[비즈한국] Mata dan telinga para pakar militer di seluruh dunia kini tertuju pada pertempuran udara antara India dan Pakistan. Operasi militer yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 11 Mei 2025 ini sebagian besar dilakukan dengan mengandalkan kekuatan udara, dan di antaranya, klaim bahwa jet tempur Rafale buatan Dassault, Prancis, ditembak jatuh oleh rudal PL-15E buatan Tiongkok yang ditembakkan dari jet tempur J-10CE milik AVIC, Tiongkok, tengah mendapat perhatian besar.
Meskipun diperlukan waktu untuk mengetahui kebenaran yang pasti, faktanya reruntuhan pesawat Rafale F3R unit nomor 1 milik Angkatan Udara India telah ditemukan, dan reruntuhan rudal udara-ke-udara jarak menengah PL-15E buatan Tiongkok juga telah dikonfirmasi keberadaannya. Meskipun jumlah tepat pesawat yang ditembak jatuh atau detail taktisnya belum jelas, 'insiden penembakan jatuh Rafale' itu sendiri tampaknya merupakan fakta.

Ada dua alasan utama mengapa insiden ini menarik perhatian dunia. Pertama adalah fakta bahwa senjata buatan Tiongkok selama ini dinilai kurang dihargai, dan kedua adalah fakta bahwa teknologi sains militer Prancis selama ini dianggap sebagai yang terbaik di dunia. Berita bahwa jet tempur termahal di dunia seharga lebih dari 150 miliar won per unit ditembak jatuh oleh jet tempur Tiongkok yang jauh lebih murah telah memicu banjir video sorak-sorai dari netizen Tiongkok di media sosial.
Namun, kebenaran dari insiden ini lebih kompleks. Dua fakta terkonfirmasi yang harus kita perhatikan dengan baik menunjukkan betapa rumitnya pertempuran udara modern dan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh performa jet tempur semata.
Pertama, kesenjangan informasi menjadi faktor penentu dalam pertempuran kali ini. Jet tempur Rafale milik Angkatan Udara India dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik (EW Suite) bernama Spectra yang mampu mendeteksi bidikan rudal atau pesawat tempur musuh, namun kali ini mereka melewatkan deteksi dan waktu menghindar. Mereka gagal melakukan deteksi dini.
Di sisi lain, Angkatan Udara Pakistan menyatakan dalam pengumuman pasca-pertempuran bahwa dari sejumlah pesawat yang dikerahkan oleh Angkatan Udara India, mereka secara akurat memilih dan menyerang Rafale. Dikabarkan bahwa mereka bahkan menyadap komunikasi suara pilot Rafale dan mengetahui call sign yang digunakannya sebelum menyerang.
Kedua, meskipun Pakistan memiliki keunggulan informasi, sejumlah rudal PL-15E gagal meledak atau tidak mengenai target. Setidaknya dua rudal jatuh di dalam wilayah perbatasan India, dan jumlah peluncuran yang tepat serta tingkat keberhasilan target belum dikonfirmasi. Hal ini menunjukkan situasi di mana jet tempur Pakistan melakukan tembakan prediksi yang agak terburu-buru tanpa mendapatkan posisi pasti dari Rafale.
Jika kita menggabungkan dua fakta ini, pemain utama yang sebenarnya dalam pertempuran udara ini adalah **pesawat peringatan dini (AEW)** dan **tautan data taktis (TDL)**. Jet tempur J-10CE Pakistan melakukan tembakan prediksi dengan menerima informasi dari luar tanpa keyakinan penuh akan mengenai target, yang menyebabkan banyak rudal meleset namun sebagian bekerja secara efektif.
Pesawat peringatan dini yang digunakan Pakistan bukanlah ZDK-03 buatan Tiongkok, melainkan SAAB 2000 Erieye buatan SAAB, Swedia. Pesawat peringatan dini ini dilengkapi dengan peralatan pengumpulan informasi elektronik dan dukungan elektronik (ELINT/ESM) bernama HES-21, yang berperan penting dalam menganalisis sinyal radio jet tempur musuh dan mengidentifikasi Rafale.
Bahkan setelah mendeteksi musuh melalui pesawat peringatan dini, jet tempur tidak serta merta menembakkan rudal. Hal ini karena rudal angkatan udara modern tidak ditembakkan hanya melalui perintah radio sederhana. Pakistan tampaknya menyampaikan informasi yang dikumpulkan dari pesawat peringatan dini Erieye ke jet tempur melalui tautan data taktis tanpa suara, dan inilah perbedaan besar dengan Angkatan Udara India. Angkatan Udara India juga mengoperasikan pesawat peringatan dini, namun pembangunan tautan data taktis mereka diketahui belum memadai.
Faktanya, pada tanggal 10 Mei, India menyerang pesawat peringatan dini Erieye di Pangkalan Udara Bholari, Pakistan, dengan rudal jelajah BrahMos yang ditembakkan dari jet tempur Su-30MKI. Ini menyiratkan bahwa India menganggap objek pembalasan atas penembakan jatuh Rafale bukanlah jet tempur buatan Tiongkok, melainkan pesawat peringatan dini buatan Swedia.
Lantas, persiapan seperti apa yang dibutuhkan oleh jet tempur generasi berikutnya kita, KF-21?
Dua arah kebijakan sangatlah penting. Untungnya, keduanya adalah hal-hal yang sedang kita persiapkan.
Pertama adalah teknologi 'kamuflase', yaitu peralatan dan strategi untuk menyembunyikan KF-21 dari deteksi musuh. Jika KF-21 tidak tertangkap oleh radar musuh, atau jika tertangkap namun bisa menyembunyikan fakta bahwa itu adalah KF-21, maka kemampuan bertahan hidup akan meningkat secara drastis.
Rencana peningkatan masa depan KF-21 yang sedang didorong oleh KAI, yaitu 'NACS', mencakup kendaraan udara tak berawak (UAV) AI bernama AAP-150. UAV ini dapat terbang bersama KF-21 atau FA-50 dan juga berperan sebagai 'umpan' (decoy) yang meniru gelombang elektromagnetik. Pengerahan kekuatan secara cepat sangat mendesak. Pemasangan lensa Luneburg, peralatan yang menyembunyikan karakteristik gelombang elektromagnetik KF-21, juga diperlukan.
Kedua adalah mengamankan tautan data berbasis komunikasi satelit berkapasitas besar. KF-21 memang dilengkapi dengan tautan data seperti Link-16 dan Link-K, namun karena menggunakan metode pembagian waktu (TDMA), ada keterbatasan dalam membagikan posisi jet tempur yang bergerak dengan kecepatan supersonik secara waktu nyata (real-time).
Untungnya, pemerintah kita sedang mengembangkan teknologi komunikasi satelit berkapasitas besar melalui 'Proyek Pengembangan Sistem Komunikasi Satelit Orbit Rendah Berbasis Standar Internasional 6G'. Sangat penting untuk mencerminkan teknologi ini dalam peta jalan peningkatan performa KF-21 dan melaksanakannya tanpa hambatan.