[비즈한국] Pada tahun 2008, Wirye New Town dikembangkan dengan ambisi besar sebagai hunian inti di wilayah selatan ibu kota. Langkah perbaikan transportasi kawasan yang diumumkan saat itu mengusung rencana poros transportasi terintegrasi yang menghubungkan Wirye dengan Seoul, Gwacheon, dan Bundang, dengan dua jaringan kereta api sebagai pusatnya: 'Garis Wirye-Gwacheon' dan 'Garis Wirye-Sinsa'. Para penduduk percaya dan membayar biaya kontribusi transportasi kawasan yang sangat besar. Pemerintah Kota Seoul berjanji, dan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi membuat rencana.

Namun, realitas apa yang kita hadapi di tahun 2025? Garis Wirye-Gwacheon bahkan tidak melintasi Wirye New Town sama sekali, dan untuk Garis Wirye-Sinsa, investor swasta telah menarik diri karena alasan rendahnya kelayakan bisnis. Meskipun Pemerintah Kota Seoul menyatakan akan mengubahnya menjadi proyek fiskal, kelulusan studi kelayakan awal (pre-feasibility study) yang cepat pun tidak dapat dijamin. Wajar jika warga marah melihat jaringan transportasi inti kota baru ini 'dilewati' begitu saja. Ke mana perginya janji 17 tahun lalu?
Jika Walikota Seoul, Gubernur Gyeonggi, dan Kementerian Pertanahan Tidak Bertanggung Jawab, Lalu Kepada Siapa?
Tanggung jawab atas masalah ini harus dipertanyakan dengan tegas. Wirye adalah wilayah administratif kompleks yang melibatkan Distrik Songpa di Seoul, serta Kota Seongnam, Kota Hanam, dan Kota Gwacheon. Namun, Walikota Seoul dan Gubernur Gyeonggi yang membawahi wilayah ini tidak pernah secara aktif mengajukan tinjauan menyeluruh atau alternatif untuk jaringan kereta tersebut. Sebaliknya, ketika proyek ini terombang-ambing, mereka hanya mengulang alasan bahwa "ekonominya kurang" atau "itu tanggung jawab pemerintah pusat".
Namun, saya ingin bertanya. Apakah posisi Walikota Seoul hanya sekadar mengelola kendaraan pembersih jalan di balai kota? Apakah posisi Gubernur Gyeonggi hanya sekadar menggunakan wewenang personalia pegawai pemerintah provinsi?
Membangun jaringan transportasi yang menentukan kehidupan dan waktu perjalanan jutaan warga adalah ujian di mana pemerintah daerah dapat menunjukkan kepemimpinan sejati. Namun, sejauh ini belum ada satu pun kepala daerah di wilayah tersebut yang menjadikan masalah ini sebagai pertaruhan politik mereka atau menunjukkan kepemimpinan untuk 'mendobrak' jalan keluar.
Kenaikan Biaya Konstruksi? Kurangnya Permintaan? Banyak Alasan, Tapi Solusinya Adalah Berhenti Bersikap Apatis
Alasan Pemerintah Kota Seoul dan Kementerian Pertanahan mengubah Garis Wirye-Sinsa dari investasi swasta menjadi proyek fiskal sangat sederhana. Kurang dana dan rendahnya kelayakan bisnis. Namun, ini adalah distorsi terhadap esensi masalah. Hanya karena Garis Wirye-Sinsa memiliki keuntungan rendah, bukan berarti kebutuhannya hilang. Yang lebih penting daripada keuntungan adalah kepentingan publik, dan fakta bahwa jalur ini berhubungan langsung dengan kualitas hidup ratusan ribu warga wilayah ibu kota.
Kurangnya permintaan juga hanyalah alasan. Wirye adalah salah satu wilayah dengan tingkat masuknya generasi termuda di wilayah ibu kota, dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan potensi pertumbuhan yang cukup. Masalahnya, infrastruktur transportasi saat ini tidak mendukung, sehingga fasilitas komersial, efek kedekatan tempat kerja dengan hunian, dan aksesibilitas pendidikan semuanya menurun. Tujuan kebijakan seharusnya adalah meningkatkan permintaan, bukan logika bahwa "karena permintaan kurang, maka kereta api juga dibatalkan"—itu hanyalah bentuk rasionalisasi ketidakmampuan diri.
Jaringan Kereta Regional Adalah Ujian yang Mengungkap Visi, Tanggung Jawab, dan Kemampuan Seorang Politisi
Perencanaan kota dilakukan per 10 tahun, dan jaringan kereta regional direncanakan per 20 tahun. Meskipun rezim berganti beberapa kali, kehidupan warga harus terus berjalan. Namun, jaringan kereta yang terkait dengan Wirye hanya menyisakan nama dan jejaknya menghilang setiap kali rezim berganti. Garis Wirye-Sinsa awalnya direncanakan terhubung hingga Yongsan tetapi dipangkas hingga Sinsa, dan Garis Wirye-Gwacheon, yang namanya 'Wirye' kini tidak lagi relevan, justru tidak melewati Wirye New Town.
Sampai di sini, warga bertanya: "Wirye New Town ini kota milik siapa?"
Pemerintah berkuasa untuk bertanggung jawab atas kehidupan warga. Jika proyek nasional hanya dinilai berdasarkan kelayakan bisnis, maka Jalur 1 Kereta Bawah Tanah Seoul tidak akan pernah ada sejak awal. Jaringan transportasi seperti kereta bawah tanah, kereta regional, GTX, dan BRT harus dinilai dari perspektif strategi jangka panjang dan pembangunan nasional yang seimbang, bukan sekadar keuntungan jangka pendek.
Jika Ingin Membicarakan Mimpi Menuju Kursi Presiden, Uruslah Wilayah Anda Terlebih Dahulu!
Belakangan ini, Walikota Seoul dan Gubernur Gyeonggi sering disebut-sebut sebagai calon presiden. Namun, saya tidak bisa tidak bertanya balik. Bagaimana kalian akan berpolitik untuk 50 juta rakyat jika masalah Garis Wirye-Sinsa dan Wirye-Gwacheon saja tidak bisa diselesaikan?
Alasan mengapa mantan Presiden Lee Myung-bak bisa memulai dari walikota hingga menjadi presiden sangat sederhana. Itu karena saat menjadi Walikota Seoul, beliau membangun 'citra pekerja keras yang gigih'. Karena adanya perbaikan nyata dalam kehidupan warga, seperti dorongan pembangunan kota baru, pemulihan Cheonggyecheon, dan jalur khusus bus, rakyat percaya bahwa visinya adalah 'kemampuan eksekusi'.
Namun, bagaimana dengan kepala daerah wilayah ibu kota saat ini? Mereka hanya melemparkan tanggung jawab ke pemerintah pusat, melakukan administrasi pasif yang hanya bergantung pada hasil studi kelayakan, dan hanya mengulang bahasa birokrasi seperti "sedang meninjau alternatif" saat warga merasa tidak nyaman. Jika seseorang yang ingin menjadi presiden hanya sampai di tingkat ini, kita tidak punya alasan untuk memilihnya.
Pemilih di Wilayah Ibu Kota Memilih Berdasarkan Jaringan Transportasi!
Pemilih di wilayah ibu kota tidak lagi memberikan suara hanya karena pidato politik atau citra. "Apakah perjalanan saya ke tempat kerja membaik?", "Apakah lingkungan pendidikan anak saya membaik?", "Apakah lingkungan sekitar saya menjadi lebih baik?" Jika ketiga hal ini tidak membaik, pemilih pasti akan mengevaluasi melalui suara mereka di pemilihan presiden berikutnya.
Hingga tahun 2025 ini, Garis Wirye-Gwacheon dan Wirye-Sinsa telah menjadi batu ujiannya. Wirye, khususnya, adalah zona politik inti di mana Songpa (Seoul), Hanam, Seongnam, dan Gwacheon (Gyeonggi) bertemu. Politisi yang kehilangan kepercayaan di sini akan kehilangan kepercayaan di seluruh negeri. Jika membidik kursi presiden, selesaikanlah jalur ini sekarang.
Perlunya Membentuk Badan Konsultasi Bersama Wilayah Ibu Kota
Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan upaya satu pihak, baik Seoul maupun Seongnam saja. Mulai sekarang, harus dibentuk 'Komite Khusus Transportasi Wirye', dan harus dibentuk badan konsultasi bersama untuk jaringan kereta wilayah ibu kota yang melibatkan Pemerintah Kota Seoul, Kota Seongnam, Kota Hanam, Kota Gwacheon, dan Kementerian Pertanahan secara bersama-sama.
Saya berharap berbagai metode dapat diusulkan secara konkret, seperti penyesuaian kembali rute Garis Wirye-Gwacheon (melewati pusat Wirye), pengungkapan skenario rute alternatif dan suplemen studi kelayakan untuk Garis Wirye-Sinsa, pengungkapan penuh rincian penggunaan biaya kontribusi Wirye New Town untuk menjamin transparansi, serta peninjauan pembentukan dana transportasi bersama antara Seoul dan Gyeonggi.
Mulai sekarang, mereka harus bertindak secara bertanggung jawab. Jangan berdalih tentang masa lalu, diperlukan politik yang berkomunikasi dengan warga dan mengatur ulang prioritas mulai saat ini.
Transportasi Adalah Kekuasaan. Tanpa Kemampuan, Tidak Ada Suara!
Wirye New Town bukan sekadar kota dengan pasar properti yang panas. Banyak pasangan muda, pekerja kantoran, dan anak-anak sedang merancang masa depan di sini. Namun, neraka transportasi yang berlangsung selama 17 tahun kini telah menjadi 'neraka politik'.
Transportasi adalah kekuasaan. Politik yang membuang-buang waktu dan nafkah warga sudah sepantasnya dihakimi dalam pemilihan. Siapa pun yang mempersiapkan diri untuk pemilihan presiden tahun depan, selesaikanlah jaringan transportasi Wirye terlebih dahulu. Itulah yang akan menjadi kualifikasi bagi seorang pemimpin politik yang kompeten.
Kim Hak-ryeol, Kepala Lembaga Riset Properti Smart Tube yang dikenal dengan nama pena 'Pachong', pernah menjabat sebagai ketua tim di Markas Besar Riset Properti Korea Gallup. Ia mengelola dan memandu blog Naver 'Catatan Penjelajahan Dunia Pachong' dan YouTube 'Stue TV'. Buku-buku karyanya antara lain 'Kekuatan Properti Gyeonggi (2024)', 'Prinsip Mutlak Properti Seoul (2023)', 'Masa Depan Properti Incheon (2022)', 'Prinsip Mutlak Investasi Properti Kim Hak-ryeol (2022)', 'Peta Masa Depan Properti Korea (2021)', 'Mulai Sekarang Hanya Tempat yang Naik yang Akan Naik (2020)', dan 'Panduan Penggunaan Properti Korea (2020)'.