접목한다. 사진=박정훈 기자
Seniman Kim Ho-seong memadukan makna realitas virtual dengan realitas melalui karya fotografi. Foto=Reporter Park Jung-hoon

Salah satu topik diskusi lama dalam filsafat Timur adalah 'Hojupjimong'. Sering disebut sebagai 'Mimpi Zhuangzi'.

Suatu ketika, Zhuang Zhou bermimpi menjadi seekor kupu-kupu.

Sambil terbang ke sana kemari dengan riang sebagai kupu-kupu,

ia tidak menyadari bahwa dirinya adalah Zhuang Zhou.

Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mendapati dirinya benar-benar Zhuang Zhou.

Apakah Zhuang Zhou yang bermimpi menjadi kupu-kupu?

Ataukah kupu-kupu yang bermimpi menjadi Zhuang Zhou?

Meskipun secara lahiriah ada perbedaan antara Zhuang Zhou dan kupu-kupu,

itu bukanlah perubahan yang mutlak.

Perubahan seperti ini disebut perubahan segala sesuatu.

Memikirkan di mana keberadaan diri sendiri antara mimpi dan realitas telah lama menjadi tema seni. Hal ini dikarenakan meski tubuh berada di dunia nyata, pikiran sering kali tertuju pada mimpi. Oleh karena itu, mimpi menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman, dan masih demikian hingga saat ini.

Mimpi bisa dianggap sebagai realitas virtual. Oleh karena itu, dalam seni sepanjang zaman di Timur dan Barat, mimpi telah diangkat sebagai subjek penting dan menghasilkan banyak karya agung. Di antara karya-karya bertema realitas virtual, yang paling akrab bagi kita adalah 'Mongyu Dowondo' (Lukisan Mimpi di Taman Persik) karya An Gyeon yang muncul di bab pertama sejarah lukisan Joseon.

F1406: 75×100cm Pigmentprint 2014
F1406: 75×100cm Pigmentprint 2014

An Gyeon, yang disebut sebagai pelukis terbaik awal Joseon, konon melukis gambar ini hanya dalam waktu 3 hari setelah diminta oleh pelindungnya, Pangeran Anpyeong, untuk menggambarkan isi mimpinya. Mimpi seperti apa itu? Berdasarkan catatan, kisahnya adalah sebagai berikut.

Pangeran Anpyeong bersama teman-temannya menyusuri aliran air tempat kelopak bunga persik hanyut, hingga mereka sampai di gunung dan bukit yang terjal. Setelah melewati pegunungan tinggi yang terdiri dari bebatuan aneh, muncul sebuah desa yang nyaman dengan bunga persik yang bermekaran. Di sana tidak ada orang, hanya rumah kosong dan perahu kosong. Itulah tempat di mana ia melihat Utopia dalam mimpinya.

Lantas, di manakah Utopia yang diimpikan Pangeran Anpyeong? Ia adalah pangeran bernasib malang yang lahir sebagai putra ketiga Raja Sejong dan menjadi korban setelah berselisih dengan kakaknya, Pangeran Suyang (Raja Sejo). Mungkinkah itu adalah ambisi politik yang disamarkan oleh kegiatan seni?

Dalam seni Barat, aliran yang menjadikan mimpi sebagai subjek artistik adalah surealisme. Surealisme memperluas cakrawala seni kontemporer dengan mengungkapkan dunia imajinasi yang mustahil di dunia nyata ke dalam berbagai realitas virtual dalam mimpi.

AI Homeless03: 15×20cm Pigmentprint 2025
AI Homeless03: 15×20cm Pigmentprint 2025

Seniman Kim Ho-seong memadukan makna realitas virtual dengan realitas melalui karya fotografi. Objek yang ia sasar adalah dunia internet yang terdiri dari realitas virtual. Dari internet yang penuh dengan gambar tanpa batas, ia mengumpulkan dan menafsirkan kembali gambar yang sesuai dengan niatnya.

Ia juga menyusun gambar baru menggunakan kecerdasan buatan (AI), yang kini populer sebagai bahasa ekspresi seni baru di abad ke-21. Ini adalah upaya untuk memberikan kesan realitas pada dunia virtual; meskipun terlihat seperti realitas dari Google Street View, itu adalah gambar virtual. Selain itu, ia juga mengambil figur dari gambar jalanan yang nyata di internet dan menciptakannya kembali menjadi gambar yang tampak samar.

Melalui cara ini, ia mengekspresikan realitas seolah-olah virtual, dan realitas virtual seolah-olah nyata. Ini bisa dibilang sebagai karya bersifat konseptual yang mengungkapkan 'Mimpi Zhuangzi' dalam bahasa internet era ini.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
전준엽 화가·비즈한국 아트에디터
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지